Puisi

16.2.20

Sartre dan Jiwa Merdeka



ANAK kecil itu melahap habis buku-buku filsafat Sokrates, Aristoteles, Plato, Karl Marx, Schopenhauer koleksi milik kakeknya. Rasa minder dan kesepian yang kesumat tanpa kawan bermain mengurungnya dalam lautan buku yang sejatinya merupakan bacaan yang berat untuk usianya.

Fisiknya yang lemah dan mata yang juling menjadikannya seorang anak kecil yang banyak menyimpan sifat paradoks. Sifat ‘amarah’ sekaligus sifat rendah diri yang kompleks menjadi dimensi pergulatan batin yang sulit untuk kita bayangkan.

Suatu kelak, ketika dewasa, kompleksitas dari jiwa yang inilah yang membawanya sebagai seorang filsuf yang sangat termahsyur dengan independensi serta keteguhannya pada sebuah keyakinan.

Namanya lengkapnya Jean Paul Sartre atau lebih karib disebut Sartre. Para teoritisi filsafat menyebutnya sebagai salah seorang filsuf yang memancangkan tiang filsafat eksistensialime, walau dalam beberapa kesempatan dia menolak dimasukkan di zona itu.

Satu statemennya yang paling terkenal adalah “Neraka Adalah Orang Lain”. Sangat dimaklumi mengapa dia mengawali sistem pemikirannya dengan kredo seperti itu karena bagi Sartre, orang lain adalah individu yang senantiasa ‘mengancam’ kebebasan yang diperjuangkannya. ‘Mata’ orang lain adalah pintu masuk dari keasingan yang memaksa tersebut. Eksistensi sejati sesorang kemudian digerogoti oleh kehadiran yang menindas, menguliti, menganalisa atau menilai diri kita, walau sebenarnya mereka tak tahu apa-apa tentang siapa kita sejatinya.

Kehadiran orang lain menjadi medan pertarungan dalam menegakkan keberadaan kita. Orang lain adalah sebuah zona belukar yang diasumsikan senantiasa bisa melenyapkan sifat independensi seseorang. Di sinilah Sartre bertemu dengan arus zaman yang saat itu memang tengah menggelak dengan kredo ‘manusia adalah pusat segala sesuatu’.

Di era ini gerakan eksistensialisme memang mendunia. Bahkan penyair besar Indonesia Chairil Anwar bisa dikatakan merupakan pemasok paling original gerakan eksitensialisme di Indonesia. Sajak ‘Aku’ merupakan penyataan paling menohok bagaimana eksistensialisme ‘meradang’ dalam dunia pemikiran dan kesusastraan Indonesia.

Dunia kesusastraan memang menjadi media komunikasi pengucapan pemikiran eksistelisme. Sartre pun sangat dekat dengan dunia sastra. Bahkan dia pernah dianugrahi sebagai pemenang penghargaan Nobel untuk kesusastraan.

Namun, Sartre memang sosok yang sangat independen. Dia menolak menerima penghargaan itu. Sosok yang sulit untuk ditemukan di era saat ini. (*)

9.2.20

Mikhail Bakunin


SOSOKNYA santun dan sangat ramah. Fisiknya seperti menyimpan kelembutan yang dalam. Namun pikirannya bagai gemuruh lava gunung berapi yang membikin banyak nyali ciut dibuatnya.

Namanya Mikhail Bakunin, sosok seorang revolusioner tulen hingga ke tulang sumsum dari Rusia. Sosok inilah yang dinilai memproklamirkan aliran Anarkisme dalam gerakan revolusi.

Namun saat ini banyak yang menyalahpahami teori gerakan anarkis yang dia gaungkan di era abad ke 19 lalu. Anarkisme, bagi Bakuinin adalah antitesis dari sebuah otoritarian kelembagaan kekuasaan yang bercorak elitis, baik itu negara, kerajaan, tsar atau apa pun wujudnya.

Gerakan revolusioner Bakunin memang banyak dicap sebagai sebuah utopia. Bahkan perseteruannya yang demikian mendalam dengan Karl Marx bersumber dari model pikiran yang sangat terbeda, walau sama-sama menentang penindasan kapitalisme borjuis.

Tafsir baru soal anarkisme yang dinilai sama sebangun dengan chaos dan tanpa aturan, barangkali tak pernah terbetik dalam benak Bakunin, karena perjuangannya yang murni adalah penentangan terhadap kelembagan yang menindas kaum jelata.

Di suatu ketika, dia bahkan meramalkan bahwa teori sejarah revolusi pertentangan kelas yang disodorkan Karl Marx akhirnya akan mengulang kembali terbentuknya kekuasaan elitisme oligarkis. Dan ramalan itu memang terwujud ketika revolusi bolshevik di Rusia menghasilkan negara diktatorial komunis yang bahkan sangat elitis.

Barangkali, Bakunin dengan anarkisme-nya memang sekadar sosialisme utopia. Semacam figur Robin hood yang mengalami nasib sial dan terus gagal. Namun setidaknya, sejarah mencatat kehadirannya dengan segala sikap empati serta keberpihakannya pada penindasan kaum marjinal terus mampu menjadi inspirasi. Dia sosok yang gagal dalam memperjuangkan apa yang menjadi keyakinannya, namun dia berhasil menorehkan seberkas cahaya keberpihakan yang tidak pupus oleh zaman. (*)

28.1.20

Gramsci


NAMA lengkapnya Antonio Gramsci. Dia hidup di zaman dentuman perang serta pekik heroisme dan romantisme ideologi perjuangan bergema hingga ke sudut-sudut dinding setiap bangsa -termasuk italia tempat Gramsci lahir dan menghabiskan umurnya.

Telah banyak yang tahu bagaimana pikiran-pikiran Gramsci mampu mengguncang jagat ideologi dunia. Dia seorang Marxis yang sangat kritis karena mampu membangun teorinya sendiri yang berbeda dengan Karl Marx. “Hegemoni” adalah kunci dari basis teori filsafat sejarah yang dibangun.

Berbeda dengan Karl Marx yang meletakkan faktor-faktor produksi dan ekonomi sebagai infrastruktur teratas dari teori materialisme sejarahnya, Gramsci justru menempatkan faktor budaya sebagai pucuk segala alur sejarah. Melalui kebudayaanlah, sejarah kelas pertentangan antara proletar dan borjuis berebut kekuasaan untuk menghegemoni.

Yang banyak dari kita tidak mengetahuinya adalah teori sejarah pertentangan kelas ini ditulis dalam penjara yang sempit dan kesehatan yang sangat buruk. Gramsci dalam sisi fisik memang benar-benar sangat rapuh. Tubuhnya ‘penuh’ dengan penyakit yang mematikan. Dia sosok yang terus berjuang melawan penyakitnya di penjara rezim fasis Italia hingga akhirnya harus menyerah kalah.

Terus terang, saya tak mampu membayangkan bagaimana seorang Gramsci mampu menuliskan teori besar di tengah kesakitan yang luar biasa itu. Diceritakan, dia kerap membentur-benturkan kepalanya dengan keras ke dinding penjara karena sakit kepala yang tak tertahankan. Pencernaannya yang demikian buruk menjadikan Gramsci tak mampu menelan makanan apa pun dan penyakit tulang punggung yang dideritanya sejak kecil menimbulkan rasa sakit yang demikian menggigit perih.

Barangkali, yang bisa kita sedikit paham di sana adalah bagaimana sebuah tekad, sebuah energi yang melecut dan tak mau menyerah tehadap segala macam rasa sakit. Sebuah hidup yang berpendar dalam gelora. Sebuah pikiran yang telah melampau segala macam rasa sakit -meminjam bara semangat penyair Chairil Anwar; Aku ingin hidup seribu tahun lagi, walau akhirnya harus takluk dengan kematian.

Dan di sisi inilah kita pantas mengagumi seorang Gramsci, terlepas dari setuju atau tidak setuju dengan segala teori serta keyakinan ideologi yang dipeluknya. Seorang figur yang mencorong justru karena dia mampu melahirkan karya besar di tengah penyakit yang ‘meng-hegemoni-nya. ***

Makassar, Januari 2020

23.1.20

Hitler


TERUS TERANG saya kurang tahu bagaimana sejarah pertumbuhan psikologi seorang Adolf Hitler hingga akhirnya mampu menyeret dunia ke era paling kelam dalam sejarah dengan meledakkan ‘perang dunia II’.

Saya hanya pernah membaca sebuah buku bagus dari Erich Fromm dengan judul “Lari dari Kebebasan”. Di sana intelektual besar dari Sekolah Frankfurt ini dengan jeli menguliti tabiat paling tersembunyi dari psikologi masyarakat yang memungkinkan tumbuh suburnya potensi sifat totalitarianisme seseorang yang punya bakat pemimpin semacam Hitler.

Dalam buku monumental tersebut, Fromm mendedah habis sifat mendasar manusia yang memiliki kecenderungan menghindari kebebebasan. Sikap ketakukan akan kebebasan ini, menurut Fromm muncul bersamaan dengan lahirnya sebuah ideologi yang kapitalistik dengan meletakkan sifat kepemilikan sebagai tujuan dasar hidup.

Ketergantungan eksistensi manusia dinilai hanya bersumber dari sana (memiliki). Jati diri manusia hilang dan cahaya kemanusiaan yang sebenarnya senantiasa berproses ‘menjadi’ lenyap ditelan ketakukan kehilangan apa yang dimiliki.

“Aku ada karena aku memiliki”, demikian kredo yang diletakkan paling tinggi dalam sistem paradigma kapitalisme. Dengan demikian, kebebasan kemudian diartikan sebagai melepaskan semua apa yang menjadi eksistensi manusia yang ada. Kebebasan adalah proses ‘menjadi’ yang terus menerus dan tak henti. Di ruang ini, manusia tidak mengidentifikasi lagi dirinya dengan segala rupa yang telah dimilikinya.

Gerak transformasi dari ‘memiliki, ke ‘menjadi’ ini memang senantiasa ditandai dengan hilangnya pegangan hidup. Identitas manusia dibongkar habis-habisan dan seluruh eksistensi yang kita kira telah menjadi bagian tak terpisahkan dari jati diri kita dibuldozer habis.

Dalam ruang psikologi kolektif semacam itulah Hittler tampil dengan segala kharismatik yang dimilikinya. Di tengah keterpurukan ekonomi dunia serta perasaan terpinggirkan bangsa Jerman yang kalah di perang dunia pertama, meletakkan Hitler sebagai ‘peniup seruling’ -meminjam kisah seorang peniup seruling yang memukau anak-anak sehingga mengikutinya.

Nasionalisme ekstrim dibangkitkan sebagai semboyan rasa memiliki ras paling unggul. Gelora kebangsaan Arya menancap kokoh di puncak-puncak eksistensi masyarakat Jerman. Dan di sanalah sebuah episode runtuhnya kemanusiaan dimulai.

Tidak salah bila dikatakan, seorang Hitler hanyalah ‘alat picu’ meledaknya rasa memiliki dan rasa ketakukan akan kebebasan dari rakyat Jerman saat itu.

Bagaimana pun Hitler dalam sisi dealektika sosial sebenarnya juga lahir dan dipupuk dari ruang-ruang lingkungan yang memang telah lama tertanam tentang rasa identitas yang goyah, serta ketakukan tidak ‘memiliki’ apa pun yang menjadi identitas kapitalistik. Hitler adalah pelaku sekaligus korban dari sebuah paradigma filosofis yang menganggap ‘memiliki’ sama sebangun dengan identitas diri atau bangsa. **

Makassar, Januari 2020

16.1.20

Tokoh-Tokoh Munafik


PADA akhirnya setiap kekuasaan adalah sebuah pertarungan melawan potensi keburukan dari diri sendiri. Pengarang besar Filipina, Fransisco Sionil Jose dalam karya klasiknya “Tokoh-Tokoh Munafik” menggambarkan hal ini dengan detail yang mencengangkan.

Digambarkan dengan nada satire, Jose mendedah sebuah kekuasaan dalam arti yang luas tentang manusia yang berusaha melawan kecenderungan syahwat di dalam diri. Karya ini dinilai “bagaikan foto rontgen yang memperlihatkan ekses-ekses penyakit revolusi dan masa peralihan Filipina seusai perang dunia ke 2. Bagaimana ulah para petualang politik serta ekonomi yang berkedok nasionalis dan patriot serta para cedekiawan semu mendominasi opini publik yang mengakibatkan tragedi bagi kaum idealis”.

Situasi serupa ini juga tergambar dalam cerpen-cerpen sastrawan Indonesia Idrus yang menceritakan bagaimana ‘kemaruk’ kekuasaan yang dibaluri kepentingan ekonomi melanda negeri kita diawal-awal kemerdekaan dulu dipenuhi oleh orang-orang munafik.

Saling sikut, saling fitnah dan saling menjatuhkan baik dengan kawan seiring maupun lawan politik menjadi bagian yang memilukan dalam suasana perebutan kekuasaan. Di sana tokoh-tokoh munafik di satu sisi tampil sebagai sosok bergelimpang kebaikan, namun di sisi lain menebar virus kedengkian dan kebencian. Udara sesak oleh atmosfer saling mengintip dan mengais-ngais kekurangan kawan dan lawannya kemudian menabur bisik-bisik untuk menjatuhkan. Segalanya bergerak dalam poros yang dipenuhi sikap saling curiga.

Memang, kekuasaan pada akhirnya bercerita tentang pertarungan melawan keserakahan diri sendiri. Sejarah banyak mencatat hal tersebut. Dan kita -pada umumnya- tak juga bisa melampaui naluri purba tersebut dan terus saja saling menggali lubang kubur untuk kemanusiaan kita yang paling murni. ***

12.1.20

1984: Orwell dan Kekuasaan


KEKUASAAN yang mengangkangi sifat murni kemanusian senantiasa ingin mengatur bagaimana mana orang berfikir, merasa dan berkata. Kekuasaan semacam ini senantiasa dibangun dengan landasan curiga. Segala yang dianggap berpotensi menyimpang dari kaidah-kaidah yang diindotrinasikan dicap sebagai pembangkangan. Jiwa kritis dibungkam dan manusia diturunkan derajatnya menjadi semacam ‘mesin’.

Suasana serupa inilah yang terbangun dari novel klasik karya sastrawan Inggris George Orwell, dengan judul ringkas “1984”. Novel bergenre satire ini memang mampu membetot urat saraf kita tentang bagaimana sebuah kekuasaan mampu merampok segala kemanusiaan kita yang paling dalam. Bagaimana kekuasaan berdiri bertolak pinggang dan mengawasi apa pun bahkan pikiran kita yang paling tersembunyi.

Di tulis dalam banyang-bayang kekuatan komunis di Uni Soviet (Rusia) dan rezim Nazi di Jerman, Orwell menulis dengan lirih (cenderung berbisik). Alur kisahnya mengalir pelan, suram dan dibaluri percakapan yang terpotong-potong.

Hampir seluruh kisah dalam novel ini terjalin dalam monolog-monolog pikiran yang berusaha mengais-ngais ingatan tentang masa lalu yang lenyap dalam sejarah yang dimanupulasi dengan sangat efisien dan tuntas.

Keseragaman adalah keniscayaan dalam kekuasaan yang digambarkan Orwell. Dunia berderik seakan ketakutan dengan suaranya sendiri. Hidup diliputi suara-suara monoton, kerdil dan tak bergairah.

Novel “1984” menjadi sebuah medan pertarungan yang dibanjiri gigil ketakutan. Dan kekuasaan di sana mengharu biru dalam sosok yang tak terlawankan. ***

25.12.19

Kekuasaan dan Seorang Ibu


“SYAHDAN, di sebuah hutan, seorang ibu dengan tubuh ringkih dan kumal bersua dengan seekor harimau yang telah beberapa hari tak menemukan mangsa untuk melepas rasa laparnya. Mereka bertatapan beberapa lama. Sorot mata sang harimau menyorot nanar, sementara mata sang ibu tak menyiratkan sedikit pun ketakutan. Ada kepasrahan yang demikian lepas di sana.

Sang harimau merasa heran, mengapa calon mangsanya ini tak sedikit pun menunjukkan gerak-gerik ketakutan seperti pada umumnya ketika manusia bertemu dengannya.

Sang harimau pun penasaran dan bertanya; mengapa ibu tidak takut, padahal saya ingin menjadikan ibu sebagai santapan untuk makan malam?

Sang ibu hanya tersenyum lalu berkata; lebih baik saya jadi santapan kamu daripada kembali ke kota dan menjadi korban sebuah rezim kekuasaan diktator, otoriter serta tirani”.

Amsal ini, kalau tidak salah ingat diceritakan filsuf China Lao Tse di hadapan murid-muridnya. “Sang Ibu lebih baik jadi santapan harimau dari pada harus kembali mengalami getirnya sebuah rezim yang demikian menindas”.

Sebuah kekuasaan yang pongah bertolak pinggang dan mengangkangi kemanusiaan memang demikian terlihat mengerikan. Karena di sana yang dipertaruhkan bukan hanya nyawa, namun seluruh potensi kemanusiaan kita yang ada.

Kekuasaan semacam ini tidak hanya bertaring (seperti harimau) dan berpotensi membunuh seseorang, namun juga mampu mencerabut jiwa paling murni dari kemanusiaan kita.

Seekor harimau hanya mengikuti naluri hewani mereka dalam mempertahankan hidup dan kebutuhan biologisnya. Tak ada keserakahan dan kebencian di sana. Sedang kekuasaan yang dibangun dengan kebencian dan keserakahan seperti ketika kita meminum air asin, semakin diminum semakin terasa haus mengerogoti kita.

Kekuasaan yang tak pernah merasa ‘kenyang’ dan terus menyantap apa pun di hadapannya. Kekuasaan yang tak pernah berhenti ‘memakan’ apa yang kita yakini sebagai pembeda dengan mahkluk lain, yakni empati kemanusiaan, kepedulian dan rasa welas kasih. **