eMGePuisi

18.5.19

Begini Saya Membayangkan Sebuah Kota


SAYA selalu membayangkan sebuah kota dengan ruang publik yang ramah bagi warganya serta menjadikannya sebagai wadah interaksi yang penuh nilai-nilai humanitas. 

Ruang publik itu bisa berupa sebuah taman kota atau lebih luar biasa lagi berupa hutan kota. Saya membayangkan taman atau hutan kota ini demikian rimbun oleh pepohonan yang dibelah oleh jalan setapak meliuk-liuk yanh di sisinya berjejer bangku-bangku tempat warga duduk. 

Di sana, saya membayangkan, warga bisa merasa nyaman melakukan aktifitas semisal membaca buku, bersepeda, joging atau sekadar menghabiskan waktu bersama keluarga. 

Bagi saya, sebuah kota adalah ‘rumah’ bagi warga penghuninya, Sebuah tempat kita bisa kembali mempertautkan diri dengan masa lalu serta memperteguh harapan akan masa depan. Sebuah tempat di mana akar sejarah eksistensi kita saling bertaut dengan lingkungan dan saling memberi ‘napas’ kemanusian. 

Saya teringat sebuah novel filsafat karya Albert Camus yang berjudul “Sampar”. Sebuah kisah tentang bagaimana kota perlahan-lahan redup dan kehilangan passion dari warga. Dengan memakai metafora penyakit sampar yang menyerang kota yang dia namakan Oran ini, Camus berbicara lirih tentang sebuah kota “tanpa pengucapan” lagi. Kota yang kehilangan ‘nyali’ menatap masa depan. 


Dari karya Camus ini, kita bisa menuai pelajaran penting bagaimana kota dibangun tanpa ‘membunuh’ jiwanya. (*)

12.5.19

Catatan Saya Tentang Calon Walikota Makassar UQ Sukriansyah


Kualitas Pemimpin yang Transformatif

KUALITAS hidup seseorang senantiasa ditandai dengan kemampuan orang tersebut, tidak saja membuat dirinya sukses, lebih dari itu, dia mampu membuat orang lain sukses. 

Banyak orang bisa menjadikan dirinya ‘orang besar’ -walau mungkin dengan jalan menghancurkan, menelikung orang lain atau pesaingnya. Namun hanya sedikit orang dengan kualitas pribadinya, mampu meletakkan diri sebagai sahabat, mentor pembimbing dan mitra secara bersamaan dalam membesarkan nama orang lain. 

Kualitas pribadi seperti inilah yang menonjol pada sosok Sukriansyah S. Latief. Lahir di Makassar, 30 Agustus 1969, pria yang sangat low profile karib disapa UQ ini memang menjadi jaminan mutu dalam membangun komunikasi jejaring individu maupun sosial sekaligus meletakkan basis kebersamaan untuk sebuah tujuan kemaslahan bersama. Tidak hanya berhenti di situ, sosok UQ juga demikian piawai dalam mengoordinasi, membangun strategi kerja tanpa orang lain merasa diarahkan atau diperintah. 

Salah satu yang sangat unik dalam talenta pribadi seorang UQ yang sangat jarang dimiliki tokoh lain adalah kepiawaiannya dalam memambangun visi, megindentifikasi sebuah persolaan sekaligus merumuskan tahapan-tahapan pemecahan masalah (problem solving). Lebih uniknya lagi, dalam proses tersebut, sosok UQ bahkan mampu turun langsung ke lapangan dan memberi teladan. 

Ramuan corak talenta pribadi inilah menjadikan sosok UQ dengan cepat melejit dalam setiap bidang profesi yang diamanahkan kepadanya. Diawali dengan karir sebagai jurnalis di Koran Fajar, menjadi korespondensi media bergensi seperti Majalah Tempo, korenpondensi Media Indonesia Minggu (MIM), Kepala Biro Majalah Forum Keadilan, hingga menjabat Staf Khusus Menteri Pertanian RI sekaligus menjadi Komisaris Pupuk Indonesia (sebuah perusahaan holding BUMN) yang membawahi BUMN-BUMN produsen pupuk yang sangat besar.

Di dunia pendidikan, sosok UQ juga merambah dengan menjadi dosen di Yayasan Pendidikan Fajar (Unifa) bahkan pernah tercatat sebagai dosen luar biasa Pasca Sarjana Universitas Hasanuddin (Unhas). 

Dalam dunia jurnalistik, sosok UQ memang terlihat mencorong. Di koran harian Fajar, sosok UQ punya nama besar. Meniti pekerjaan mulai sebagai reporter Fajar sejak kuliah di Fakultas Hukum Unhas, karir UQ dengan cepat membumbung hingga menjabat Pimpinan Redaksi (Pimpred). Dalam pucuk manajemen Fajar, dia juga pernah tercatat sebagai Direktur Umum hingga Direktur PT Media Fajar Holding. 

Publik banyak mengenal UQ memang sebagai seorang pekerja keras, namun yang jarang diketahui adalah dibalik sosoknya yang gesit, cepat dan pandangannya yang menjangkau jauh ke depan, sosok UQ merupakan figur dengan kemampuan koordinasi serta pemberi motivasi yang sangat kuat. 

Corak kepemimpinannya sangat berorientasi transformatif dan membuka ruang seluas-luasnya pada orang lain untuk menumbuhkan kreatifitas. Menjadikan bawahannya bukan sebagai anak buah tetapi sebagai mitra kerja membuat suasana kerja yang terbangun demikian nyaman. Dalam diskusi dan rapat-rapat kerja, UQ lebih banyak mendengar. Memberi kesempatan bawahannya mengeluarkan ide-ide terbaiknya dan diakhir pertemuan dia menyelaraskan dan menyinkronisasi semua ide tersebut sebagai program kerja bersama. 

Inilah yang menjadikan potensi konflik di ranah kerja nyaris tak ada. Tak ada saling sikut dan saling menjatuhkan di sana. Semuanya menjadi guyub dalam kerja bersama. Kemampuannya mengeliminir potensi konflik dengan gaya khas seorang mitra kerja memang demikian melekat pada sosok UQ. Setiap ada pergeseran jabatan atau mutasi di lingkungan kerja yang dipimpinnya sama sekali tak menimbulkan rasa sakit hati. Karena pendekatan yang dilakukannya memang terasa nyaman bahkan mampu dengan cepat menggerakkan roda sinergi kerja yang kuat. 

Pengalamannya sebagai Direktur SDM Harian Fajar menjadikan sosok UQ dan saat ini menjabat sebagai Staf Khusus Menteri Pertanian RI Bidang Kebijakan Publik, membuat UQ mampu menelisik jauh dan menyelaraskan antara potensi yang dimiliki seseorang dengan kebijakan kerja yang akan dituju. “Bila ingin membuat orang bekerja kenalilah potensi dan kecintaannya pada bidang tersebut dan selaraskan dengan model kebijakan yang dilandasi sikap ramah, santun sekaligus membangkitkan sense of belonging mereka. Niscaya kita akan menghasilkan kinerja yang dahsyat”, ujar UQ suatu ketika.


Kepemimpinan transformatif semacam ini memang sangat dibutuhkan di era perubahan adalah harga mati. Seorang pemimpin bukan lagi harus di depan memberi perintah yang kaku dan seenaknya mengambil putusan sendiri sehingga menimbulkan sakit hati bawahannya. Juga bukan berada di belakang yang mendorong bawahannya namun sembunyi ketika kebijakannya disoroti. Pemimpin transformatif adalah pemimpin yang menjadikan bawahannya sebagai mitra, ‘bergandengan tangan’ membentuk sinergi menuju tujuan bersama. (*)

Mengenal UQ Sukriansyah Lebih Dekat


SUATU ketika di sekitar tahun 2007, pintu rumah saya diketuk seseorang, ketika saya buka, seorang tetangga berdiri di hadapan saya sambil menggenggam sebuah telepon seluler (ponsel). Ia kemudian menyodorkan ponsel tersebut dan mengatakan seseorang ingin bicara.

Saya menerima ponsel itu, dari seberang terdengar suara. Ini suara Sukriansyah Latief atau sangat karib kita sapa UQ. Dia saudara, sahabat, mentor jurnalistik sekaligus bos saya di koran Fajar dulu. 

Memang sudah beberapa waktu di tahun tersebut saya mendadak hilang dari orbit pergaulan. Pertama, saya sedang sakit, kedua saya sedang dilanda krisis mental (mental breakdown) yang cukup parah di saat itu.

“Kamu kemana selama ini? Besok ke kantor”, ujarnya di telepon. 

Kesan pertama saat itu, UQ benar-benar ingin menemui saya. Pasalnya, karena saya tak punya ponsel, dia menelpon tetangga saya yang juga sepupunya, khusus untuk berbicara kepada saya.

Esoknya, kita bertemu di ruang kerjanya di Harian Fajar, tanpa bertanya ba dan bi atau bu, dia menyodori saya beberapa proyek penulisan buku. 

Untuk seorang 'pengangguran' seperti saya, tawaran seperti itu adalah ‘ledakan’ berkah yang dahsyat dari sebuah harapan. Suatu momen percampuran antara kegembiraan dan keharuan. 

Kisah ini adalah sepenggal cerita tentang sosok UQ. Sebuah pribadi yang khas dan mengagumkan, terutama untuk diri saya. Sosok yang senantiasa meletakkan diri sebagai ‘kran’ tempat mengalirnya pengembangan potensi sesorang. Kehadirannya juga senantiasa mencerahkan serta memancing lahirnyanya inspirasi. 

Bagi saya, satu yang sangat menonjol dan menjadi khas pribadi seorang UQ adalah kemampuannya membangun sinergi diantara berbagai kepentingan yang kerap berbenturan  serta kepiawaiannya merajuk kebersamaan dalam lintas pergaulan yang demikian luas. 


Banyak orang yang pernah merasakan pertolongan dan sentuhan kerja ‘tangan dingin’ seorang UQ. Dia memberi kita “kail” untuk terus berkembang, bukan memberi “ikan” yang terkesan sesaat. 

Talentanya dalam mengidentifikasi potensi seseorang adalah satu sifat yang menonjol dari sosok UQ. Begitu mengenal seseorang dia sudah mampu mengarahkan ke posisi kerja mana orang tersebut mampu berkinerja baik. Inilah talenta yang sangat jarang dimiliki seorang yang menduduki jabatan-jabatan strategis seperti UQ. (*)

30.4.19

Integritas


MARI bicara tentang integritas. Dalam bahasa sederhana, integritas adalah sebentuk sifat dan sikap yang meletakkan kejujuran menjadi suluh hidup seseorang dalam menyikapi setiap persoalan hidup. Namun tidak hanya berhenti dalam kejujuran semata, integritas juga memuat sifat keberanian dan keteguhan hati. Satunya ucapan dan perbuatan.

Sebenarnya, semua sifat itu telah lama menjadi nilai-nilai luhur yang agung dalam khasanah budaya Bugis-Makassar. 

Macca’, Lempu, Warani dan Getteng (pintar, lembut, berani dan teguh) merupakan pucuk tertinggi dari nilai-nilai yang menjadi mahkota sifat luhur Bugis-Makassar. Bila kristal-kristal nilai tersebut kita rangkum, maka akan menjulang dalam satu kata yakni; integrity. 

Tidak berhenti di sana, nilai-nilai integritas kemudian diselimuti oleh sebuah sifat yang biasa kita kenal dengan kata siri’ (malu). Rasa malu yang membentengi sifat integritas ini menjadikan manusia berada dalam level paripurna. Ini bisa kita bandingkan dengan nilai-nilai Islami yang menjadi penuntun jalan umat muslim yakni, amar ma’ruf, nahi mungkar. Semangat untuk berbuat kebaikan dan melawan kemungkaran. 

Bagaimanapun nilai-nilai integritas ini bukanlah sesuatu yang terberi (given) namun adalah sesuatu yang terus menjadi medan pergulatan jiwa seseorang. Menegakkan integritas dalam diri merupakan bagian dari pembelajaran kita untuk terus memperbaiki diri. Terus belajar dan terus mencoba melihat hidup tidak dalam zona hitam-putih. 


Nilai-nilai integritas adalah sebuah jembatan di mana kita meletakkan seluruh energi kehidupan kita dalam mengambil langkah keseharian dan meniti di jembatan tersebut dengan harapan tidak terpeleset di satu titik hidup. **

26.4.19

Epistemologi Badik


Sebilah badik* kau hunus dari rahim istrimu, di sinilah anak-anak kita menancapkan harga dirinya, menemukan laut tempat layar perahumu tak lagi menunjuk jalan pulang

Lalu engkau lirih menangis, Laki-laki tak boleh menangis, ucapmu pada diri sendiri, engkau seorang ayah dan segala nama tak lekang menyebutmu, tapi engkau tetap saja menangis pelan

Sebilah badik telah engkau selipkan ke pinggang anakmu, pergilah dan jangan menoleh lagi, biarkan gelombang memberimu nama dan bentangkan layar jauh pada kampung halaman

*badik = senjata tradisional Bugis-Makassar


Makassar, 2019

22.4.19

Antropologi Sebuah Dapur


Di dapurmu kuletakkan sebait puisi yang menjadi nasi goreng, sambel terasi dan letupan minyak tumis dan semangkuk kenangan tentang sebuah taman

Rupanya engkau tak di sana, hanya onggokan panci, baskom dan kompor yang telah menjadi bangkai. Lalu perlahan ku kubur mereka dengan rasa sepi yang mengigil.

Mungkin ini semacam pengembaraan yang percuma di dapurmu. Cinta kita telah dihanyutkan banjir tempat anak-anak berendam dalam masa depan. Dan kita hanya sebuah masa lalu


Makassar, 2019

14.4.19

Pilpres 2019, Jembatan Titian Diantara Populisme dan Visioner


PEMILIHAN PRESIDEN (Pilpres) 2019 tersisa menghitung jam. Hiruk pikuk kampanye dengan segala pernak-pernik yang mengiringinya mulai sayup seiring masuknya masa tenang. Dalam tahapan Pilpres, masa tenang mungkin dimaksudkan sebagai jeda waktu untuk melakukan refleksi (perenungan) mendalam untuk meneguhkan dan memantapkan pilihan. Barangkali pula masa tenang merupakan sebuah prosesi -meminjam istilah dalam seremoni pernikahan- adalah masa seseorang masuk dalam ‘pingitan’, semacam ruang untuk mempersiapkan dan mematangkan diri demi sebuah masa depan. 

Tapi di sini saya tak bermaksud mengulas filosofi ‘masa tenang’ dalam Pilpres. Namun mencoba meletakkan basis ‘permainan’ semiotika (tanda, simbol) yang tertangkap sepanjang kampanye Pilpres serta bagaimana para kandidat (Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi) beserta tim pemenangannya secara sadar atau tidak menampilkan ‘karakter, paradigma serta strategi dalam merebut simpati rakyat. 

Dalam paradigma besar ideologis dan corak berfikir -dan mungkin memang menjadi bagian dari strategi membangun brand politik-  kedua pasang kandidat Pilpres 2019 ini, kita menemukan dua belahan paradigma besar yang sangat bertolakbelakang dan menjadi fondasi dalam segala gerture maupun ucapan mereka. 

Pada Prabowo-Sandi kita menemukan ‘alam paradigma’ dengan tekanan kuat pada aliran populisme. Paradigma aliran politik ini senantiasa ditandai dengan ciri khas skeptimisme yang deras. Ideologi ini senantiasa mengambil jarak besar antara rakyat dan elit. Kepentingan rakyat senantiasa dilawankan dengan kepentingan elit. 

Dengan demikian, dalam setiap forum serta perjumpaannya dengan massa, Prabowo dan Sandi senantiasa menyemburkan kritikan bahwa rakyat diperlakukan tidak adil. Bahwa para elit politik selama ini telah ‘mengangkangi’ hak-hak rakyat. Bahwa rakyat harus bangkit melawan. Citra-citra populisme memang begitu kuat di sana. 

Dalam takaran tertentu, ideologi populisme selalu mencari dan membangun ruang-ruang konflik, baik itu dalam agama, ras dan suku. Politik identitas menjadi simbol paling mencorong dalam jejak ideologi populis ini. 

Fenomena gerakan ideologi polpulisme semacam ini memang sedang mengalami ‘naik daun’ dalam membangun kekuasaan baru di dunia saat ini. Sejak runtuhnya ideologi lama (komunisme, kapitalisme, sosialisme, liberalisme), bangkitnya politik identitas dijadikan semacam ‘makanan empuk’ bagi politisi dalam menaiki tangga kekuasaan. Ini juga sangat ditopang oleh revolusi informasi yang menjadikan politik semakin terpersonalisasi. 

Gerakan ideologi populisme bisa menjadi cara yang paling gampang dalam merebut kekuasaan ketika massa rakyat berada dalam ruang-ruang nir-kecerdasan politik. Membangun paradigma konflik dengan memakai isu-isu identitas, suku, agama dan ras sangat renyah ditelan oleh rakyat yang sedang mengalami sebuah zaman di mana basis penopang paradigma common sense-nya yang lama sedang ambruk dan belum menemukan cara pandang baru dalam melihat dinamika dunia. Bahkan di Amerika Serikat, yang merupakan rujukan demokrasi dunia, gerakan populisme ini bisa membawa kemenangan bagi Trump dalam Pilpres di sana.

Sedang pada Jokowi dan Ma’ruf Amin, populisme juga menjadi bagian yang cukup menonjol, namun peletakan personal branding mereka sebagai petahana (incumbent) lebih terlihat kuat. Di mana pun sosok petahana memang senantiasa memosisikan diri dalam pengucapan ruang-ruang politik hasil kerja yang telah dicapai. Titik fokus pada keberhasilan serta dibarengi dengan menumbuhkan harapan dan optimisme adalah hal yang terbaca di sana. 

Pada tataran ini, Jokowi dan Ma’ruf Amin meletakkan diri dalam ruang-ruang visioner seorang pemimpin. Melihat jauh ke depan dengan segala tantangan dan potensi hambatan yang bakal dihadapi. Dan untuk itu semua sikap optimis sangat diperlukan dan haparan rakyat menjadi daya rekat yang paling kuat. 


Di sinilah letak perbedaan yang paling mencolok antara Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandi. Di satu sisi Prabowo-Sandi membakar semangat perlawanan dengan memakai ideologi populisme dengan amunisi politik identitas sebagai basis merebut hati rakyat, sedangkan Jokowi-Ma’ruf mengedepankan sikap optimisme dengan landasan visi jauh ke depan tentang sebuah bangsa yang besar. Pesimisme dan optimisme berhadap-hadapan di sana. Dan rakyat kemudian disodori pilihan untuk menentukan masa depannya. ***