Puisi

7.11.20

Ini Cara Public Relation Menebar Semangat di Tengah Masa Krisis



SITUASI krisis seperti saat ini menjadi ujian paling berharga bagaimana lembaga kehumasan sebuah perusahan mampu mengimplementasikan strategi, kiat, taktik maupun model komunikasi yang selama ini dipelajari dari berbagai literatur dan pelatihan yang pernah dilakukan.


Wabah penyebaran virus corona (COVID 19) yang melanda dunia termasuk Indonesia benar-benar mengguncang, bukan saja sistem sosial kesehatan sebuah negara tapi juga dampaknya sangat memurukkan pergerakan ekonomi dan bisnis.

Krisis ini benar-benar luput dari prediksi baik pemerintahan maupun dunia usaha. Sebuah musibah yang datang tanpa memberi kita kesempatan menyusun langkah-langkah strategis untuk mengantisipasinya.

Dengan demikian mau tak mau lembaga kehumasan menjadi tumpuan paling penting dalam usahanya membangun ruang-ruang komunikasi yang punya dampak, paling tidak meminimalisir munculnya keresahan baik di internal maupun eksternal perusahaan.

Adapun langkah-langkah strategis dan taktis yang bisa diupayakan oleh lembaga kehumasan adalah:

Pertama, menyiapkan standar prosedur managemen crisis terkait komunikasi dan hubungan dengan publik, baik itu stakeholder maupun konsumen pelanggan.

Kedua, membentuk gugus tugas kehumasan untuk menyusun strategi komunikasi efektif saat-saat kritis.

Disinilah diperlukan sumber daya manusia yang handal, punya esensi kepekaan dan mampu menginventaris serta program agenda-agenda kegiatan ke depan yang dinilai bisa menenangkan serta membangun suasana optimis, baik di internal maupun eksternal perusahaan.

Ketiga, terus melakukan koordinasi dengan setiap bagian, unit serta top maganemen untuk merancang, melakukan konsultasi terkait semua potensi kemungkinan terburuk yang bisa terjadi.

Keempat, mengoptimalkan media sosial sebagai medium untuk terus mensosialisasikan kegiatan, membangun komunikasi optimis serta membuka ruang interaksi efektif dengan publik. (*)

30.9.20

Takdir Puisi


PADA
akhirnya setiap puisi memiliki dirinya sendiri. Seperti sebuah perahu di lautan tak bertepi, dia akan berlayar memenuhi takdirnya sendiri. Kehadiran sebuah puisi, dibaca atau pun tidak, terkenal atau hanya sekadar  terpojok dalam sunyi, adalah sebuah peristiwa. Sebuah momentum kehadiran yang bakal menghadapi prosesi tumbuh dalam dunia yang dibentuknya sendiri. Dia bisa hadir terus menerus dan berkembang dalam benak seseorang atau sebaliknya lenyap hilang dalam semesta kata-kata yang terus memborbardir keseharian kita.

Puisi adalah kehidupan itu sendiri. Dikehendaki lahirnya atau hanya sebagai coretan ‘haram’ yang tak selesai, puisi telah mempermaklumkan keberadaannya. Banyak orang mengira, puisi hanyalah teks bacaan yang akan musnah sekali orang selesai membacanya. Banyak orang yang ketika membaca sebuah puisi, hanya berusaha menelisik kandungan makna di balik teks yang tertera. Semua itu sah dan wajar saja. Sebuah puisi, diperlakukan apa saja tetaplah sebuah puisi. Kegagalannya tidak terletak pada bagaimana orang menafsirkan keberadaannya.

Kita tak akan pernah tahu, pada muara mana sebuah puisi menemukan lautnya. Dia akan terus mengalir dan membelah diri dalam berbagai interpretasi hermeneutika pembacanya (kalaupun ada yang membaca). Di sana demikian banyak pecahan tanda –semiotik- yang dikandungnya, walau dalam takdirnya dia tetap sendiri.

Banyak yang mengira, puisi tidak terlepas dari penyair yang membidani kelahirannya. Namun, dalam sifat asalinya, pusi adalah sebuah kehadiran yang melampaui sang penyair. Puisi memiliki takdirnya sendiri. Sebuah kehidupan yang demikian cair dan terus meleleh memecahkan diri dalam setiap perjuampaan dengan seorang pembaca. Puisi adalah kehidupan itu sendiri. Sebuah misteri yang demikian licin dalam ‘tangkap dan lepas, meminjam bait puisi Amir Hamzah. Sebuah puisi adalah kehidupan yang menubuatkan takdirnya sendiri. Kadang gemerlap di atas panggung pembacaan sajak yang gegap gempita, kadang di pojok sunyi yang terlupakan. (**)

18.9.20

Politisi


TERUS TERANG saya senantiasa menaruh kekaguman yang mewah pada seorang politisi. Bagi saya, sosok politisi adalah ‘pemangku kemaslahatan’ rakyat. Pada jari telunjuknya seluruh potensi kemungkinan rakyat menjadi lebih sejahterah berkerumun. Politisi adalah sebuah kerja mewakafkan diri untuk kemajuan masyarakat.


Lalu mengapa banyak yang mencibir pada profesi mulia ini? Mungkin sejarah memang terlalu kejam dalam menilai sosok politisi. Mungkin sejarah demikian gemar mencatat kekurangan profesi ini. Atau memang dalam rentang waktu yang membentang, sosok politisi semakin jauh dari rel idealisme yang pernah melahirkannya. Entahlah.

Memang saat ini kita bisa banyak bercerita tentang liuk liku kiprah politisi dalam sudut pandang beragam. Sebuah jagat yang kemudian meletakkannya sebagai public figure menjadikan sosok politisi seperti cermin yang demikian terbuka. Politisi kemudian tak ubahnya seperti selebriti. Di atas ‘panggung’ politisi lebih banyak memakai ‘topeng’ untuk meraih simpati publik. Jagat politik lalu menjelma drama yang lebih banyak menyembunyikan kebenaran.

Dengan demikian, cerita tentang politik bertumbuh jauh menyimpang dari harapan ibu kandung (baca: rakyat) yang melahirkannya. Di sana, yang tersuguhkan hanya perilaku yang ganjil. Kemaruk kekuasaan, keserakahan, saling sikut menghalalkan segala cara demi tercapainya tujuan pribadi atau kelompok adalah cerita keseharian dari aktivitas politisi. Ironisnya, semuanya dibungkus “demi kemaslahatan rakyat”.

Namun bagaimanapun keberadaan politisi sangat kita butuhkan. Kelahirannya adalah keniscayaan ketika interaksi manusia dipertemukan dalam dunia yang disebut ruang publik. Yang kita butuhkan saat ini adalah bagaimana mampu melahirkan sosok politisi yang berkualitas dan memang berpihak pada kemaslahatan rakyat. ***

27.8.20

Epilog di Sebuah Hotel


Telah kau ucapkan janji pada kekasihmu
“Tak ada yang lain. Tak ada. Bahkan jadi bayangan pun dia tak ada”
Hari itu malam turun sangat rendah
Kalian pun tersenyum manis. Begitu manis

Dengan kecupan ringan, kau terbangun dari tidur panjang
Sang pangeran dari masa lalu bertahta gemilang
Di atas kuda, Sang Pangeran menujuk masa depan yang terputus dari masa remaja

“Aku ini putri salju. Cinderella yang cantik”,
Dan kalian tertawa. Hujan pun membukus harapan
“Dia tak ada. Bayangannya pun tak ada”
Daun-daun berayun jatuh

Makassar, Maret 2020

21.8.20

Kalau Kita Sepakat


Kalau kita sepakat

Turunlah ke laut

Batu karang dan sobekan layar

Mencatat nama kita


Kalau kita sepakat

Gelombang jadi rumah

Di setiap senja

Kita jadi mempelai


“Tak adakah rindu mampu melarutkanmu ?”

Bentangan kaki langit jauh

Kita bakal hilang di ufuk itu


Makassar, Agustus 2020

16.8.20

Partitur yang Belum Selesai


Kau catat kematian pada daun-daun jatuh

Senja baru saja lewat dan sepi ini makin lapang
“Di mana kita rebahkan kenangan?”
Seekor angsa meninggalkan kolam

Kau catat kehilangan pada penanggalan
Rumah ini dahulu demikian semarak
“Di mana lagi kita menunjuk sebuah tawa?”
Cahaya bulan menyentuh kolam

Lalu seperti sebuah novel pendek
Kita hilang dalam huruf dan ingatan buram
Kita jatuh dalam bisu yang panjang

Makassar, Agustus 2020

14.8.20

Kematian


SETIDAKNYA ada dua profesi yang sering menjadikan kematian sebagai mata air gagasan dan tema pembicaraannya. Mereka adalah ulama (penceramah agama) dan penyair.

Pada ulama, kematian adalah setrifetal dari kehidupan. “Setiap mahkluk yang bernyawa pasti akan mati”, demikian sebuat ayat membunyikan sebuah kepastian. Dalam konteks ini, para ulama menjadi penyeru dan pengingat akan sebuah prosesi kehidupan. Kematian adalah ‘harga mati’ dan karenanya hidup harus diisi dengan nilai-nilai kebajikan yang telah diserukan dalam kitab suci.

Bagi ulama, kematian adalah sebuah tahapan menuju yang abadi. Sebuah proses kembali kepada sang pencipta. Di sana kematian juga adalah peringatan (alarm) bahwa hidup hanya sebuah kesementaraan semata. Dunia dan segala pernak-perniknya adalah ujian, screening dan cobaan apakah kita lulus. Punishment and reward ada di sana. Bila kita lulus maka kelanjutannya adalah surga dan bila gagal kita akan terjebak dalam pusaran neraka.

Sedangkan bagi penyair, kematian adalah sebuah lubang hitam (black hole) yang bakal menyedot kita dalam kemisterian yang tak bertepi. Bagi kebanyakan penyair, momen kematian adalah keterpesonaan puitik yang menggetarkan. Sebuah selaput sangat tipis yang memisahkan kita dengan kehidupan.

“Kematian demikian dekat”, kata penyair sufi Abdul Hadi MW. Memang dalam menyikapi kematian, ambiguitas penyair demikian mencolok. Kematian adalah ketika eksistensial seseorang tercerabut. Kematian adalah hilang, lenyap, pupus. Di sinilah banyak penyair ‘memberontaki’ takdir kematian yang pasti itu. Penyair Chairil Anwan bersungut “aku ingin hidup seribu tahun lagi”.

Namun di sisi lain, bagi seorang penyair, kematian juga adalah momen ketundukan yang membawa sebuah jiwa merunduk lirih. Sebuah kesementaraan yang meletakkan penyair dalam ruang-ruang tragedi yang kadang mereka rayakan dengan penerimaan bahwa prosesi ini adalah pengucapan liris dari hidup.

Kematian menjadi “ketak-relaan menerima segala tiba, karena kita ini "setipis itu atas debu”. Sebuah peristiwa yang pelan “berderai-derai sampai jauh”, kata Chairil Anwar. Dan kita akan menemuinya baik dengan cara meradang atau sebaliknya dengan kepasrahaan yang tragik. (**)