12.4.17

Surat dari Seorang Kawan Tentang Tokoh Ini.


BEBERAPA waktu lalu, saya menerima surat dari seorang kawan lama yang saat ini bermukim di Jakarta. Dia seorang aktivis pendidikan dan seorang pengajar di sebuah universitas yang didirikan oleh Nurcholish Madjid atau Cak Nur.

Isi suratnya kurang lebih begini:

“Gambaran politik di Indonesia memang terbilang sedikit ‘ajaib’. Ada banyak cerita yang bisa kita kisahkan betapa ‘ajaib’-nya model prilaku politik di negeri ini. Ketika kita mencoba dengan sedikit serius ‘membacanya’, maka yang tersaji adalah sebuah jagat ‘aneh’ di mana para praktisinya demikian memiliki “seribu wajah’.

“Politik dengan model “Dasa Muka” ini memang menjadi bagian yang banyak membikin kita kerap terkaget-kaget dalam kebingungan. Seorang yang dulu banyak dikenal sebagai cendekiawan, menjadi panutan anak muda dan sanggup menggerakkan harapan sejuta kaum muda untuk peduli pada pendidikan, ketika memasuki jagat politik praktis, mendadak berputar 180 derajat”

“Kata-katanya yang demikian fasih dan “menyihir” itu kemudian dijadikan sebagai ‘amunisi’ untuk membangun retorika ‘kekuasaan” dan bukan lagi retorika ‘kemaslahatan”.

“Politik demi kekuasaan memang sanggup melahirkan watak-watak baru di mana prinsip-prinsip hidup yang dianggap telah melekat pada karakternya, tiba-tiba "mengelupas" dengan cepat. Tokoh yang dahulu demikian karib dengan dengan “rajutan kebhinekaan’, penghormatan pada kemanusiaan dan jiwa merdeka yang berpihak pada keberagaman, lewat politik kekuasaan, memdadak menjadi tokoh yang “keras”, rigid dan tega menjual “integritas hidup keilmuannya” demi sekursi kekuasaan yang dianggapnya sangat menggiurkan”

“Maka manuver-manuver politik ala “Machiavelli” menjadi bagian dari langkah politiknya. Dengan “menggadaikan’” prinsip yang dulu teguh dia kibarkan, dia berubah menjadi “penganut” dan “perangkul” kelompok yang selama ini dikenal punya riwayat intolerasi yang membumbung, dan catatan kekerasan dalam pemaksaan kehendak. Sebuah kelompok yang demikian tega “menjual’” SARA (Suku-Agama-Ras) untuk “membumi-hanguskan” penentangnya. Yang kerjanya setiap hari “berteriak” atas nama agama lalu mempertontonkan kekerasan dalam pemaksakan kehendaknya”.

“Dan tokoh yang baru terjun di jagat politik ini mengagung-agungkannya. Memujinya, bukan karena sedari dulu mereka punya kesamaan keyakinan dan prinsip perjuangan, namun tak lebih karena tokoh ini ingin memperoleh dukungan dengan “menggadaikan” kehormatannya, integritasnya, kecendekiawanannya serta ketakutannya untuk tak punya pengaruh lagi di masyarakat. Apalagi, dalam menilik  riwayat karirnya di pemerintahan dia tergolong tokoh yang “gagal” dan “ditendang” karena punya kinerja tak becus”.

Inilah surat ringkas kawan saya yang demikian gelisah menyaksikan tokoh idolanya demikian berubah karena target politik kekuasaan yang demikian telah membiusnya.

Terus-terang saya tidak tahu tokoh siapa yang dimaksudnya. Namun saya cukup paham mengapa kawan saya menulis tentang ini. Bukan karena kawan saya ini marah namun dia sangat kecewa. Dan sampai saat ini saya terus menerka siapa gerangan tokoh yang dimaksudnya. (*)

25.3.17

Sosmed dalam Belitan Kritikus dan Pembenci


APA yang membedakan seorang kritikus (baca: intelektual) dengan seorang pembenci (baca: penghujat)? Seorang kawan jurnalis senior menjawabnya enteng; yang membedakan keduanya adalah letak posisi “jari telunjuk”-nya. Seorang kritikus lebih meletakkan “jari telunjuknya” (baca: tudingan) pada ranah “apa, kenapa dan mengapa”, sedangkan pada seorang pembenci, seluruh energi jari telunjuknya digerakkan pada “siapa”.

Dengan kata lain, seorang kritikus ( intelektual) sangat menabukan ad hominem; yang kurang lebih artinya adalah menyerang diri pribadi seseorang dan bukan mengeritik pandangan atau pendapatnya. Sedangkan penghujat dan pembenci justru senantiasa menyasar diri pribadi seseorang. Jari telunjuk sang pembenci adalah semacam “vonis terakhir” bahwa apapun yang melekat dalam sosok tersebut pastilah busuk, jelek, bohong dan tak bisa dipercaya.

Barangkali dalam timbangan tertentu, apa yang dikatakan kawan saya itu ada benarnya. Namun ketika rujukan ini coba diletakkan dalam konstalasi era digital sosial media (sosmed) dan kecenderungan peradaban simulacranya Baudrilard (antara fakta dan fiksi yang membaur, antara realitas dan ilusi saling bercampur) , maka segalanya hadir dalam sebuah keserempakan yang sangat membingungkan.

Peradaban saat ini, segalanya terkonvergensi dalam pusaran simulacra tersebut. Dalam politik, gejalanya ditandai dengan semakin terkonvergensinya sesuatu aktivitas politik ke dalam politik personaliti. Personal Brand jadi acuan paling utama dan di sana kita tak bisa membedakan mana polesan, mana asli.

Demikian pula yang terjadi dalam jagat intelektual dengan semakin rumitnya percampuran antara kritikus dengan pembenci.Bagaimanapun, kata beberapa filsuf postmodern, zaman seperti ini merupakan zaman “pembusukan’ nilai-nilai lama sedangkan nilai baru tak akan pernah lagi menjadi mapan. Semua demikian cepat menjadi usang.

Situasi seperti ini sangat “tercium” dalam dunia sosial media (sosmed) kita. Di ruang maya ini, kita tak lagi mampu membedakan mana yang kritikus dan mana yang pembenci. Semuanya tumpah ruah menjadi baur dan sering bersalin rupa. Seorang intelektual busa menjadi pembenci dan seorang pembenci bisa menjadi intelektual.

Dalam kondisi serupa ini, kita tak bisa lagi mengharapkan “rujukan” baku pada seseorang, karena dinamikanya demikian  jumpalitan. Jagat sosmed memang menyajikan dunia yang kadang demikian paradox. Kalimat adigium ad hominem yang dulu sangat dijaga oleh kalangan terdidik, saat ini telah menjadi demikian usang. Bukan karena adigium itu terbukti salah, namun karena realitas zaman telah mendekonstruksi (membongkar habis) nilai-nilai tersebut.


Saat ini, apa pun pendapat dan penilaian kita terhadap sesuatu, mau-tak mau personalitas bakal hadir di sana. Inilah hukum besi peradaban simulacra-nya Baudrilard. Apa boleh buat, kecuali menjadi anonim dan menghilangkan apapun terkait identitas kita(*)

20.3.17

Hukum Kekekalan Kritik Para Intelektual


DI MEDIA SOSIAL (medsos) para nietizen pernah berseloroh dengan memplesetkan sebuah formulasi terkenal dalam teori fisika yakni “Hukum Kekekalan Massa dan Energi” dengan kalimat lucu; “Hukum Kekekalan Kritikus”. Makna seloroh ini, barangkali berupa ejekan, atau sekadar sarkasme untuk sindiran pada beberapa intelektual (cendekiawan) yang dianggap tidak konsisten dalam integritas prinsip keilmuan dan karakter mereka.

Meminjam bahasa anak-gaul, pendapat para intelektual (cendekiawan) tersebut demikian cepat berubah “warna’ 360 derajat seiring letak arah “mata angin” kepentingan kelompok atau orang yang “membelinya”  “Pagi tahu sore tempe”, ini kalimat sarkastik yang juga cukup populer di kalangan para pengguna media sosial.

Apakah virus yang banyak menghinggapi para intelektual (cendekiawan) dengan gaya dan sikap “pagi tahu sore tempe” ini hanya mewabah di Indonesia atau memang menjadi bagian dari sejarah para intelektual (cendekiawan) di jagat raya ini? 

Terus terang, saya tak tahu. Namun Julien Benda dalam karya monumentalnya “Pengkhianatan Kaum Cendekiawan” bisa menjawabnya dengan jitu. Terbit pertama kali di Prancis pada tahun  1927 dengan judul “La Trahison des Clercs”, Julien Benda menggali lubang renungan mendalam tentang peran dan kewajiban para cendekiawan di tengah masyarakat.

Latar yang membidani lahirnya esai besar ini adalah sebuah peristiwa yang sangat menggemparkan masyarakat Prancis di tahun 1894 yang karib disebut “L’Affaire Dreyfus, di mana seorang perwira Prancis keturunan Yahudi bernama Dreyfus, diadili atas tuduhan menjual rahasia militer kepada dinas intel Jerman. Oleh pengadilan, Dreyfus dinyatakan bersalah dan dibuang selama sepuluh tahun.

Sebagai reaksi atas pengadilan yang “sesat” dan tak adil itu, sejumlah cendekiawan, antara lain Emile Zola, bangkit dan mengumumkan sebuah “Manifes Para Intelektual”. Dengan Manifes itulah para cendekiawan (yakni para ilmuwan, seniman dan filsuf) untuk pertama kalinya menyatakan diri sebagai sebuah golongan tersendiri dalam masyarakat dengan peran dan tanggungjawab serta tugas tersendiri.

Lalu, apa benang merah yang terjalin antara karya Julien Benda dengan kondisi kekinian dari para kelompok masyarakat yang kerap disebut intelektual (cendekiawan) ini di Indonesia?

Jawabnya mungkin bisa sedikit bombastis dan lebai yakni seandainya Julien Benda, hidup dan saat ini bermukim di Indonesia, maka dia tidak akan pernah menulis karya besar “Pengkhianatan Kaum Cendekiawan” ini, bukan karena tingkat pemahamannya naïf, namun dia pun akan masuk dalam jejaring belitan besar para intelektual “pagi tahu, sore tempe” tersebut.

Kondisi di republik ini memang sering mempertontonkan hal yang aneh sekaligus ajaib. Banyak hal yang berjumpalitan dalam kadar nilai maupun paradigma yang berlangsung. Para intelektual pun tak luput dari sengkarut nilai dan jumpalitannya situasi di republik ini, terutama di sektor politik.

Para intelektual –apalagi ketika dia sudah mulai terjun ke dunia politik praktis, maka yang muncul menguasai karakternya adalah sikap seorang politisi dan bukan kecendekiawanannya. Begitu pula dengan para cendekiawan yang kerjanya demikian sibuk melakukan kritikan di sana-sini, pada akhirnya kritikan yang dilontarkannya hanya sekedar ‘alat pancing dan umpan’ untuk dilirik dan dipakai dalam pemerintahan. Dengan kata lain, kritikannya hanyalah “alat tawar-menawar” dan semacam “lamaran kerja” dalam versi lebih ‘ngintelek’.


Dan apabila mereka tak terpakai lagi atau tidak dipekerjakan lagi, maka nafsu kritikusnya bangkit kembali dengan tujuan dilirik dan dipekerjakan lagi. Inilah hukum kekekalan kritikus yang banyak mengidap para intelektual (cendekiawan) kita di republik ini, (*)

12.3.17

Menteri Amran, Passion Kerja Seorang Pencinta Petani


ROMBONGAN Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman beberapa waktu lalu melakukan safari kunjungan kerja (kunker) panen raya ke dua provinsi Jawa Tengah dan Jawa Barat. Tujuannya cuma satu memastikan gabah hasil panen petani diserap oleh Bulog dengan harga HPP yang telah ditetapkan serta hadir langsung dalam perayaan panen petani di Pulau Jawa.

Mentan Amran dan rombongan, saat itu, menempuh jalur darat dari Cilacap sejauh 85 kilometer menuju Desa Wanareja. Setelah itu, iring-iringan rombongan Mentan Amran kembali melanjutkan perjalanan ke Desa Sindang Angin yang diperkirakan berjarak 29 kilometer dari titik sebelumnya. 

Perjalanan panjang ratusan kilometer dalam safari panen raya serta Serap Gabah Petani (SERGAP) ini menjadi sebuah fenomena menarik tentang bagaimana passion seorang menteri dalam keberpihakannya pada petani dan kerja keras yang demikian membumbung untuk meningkatkan martabat dan kesejahteraan petani Indonesia.

Kisah tentang bagaimana passion kerja Menteri Amran yang begitu kuat telah banyak diketahui publik dan diapresiasi berbagai kalangan, mulai dari legislator, akademisi pertanian, pengamat komunikasi dan lain-lain. Bahkan tak tanggung-tanggung, Presiden Joko Wododo (Jokowi) dengan gamblang memuji pencapaian kinerja menterinya ini.

Pernah, seorang pengamat komunikasi mengatakan bahwa Menteri Amran adalah salah satu menteri dalam Kabinet Kerja pemerintahan Jokowi-JK yang sangat mumpuni di bidangnya. Bahkan seorang Bupati di ujung timur Indonesia (Merauke) mengatakan, karena Menteri Amran-lah kehormatan profesi petani kembali diperhitungkan. Bukan hanya itu, Menteri Pertanian negara jiran Malaysia dan lembaga pangan dunia (FAO) juga berdecak kagum.

Fenomena Menteri Amran memang pantas dan menarik untuk terus dibincangkan. Bagaimana tidak, baru dalam priode kepemimpinannya di Kementerian Pertanian ini, magnet pemberitaan tersedot demikian besarnya ke ranah pertanian.

Sebelummnya, pemberitaan tentang pertanian bisa dikatakan hanya menjadi pelengkap di pojok-pojok halaman koran atau sekedar judul sambil lalu di media online. Kalaupun ada yang menjadi headline, itu justru karena perberitaannya bernada negative.

Menurut seorang kawan jurnalis senior, dahulu berita pertanian sama sekali tak dilirik oleh media karena tak “seksi”, namun sejak Kementerian Pertanian dinahkodai Menteri Amran, media menjadi demikian bergairah untuk ikut meliputnya.

Passion, barangkali inilah yang paling kuat dalam kepemimpinan Menteri Amran. Passion, kecintaan pada petani dan keinginan yang kuat untuk mengangkat martabat petani menjadi magnet yang mampu menggerakkan partisipasi siapapun untuk ikut terlibat. Passion seorang pekerja keras yang memiliki kecintaan pada apa yang diperjuangkannya:segalanya untuk petani. (*)

5.3.17

Malaysia Apresiasi Kemajuan Pertanian Indonesia


NEGARA jiran Malaysia tak bisa menutupi kekagumannya pada pesatnya kemajuan pertanian Indonesia. Program membangun pertanian dari perbatasan dianggap sebagai sebuah terobosan cemerlang, karena bukan saja menguntungkan Indonesia semata, namun juga mampu menjadi jembatan ketahanan pangan dua negara.

Tindak lanjut dari Pertemuan AMAF (ASEAN Ministerial Meeting on Agriculture) di Singapura Tahun 2016 bahwa Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menginisiasi pembangunan wilayah perbatasan, Menteri Pertanian Malaysia, Dato’ Sri Ahmad Shabery Cheek tertarik untuk mempelajari lebih lanjut mengenai keberhasilan pertanian di Indonesia dalam upaya mencapai swasembada padi dan jagung.

Negara Malaysia menyatakan apresiasinya atas kejayaan pertanian Indonesia. “ Sebagai sebuah Negara yang sempat mengimpor jagung, (Indonesia) sekarang sudah mencukupi untuk kegunaan sendiri, di mana Malaysia sendiri masih bergantung kepada impor dan mengambil dari negara yang sangat jauh, “ ujar Menteri Pertanian dan Industri Azas Tani Malaysia, Dato’ Sri Ahmad Shabery Cheek saat melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta Jumat (3/3/2017).

Selama ini Negara Malaysia mengimpor jagung dari Negara Argentina dan Amerika sebanyak 3 juta ton per tahun untuk peternakan atau setara dengan 1 Milliar Dollar US.  
Melihat kesuksesan dan keberhasilan yang telah dicapai oleh Indonesia di bidang pertanian khususnya dalam komoditas beras Jagung, dengan kesamaan iklim dan kondisi lahan yang sama maka Indonesia dan Malaysia sepakat melakukan kerjasama dalam membangun wilayah perbatasan. Fokusnya adalah pada pengembangan komoditas jagung di wilayah perbatasan antara Entikong, Provinsi Kalimantan Barat dan Serawak-Malaysia.
 “Kita akan tanam benih jagung dan penemuan terbaru teknologi Jagung tongkol ganda Nakula Sadewa 29 (Nasa 29)”, jelas Mentan Amran.

Keinginan Menteri Pertanian Malaysia dan delegasinya tersebut disambut baik oleh Kementerian Pertanian. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meyakini kerja sama antara Indonesia dan Malaysia merupakan sinergi positif dalam membangun sektor pertanian untuk masing-masing negara.  

Sebagai tindak lanjut dari pertemuan bilateral tersebut Indonesia-Malaysia akan melakukan penanaman perdana di perbatasan Entikong, Kalimantan Barat.

“Paling lambat pertengahan tahun 2017 kita sudah tanam perdana di perbatasan, ini adalah perintah Presiden untuk membangun perbatasan bersama dengan negara-negara tetangga”, ujar Mentan


Sinergi antara Indonesia dan Malaysia dalam membangun sektor pertanian, terutama komoditas jagung di wilayah perbatasan diharapkan dapat meningkatkan kemandirian pangan masing-masing Negara. Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional, Mat Syukur bahkan optimis bila kerja sama antara Indonesia dan Malaysia berjalan baik, Indonesia dan Malaysia akan mampu menjadi penyuplai pangan dunia.(*)

24.2.17

Puisi


SEBUAH sajak atau puisi pada akhirnya tak memiliki apa-apa lagi selain dirinya sendiri. Ketika dilepas ke publik (baca: kehidupan), segala kemungkinan interpretasi bisa saja terjadi. Kata-kata atau apa pun yang ada dalam sebuah puisi bakal terus mengalir, membuahi dan beranak-pinak dalam imajinasi siapa pun yang pernah “menyentuh”-nya.


Dalam konteks ini, penyair hanyalah seorang “bidan” yang terlibat dalam sebuah proses persalinan (kelahiran) sebuah puisi. Setelah rampung, penyair hanyalah satu diantara mereka yang tak lagi memiliki hak apa pun terhadap hidup sebuah puisi. (*)

18.2.17

Pada Akhirnya


Pada akhirnya hujan itu membawamu sunyi
Langit menutup orang-orang terkasih
Dan engkau larut bersendiri

Pada akhirnya duka itu membawamu sunyi
Seperti pelaminan ditinggal hati
Dan engkau bersendiri

Lagi


Makassar, 2017

14.2.17

Dari Tanah Papua, Indonesia Lumbung Pangan Dunia Mulai Nampak Nyata


INDONESIA memang pantas berbangga saat ini. Dari ujung paling timur kepulauan republik ini, Merauke,Tanah Papua, ekspor beras mulai dicanangkan. Ini merupakan “jembatan emas” menuju” Indonesia menjadi lumbung pangan dunia.

Dari tanah Papua ini, Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman melakukan deal di tengah sawah dengan pemerintah Papua Nugini untuk terus setiap tahun mengekspor beras premiun dengan harga Rp 10.000/kg. Harga ini lebih murah dibanding Papua Nugini mengimpor beras selama ini dari Thailand, Vietnam dan Filiphina dengan selisih harga mencapai separuh.

Untuk itu, pada kesempatan ini, Mentan bersama Gubernur Papua, Lukas Enembe, dan Bupati Merauke, Fredikus Gebze melakukan pelepasan ekspor perdana beras ke Papua Nugini di Merauke, Senin, 13 Februari 2017. Beras yang diekspor merupakan beras premium sebanyak 1 truk dan ditargetkan 10.000 ton hasil panen di musim hujan 2017.

Hadir pada pelepasan ekspor ini Asisten Teritorial KASAD,Mayjen TNI. Komarudin Simanjuntak, Konsulat Jenderal Papua Nugini, Geoffrey Wiri, dan Anggota Komisi IV DPR RI, Sulaiman Hamzah.

Mentan Amran menegaskan setelah 72 tahun melakukan impor beras, kini di tahun 2017 Indonesia mampu mengekspor beras dari Merauke ke negara tetangga yakni Papua Nugini. Harga beras yang diekspor Rp 10.000/kg. Harga ini separuh harga beras impor dari Filiphina, Thailand dan Vietnam. Ini adalah nafas dari Nawacita Pemerintahan Jokowi-JK yaitu membangun dari pinggiran dengan pendekatan peningakatan kesejahteraan.

"Mimpi kita dulu sudah jadi kenyataan yaitu ekspor beras ke negara tetangga, Papua Nugini. Kemudian luas lahan sawah kita tambah terus. Yang terpenting kita sudah memenuhi kebutuhan dalam negeri selebihnya diekspor," tegas Amran.

Amran menjelaskan ekspor beras ini merupakan upaya dalam rangka mensejahterakan para petani karena dulu beras untuk kebutuhan di Papua diambil dari provinsi lain sehingga biaya beras mahal karena biaya angkutan ditanggung masyarakat. Dampaknya terjadi inflasi dan kemiskinan meningkat.

"Namun sekarang kita mampu produksi sendiri. Tekad kita ke depan adalah seluruh pulau-pulau bisa swasembada pangan khususnya beras sehingga harga beras murah," jelasnya.
Amran menambahkan, Papua selain saat ini sudah mampu eskpor beras, yang menarik juga yakni pertanian di Papua khususnya di Merauke telah menggunakan teknologi pertanian. Hasilnya, dulu biaya pengolahan lahan mencapai Rp 3 juta/ha, tetapi dengan adanya mekanisasi pertanian sekarang hanya Rp 1,1 juta/ha.

"Artinya biaya pengolahan lahan turun 60% karena teknologi," imbuhnya.
Gubernur Papua, Lukas Enembe mengatakan bangga atas adanya pelepasan ekspor beras tersebut, sehingga akan dijamin ekspor beras dilakukan setiap tahun. Sebab, menurutnya, sudah berpuluhan tahun Papua mimpikan Merauke agar dapat menjadi lumbung langan nasional.

"Mudah-mudahan ekspor berkelanjutan. Puluhan tahun kita mimpikan Merauke menjadi lumbung padi nasional, tapi baru kali ini melakukan ekspor. Ini akan dilakukan secara terus menerus tiap tahun," kata Lukas.

Menurutnya, pencapaian ini atas bantuan dan dukungan penuh dari Kementerian Pertanian selama ini yang telah memberikan bantuan mekanisasi pertanian dan bersama TNI telah membuka lahan sawah baru.
"Kami bersyukur mendapat bantuan mekanisasi di Merauke. Beberapa tahun lalu TNI sudah bukan lahan baru, sehingga semakin banyak lahan sawah petani tidak banyak menganggur dan menjadi petani modern," ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Bupati Merauke, Fredrikus Gebze menuturkan Indonesia harus dipersiapkan sebagai negeri gemah ripah loh jinaweh. Selama 72 tahun Indonesia baru mengekspor beras ke Papua Nugini.

Kemudian, lanjutnya, Infrastruktur dasar pertanian telah mengalami kemajuan yakni jalan usaha tani sehingga petani dapat mengangkut hasil panen. Sebab, selama 30 tahun petani penjemur padi di pinggir jalan tetapi kini sudah memiliki penjemuran dan pengering.

"Sehingga hasilnya, beras dari Merauke merupakan beras unggulan jauh dari pengawet dan pewarna. Petani hari ini derajatnya yang terhormat dan telah menggunakan alat pertanian yang canggih sehingga petani saat ini telah menjadi ahli petani," tutur Fredrikus.

Luas lahan sawah dan lahan kering di Merauke sebanyak 64 ribu ha. Lahan ini sudah dilakukan penanaman padi. Produksi beras di Merauke 110 ribu ton/tahun sementara kebutuhan hanya 25 ribu ton/ha.

"Dengan demikian produksi beras di Merauke Surplus. Selain di ekspor, beras dari Merauke selama ini rutin memasok kebutuhan di kabupaten Mapi, Bovebdigul, Mimika, Asmat dan Jaya Pura," ungkap Fredrikus.

Sementara itu, Konsulat Jenderal Papua Nugini Untuk Papua, Geoffrey Wiri menyampaikan pelepasan ekspor ini merupakan kesempatan yang luar biasa dan mengejutkan. Sebab, selama ini Papua Nugini impor beras dari Filipinan, Thailand dan Vietnam.

"Impor dari merauke ini sangat mengejutkan. Harga beras Merauke lebih murah dari negara lain. Untuk itu berjanji untuk hentikan impor dari negara lain selain Indonesia," terangnya.

Terkait kegiatan ekspor ini, Anggota Komisi IV DPR RI, Sulaiman Hamzah menyampaikan apresiasi atas dukungan Menteri Pertanian yang telah memberikan bantuan berupa seluruh peralatan dan kegiatan pertanian di papua khususnya Merauke. Menurutnya, tidak hanya dukungan penuh untuk produksi padi tetapi juga komoditas lainnya.

"Namun karena lahan sawah di Merauke yang luas perlu dukungan tambahan bantuan alat pengering sehingga Merauke terus mampu menghasilkan beras berkualitas untuk ekspor," ungkap Sulaiman


Sehubungan dengan ini, dalam kesempatan ini Mentan Amran langsung memberikan bantuan untuk Merauke meliputi traktor roda 4 sebanyak 10 unit, prioritas utama bantuan dryer (pengering), dan escavator 2 unit. Perlu diketahui, usai melakukan pelepasan ekspor, Mentan bersama Gubernur dan Bupati melakukan panen padi hasil sistem jajar legowo super sekaligus penanaman padi di Kampung Nggutibob, Distrik Tanah Miring.(*)

9.2.17

Hanya Ada Satu Kata: Kebencian


ADA sebuah peristiwa sejarah di mana kita pantas meletakkan diri untuk ‘berkaca’ sejenak. Dan itu bisa didapatkan dari sejarah Tiongkok di era komunisme dibawah pimpinan Ketua Mao-Ze-dong. Pada tahun 1966, pemimpin Komunis Cina Mao-Ze-dong mengibarkan sebuah revolusi yang dikenal sebagai “Revolusi Kebudayaan” dan dampak dari revolusi tersebut demikian memiriskan hati.

Banyak pengamat sejarah mengatakan bila kelahiran dari “Revolusi Besar Kebudayaan Proletariat” di Cina akibat kegundah-gulanaan sang Pemimpin Mao menyaksikan semangat revolusi proletariat mulai luntur. Pemikiran dan gagasan dari banyak kaum intelektual Cina dianggap mulai bias dan cenderung “liar”. Ini dianggap sangat membahayakan ‘stabilitas’ doktrim partai dan ditakutkan mulai ‘meracuni’ pikiran kaum muda. Memang, kebebasan berpikir di era tersebut adalah sebuah hal yang ‘tabu’.

Lalu lahirlah Revolusi Kebudayaan. Sebuah revolusi yang ‘ironiknya’ diturunkan dari ‘menara gading’ kekuasaan. Tiba-tiba, rakyat Cina seperti digiring dalam “arena konflik” di antara sesama warga. Saling curiga ditumbuh-kembangkan dengan suburnya. Fitnah dan hasutan bergelimang dalam pikiran.  Teror dan ketakutan adalah suguhan sehari-hari.

Inilah yang kemudian diceritakan kembali oleh Liang Heng dan Judith Shapiro dalam buku otobiografinya “Tragedi Anak Revolusi”.

Liang Heng memang pantas memberi judul bukunya ini dengan kata awal “Tragedi”. Sebuah rangkaian peristiwa yang dialaminya sendiri dan memang menjadi sebentuk trauma yang memilukan. Liang Heng ada di pusaran ‘kekacauan’ itu dan menjadi seorang “anak revolusi yang akan menjadi korban”. Dialah yang dengan jelas dimaksud oleh sebuah ungkapan “revolusi memakan anaknya sendiri”.

Kejadian awal di masa-masa itu, langsung membentur ruang-ruang paling sensitive dari sejarah hidup Liang Heng. Orang tuanya “terpaksa” bercerai  demi partai. Di sana, partai mulai menumbuhkan semacam sikap saling curiga, bahkan antar keluarga sekalipun. Orang tua, saudara, family, tetangga menjadi saling tak menaruh kepercayaan lagi. Inilah saat di mana tiba-tiba kita dijemput oleh sekelompok orang karena tadi siang telah dilaporkan –entah oleh orang tua, anak, saudara, tetangga, atau sahabat kita.

Saat itu, anak-anak muda digiring menjadi “Anak Ketua Mao” yang baik. Dijejali semangat untuk curiga dan rasa tanpa kasihan. Mengunyah hasutan setiap hari. Maka teror pun menelusup sampai ke tempat paling privat manusia. Roda revolusi bergerak melindas seluruh negeri. 

Kemiskinan, sovinisme dan teror Pangawal Merah semakin meluluhlantakkan kemanusiaan yang masih tersisa saat itu. Dan korban pun berjatuhan. Pembantaian manusia menjadi bagian yang tak terelakkan. Saling curiga. Saling menghasut. Saling Melaporkan. Inilah “permusuhan” yang dibangun dengan sistemik hanya untuk “semangat” kebenaran yang digaungkan.

Lalu, di sini di Indonesia kita ini,  saya tiba-tiba merasa bergidik. Suasana itu mulai terasa, walau dalam versi yang berbeda. Namun semangat membenci, fitnah, agitasi dan hasutan yang ada terasa punya kemiripan. (*)

6.2.17

Politik “Gorengan” Pilkada


BARANGKALI setiap ada momen pemilihan, baik itu pemilihan presiden, DPR mauppun  kepala daerah, kita bisa jadikan barometer untuk menakar sampai sejauh mana kedewasaan politik dan berdemokrasi bangsa kita. Pasalnya di momen seperti inilah “karakter” dan syahwat kekuasaan dari elite politik  dan cara kita (baca: rakyat kebanyakan) memaknai arti demokrasi dipertunjukkan dengan vulgar dan nyaris telanjang.

Setiap momen pemilihan dalam kontek sistem demokrasi, sejatinya adalah “alat rakyat” untuk menunjuk para “pelayan” mereka serta jadi “palu vonis” untuk menghukum elite yang tidak menjadikan rakyat sebagai “tuan” selama para elite itu diberi amanah. Setiap momen pemilihan, sejatinya adalah tanda bahwa rakyat menjadi pemegang daulat penuh atas nasib bangsa dan negara ini ke depan.

Namun bagaimana pun sebuah sistem demokrasi yang sehat dan dewasa memang memerlukan banyak prasyarat agar mampu berdiri tegak. Salah satunya adalah terbitnya sebuah kesadaran rasional warga negara serta kemampuan masyarakat untuk meletakkan politik sebagai sebuah tahapan untuk menuju kesejahteraan bersama.

Dengan demikian, sebuah momen pemilihan hanyalah sekedar tahapan, bukan tujuan. Namun, di negara yang memang masih belajar meletakkan demokrasi sebagai sebuah sistem politik bernegara, agaknya perilaku “aneh” dan kontradiktif memang masih berseliweran di tengah sebuah ajang pemilihan.

Hal yang paling menonjol dalam setiap momen ini adalah bagaimana para elite politik kita bermanuver dengan “gaya Machiavelli”. Menghalalkan segala macam cara untuk meraih tampuk “basah” kekuasaan. Politik pilkada kita masih sangat mengedepankan syahwat kekuasaan. Sebuah politik untuk meraih privilege serta politik bergaya aristocrat berbungkus demokrasi.


Inilah yang menjadikan politik pilkada kita lebih banyak mempertontonkan “politik gorengan”. Politik yang hanya menjadikan isu-isu artifisial seperti menjual sentiment suku, agama sebagai alat “gorengan”. Alih-alih membuat kesadaran politik masyarakat terbangun, politik “ gorengan” pilkada yang cenderung memperkokoh “kebodohan” rakyat karena senantiasa digiring untuk saling membenci dan memaksa kita untuk ikut membenci. Dan ini terjadi saat ini di negeri kita. (*)

1.2.17

Karl Marx, Komunisme dan Bayangan Orang-nya Plato


SAYA selalu membayangkan lelaki brewok itu  tengah tenggelam dalam tumpukan buku-buku tebal di sebuah perpustakaan umum di Berlin, Jerman. Rambutnya yang gondrong dan berantakan itu seolah mempertegas bila lelaki ini senantiasa ‘bertengkar’ dengan segala tren fashion yang ada. Dialah Karl Heinrich Marx yang lebih dikenal sebagai Karl Marx.

Dari riwayatnya, kita mengenal sosok ini lahir pada 5 Mei 1818 dari sebuah keluarga Yahudi yang berpaham sangat liberal dan progresif di Tier Kerajaan Prusia. Diusia yang ke 17, Karl muda memasuki Universitas Bonn dam mengambil jurusan hukum. Namun karena nilainya jelek dan ketertarikannya pada kesusastraan dan filosofi, ayahnya memaksakan untuk pindah  ke universitas lain, yakni Fredrich-Wilhelms-Universitat di Berlin.

Di sinilah Karl Marx mulai banyak menulis puisi dan esai tentang kehidupan dengan bahasa teologi yang diwarisi dari ayahnya. Namun di saat ini pulalah Karl Marx mulai menekuni filosofi Hegel dan mulai bergabung dengan kelompok Young Hegelian. Tak lama kemudian, dia mulai menyebarkan prinsip-prinsip kritisme sosial dengan memakai landasan dealiktika Hegel namun dengan keras menolak sifat abstrak filsafat Hegel dan mulai meletakkan sejarah sosial  dalam ‘pisau bedah’ analisisnya.

Lalu Lahirlah buku “Communist Manifesto” (1848) yang dibuka dengan kalimat “Sejarah dari berbagai masyarakat hingga saat ini pada dasarnya adalah sejarah pertentangan kelas”.

Memang, sejak awal, Karl Marx adalah seorang teoritikus. Daya pikat dari filsafat sejarah yang ditawarinya kemudian semakin utuh ketika dia bertemu dengan Friedric Engels, seorang pemikir praktis yang demikian kritis terhadap kondisi yang dihadapi oleh kelas pekerja saat itu di Prancis.

Lalu jadilah teori Karl Marx  menjadi daya dorong untuk sebuah kekuatan politik. Di Rusia, warisan Karl Max ini didengungkan oleh Marxist Bolsheviks dan kemudian memperoleh kemenangan Revolusi oktober Rusia. Dunia pun mulai bergerak masuk ke dalam era “Perang Dingin”

Namun sejak keruntuhan “Tembok Berlin” dan tumbangnya paham komunisme di Uni Soviet, paham komunisme menjadi sangat tidak menarik lagi. Daya pikatnya hancur dan dunia melihatnya sebagai sebuah masa lalu yang buruk dan tak mengenakkan. Kini komunisme hanya tersisa dalam keping-keping keruntuhan dan hanya mampu bertahan sebagai “pajangan’ untuk sebuah aset sejarah dari pelajaran tentang ideologi. 

Di negara Tiongkok, paham Komunisme memiliki wajah yang ‘aneh’ karena telah berkamuflase dengan Kapitalisme. Di Kuba, Komunisme perlahan hanyut bersama wafatnya Fidel Castro, sedang di Korea Utara, Komunisme mengejahwahkan dirinya lewat “kegilaaan” sang presiden muda.

Komunisme tak punya daya pikat apa-apa lagi. Sebagai ideologi, Komunisme telah gagal dan menjadi ideologi afkir. Namun lucu dan ironiknya, di Indonesia, saat ini, Komunisme dipakai kembali sekelompok orang sebagai alat politik untuk menyebar kebencian. Seakan-akan Komunisme masih perkasa dan menakutkan. Dan lebih ironic lagi, banyak dari kita mengamini model penyebaran isu seperti ini atau setidaknya termakan oleh isu ini


Kita mendadak seperti apa yang pernah diceritakan filsuf Plato, “orang yang terikat dalam gua yang gelap dan hanya diterangi seberkas cahaya dari api unggun dan melihat bayangannya sendiri selama bertahun-tahun, sehingga suatu ketika, dia menganggap bayangannya itu adalah sebuah realitas. Sebuah kenyataan”(*)

31.1.17

Di Beranda, Hujan Melacak Namamu


Di beranda, hujan kembali melacak namamu
Uap dingin dan separuh rindu
Mengantarkan sore itu jadi berwarna ungu

“Mungkin engkau tak ingat lagi gigil daun-daun itu”,

Lalu rimbun luka berhelai-helai menanti
Waktu bersayap dan gemuruh hati
Mengajak sore itu jadi mimpi

“Masihkah engkau menyimak kabar angin”


Makassar, 2017

29.1.17

Menteri Amran dan Kesejahteraan Petani Indonesia


UPAYA Kementerian Pertanian (Kementan) yang saat ini dikomandani oleh Andi Amran Sulaiman untuk mewujudkan kedaulatan pangan sekaligus mengangkat harkat dan martabat kesejahteraan petani Indonesia terus dilakukan dengan kerja keras. Hasil kerja keras tersebut perlahan mulai menampakkan hasilnya. Bahkan tak urung, Presiden Jokowi memberi ‘acungan jempol’ terhadap kinerja tersebut.

Dalam kepemimpinan Mentan Amran, Kementerian Pertanian memang melakukan berbagai terobosan baik dalam internal kementerian maupun terobosan dalam menggenjot produksi pangan nasional.

Hal ini ditandai dengan melakukan transformasi dan reformasi birokrasi dengan menempatkan Komisi Pemberantasa Korupsi (KPK), Kejaksaan Agung dan Kepolisian dalam ikut aktif melakukan pengawasan internal. Sedangkan upaya keluar dengan melakukan terobosan brilian dengan mengeluarkan berbagai kebijakan serta program yang langsung mamapu menyentuh akar persoalannya. Semua ini dilakukan demi kecintaannya pada petani dan bangsa ini.

Secara sistemik Kementan telah menyusun roadmap pembangunan pertanian komoditas jangka panjang. Pada dokumen tersebut disebutkan secara jelas pada 2017 tidak ada impor beras, jagung, cabai dan bawang merah, 2019 tidak impor gula konsumsi, 2025 tidak impor gula industri, 2027 tidak impor daging sapi dan bahkan pada  2045 ditargetkan menjadi lumbung pangan dunia.

Guna mewujudkan nawa-cita dan roadmap jangka panjang, beberapa kebijakan strategis yang ditempuh: (1) merevisi regulasi yang menghambat, (2) membangun infrastruktur irigasi 3,2 juta hektar, cetak sawah dan mekanisasi secara besar-besaran alat dan mesin minimal 80 ribu unit pertahun, (3) memperkuat sistem budidaya dan pasca panen, (4) penataan tata niaga pangan, (5) mengendalikan impor dan mendorong ekspor.

Upaya pencapaian swasembada merupakan langkah simultan dengan mensejahterakan petani. Kementerian Pertanian 2015 merehabilitasi jaringan irigassi tersier lebih dari 2,4 juta hektar, menyediakan lebih dari 80 ribu unit dan benih padi 2,7 juta hektar.

Berbagai kajian menunjukkan faktor kunci sukses produksi padi 2015 naik 6,42% menjadi 75,39 juta ton gabah adalah keberhasilan menyelesaikan aspek mendasar air, alat mesin pertanian dan sarana produksi.

Kebijakan komprehensif menangani aspek hulu sampai hillir diikuti dengan eksekusi di lapangan telah berdampak secara signifikan. Kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah/beras dan program Serap gabah (Sergab) telah melindungi petani dari harga jatuh di saat panen raya dan memperkuat stock pangan. Harga gabah di saat panen raya stabil dan demikian juga stock beras saat ini 2,1 juta ton cukup aman sampai dengan Mei 2017.

Berbagai indikator produksi dan kesejateraan petani 2015-2016 menunjukkan trend meningkat signifikan dan kinerja ini diakui berbagai lembaga survei dalam dan luar negeri.

Jadi tidak benar bila dalam kurun waktu 2015-2016 kemiskinan di pedesaan semakin meningkat. Buktinya ini data series BPS penduduk miskin September 2015 mencapai 28,51 juta orang atau 11,13 persen, menurun 80 ribu orang jika dibandingkan Maret 2015 sebanyak 28,59 juta orang. Penduduk miskin di pedesaan turun 50 ribu dari 17,94 juta orang menjadi 17,89 juta orang.

Indek rasio gini atau indeks gini diukur BPS pada Maret 2016 sebesar 0,397 menurun 0,011 poin dibandingkan dengan rasio gini tahun 2015 sebesar 0,408. Rasio gini di daerah perdesaan pada Maret 2016 sebesar 0,327 menurun 0,007 poin dibanding rasio gini Maret 2015 sebesar 0,334 dan menurun 0,002 poin dibanding rasio September 2015 yang sebesar 0,329.

Menurut publikasi BPS, NTP nasional pertanian (termasuk perikanan) untuk bulan Agustus 2016 sebesar 101,56 atau naik 0,17% terhadap bulan Juli 2016. NTP nasional, demikian juga NTP tanpa perikanan juga menunjukkan peningkatan.

Kenaikan NTP tersebut disebabkan persentase kenaikan pada IT yang lebih besar dibandingkan IB, dimana IT naik 0.30% sedangkan IB naik 0.13%.

NTUP juga terjadi kenaikan indeks 0,05%, yaitu 110,02 pada bulan Juli 2016 menjadi 110,08 pada bulan Agustus 2016. Artinya kemampuan petani untuk membeli biaya produksi untuk usaha taninya sedikit meningkat dibandingkan bulan sebelumnya, terutama kontribusi dari kenaikan NTUP pada sub sektor tanaman perkebunan rakyat 0,02%.

Besarnya inflasi di perdesaan diindikasikan oleh perubahan indeks konsumsi rumah tangga (IKRT). Pada bulan Agustus 2016, terjadi inflasi perdesaan sebesar 0,06%. Inflasi perdesaan terutama disebabkan inflasi pada kelompok pengeluaran untuk pendidikan dan kesehatan, dimana bulan Agustus merupakan awal tahun ajaran baru sehingga pengeluaran rumah tangga petani lebih banyak untuk pendidikan. Kelompok bahan makanan justru mengalami penurunan harga atau deflasi.Adanya inflasi perdesaan ini membawa dampak pada kecilnya peningkatan NTP.

Prediksi kemiskinan di perdesaan menurun semakin nyata pada beberapa bulan ke depan. Ini terjadi karena seiring dengan kinerja pertumbuhan ekonomi yang disokong oleh sektor pertanian. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal-II 2016 sebesar 5,18 pesen atau meningkat dari 4,91 persen pada kuartal-I dan lebih tinggi dibandingkan kuartal-II 2015 sebesar 4,66 persen (year on year).

Memang jumlah petani semakin menurun dari tahun ke tahun.  Hal ini menunjukkan sedang terjaddi proses transformasi ekonomi dari menuju negara industri.  Hal ini telah diantisipasi oleh Pemerintah dengan mengawal mereka untuk terjun ke sektor industri dan lainnya, serta untuk ketenagakerjaan sektor pertanian diatasi dengan mekanisasi.  Modernisasi pertanian dilakukan dengan program penyaluran alat dan mesin pertanian secara besar-besaran dan dikawal dengan ketat sehingga telah mampu meningkatkan efisiensi input, meningkatkan produktivitas serta mengurangi susut hasil.

Kebijakan pengendalian impor dan mendorong ekspor telah menunjuukan hasil.  Neraca perdagangan pertanian surplus disaat ekonomi global lesu. Impor pangan semakin menurun dan tahun 2016 sudah tidak ada lagi impor bawang merah.

Mencermati data impor beras. Agar dicermati jenis impor menurut kode HS nya. Impor beras 2016 itu berupa beras bentuk lain untuk pakan terbak dan beras khusus penderita diabetes. Jadi pada 2016 tidak ada impor beras medium. Produksi 2016 lebih tinggi dibandingkan 2015 dan surplus untuk memenuhi kebutuhan domestik.

Untuk diketahui terkait impor jagung bahwa pada 2015 Indoneia telah mampu menekan impor jagung Januari-Juli 2016 turun 56%. Kebijakan dan program jagung secara masih ini optimis 2017 sudah tidak impor jagung.

Menariknya, menurut Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS (Kecuk Suhariyanto), perbaikan pertumbuhan ekonomi pada kuartal-II 2016 sangat dipengaruhi dari kontribusi sektor pertanian yang melampaui prediksi dan kontribusi sektor pertanian sangat besar yakni 14,14% dari total pertumbuhan ekonomi nasional.

Fakta membuktikan, walaupun di tahun 2015 pertanian Indonesia dalam kondisi El-Nino, Program Upaya Khusus (Upsus) ternyata berhasil meningkatkan produksi pangan secara tangguh. Pertama, produksi padi 2015 naik 6,42 persen, jagung naik 3,18 persen dan kedelai naik 0,86 persen dibandingkan tahun 2014 (BPS 2016)

Keempatprogram irigasi, bantuan alsintan, subsidi pupuk, pendampingan dan lainnya dengan tingkat kepuasan petani 76,8persen kepuasan tertinggi pada pendampingan sebesar 89,6 persen (INDEF 2016). Demikian juga survei CSIS kepuasan terhadap pemerintahan JOKOWI selama dua tahun naik dari 50,6 persen menjadi 66,5 persen dan petani menjadi lebih optimis dan bahagia.

Keberhasilan program pertanian ini dianalisis olehThe Economist Intelligence Unit menunjukkan indeks ketahanan pangan global atau Global Food Security Index (GFSI) tahun 2016 Indonesia meningkat dari peringkat ke 74 menjadi ke 71 dari 113 negara. Indonesia merupakan salah satu negara yang mengalami perubahan terbesar pada indeks keseluruhan (2.7). Aspek Ketersediaan Indonesia tahun 2016 berada pada peringkat ke 66, jauh di atas peringkat Keseluruhannya (ke 71).(*)


Sumber: Pusdatin Kementan

27.1.17

Membincangkan Pilkada Jakarta


SAYA selalu membayangkan bila pemilihan kepala daerah (pilkada) atau pemilihan pemimpin lainnya adalah benar-benar sebuah ‘pesta rakyat’. Sebuah ajang rakyat untuk bergembira. 

Sebagaimana sebuah ‘pesta’, semua rangkaian peristiwa yang ada di dalamnya hanya menyampaikan satu warna pesan: "Kegembiraan".

Kegembiraan rakyat di sini bukanlah sejenis kegembiraan yang naïf, atau sejenis pesta pora yang melupakan diri. Kegembiraan rakyat pada pilkada harus dimaknai sebagai kegembiraan substantif. Kegembiraan sebuah kemenangan karena pada ajang inilah rakyat benar-benar menjadi pemegang kedaulatan dalam arti sesungguhnya.

Dengan kata lain, kegembiraan rakyat pada pilkada  adalah kegembiraan menjadi “penguasa sesungguh”-nya. Dalam konteks itu, rakyat menjadi pemegang “saham’ yang berhak menentukan siapa yang bakal mampu “melayani” mereka. Pilkada kegembiraan adalah pilkada untuk memilih para “pelayan”.

Namun, dalam banyak peristiwa pilkada, kita jarang menemukan “gambaran momentum” tersebut. Yang banyak tersaji justru sebaliknya, rakyat senantiasa menjadi “kayu bakar” para kandidat yang bertarung dalam pemilihan. Rakyat dimanipulasi menjadi sebuah kerumunan dan “dibakar” untuk kemenangan sang kandidat.

Saya pernah berpikir, dalam konteks sebuah masyarakat yang baru belajar berdemokrasi.  barangkali kita memang harus melewati tahapan ini. Bagaimana pun, sebuah demokrasi yang sehat memang harus ditandai dengan munculnya warga-negara dan bukan lagi sebuah massa kerumunan.

Yang menjadi masalah adalah semakin lama pilkada di negeri ini semakin terlihat tak bermutu. Alih-alih menjadi warga-negara, justru kita semakin terlihat tenggelam dalam arus kerumunan yang kehilangan akal sehat. Tensi kecerewetan kita memang menjadi demikian tinggi, namun yang dominan bukanlah kecerewetan warga-negara yang kritis dan rasional, namun kecerewetan yang berbau nyinyir bahkan cenderung desruktif.

Contoh paling memiriskan dari gambaran ini adalah rangkaian peristiwa dalam Pilkada DKI Jakarta 2017. Inilah pilkada yang paling tak rasional serta tak memiliki nilai positif bagi terbangunnya warga negara di sebuah negeri yang demokratis. Sebuah rangkaian peristiwa yang demikian “busuk” karena rakyat digiring untuk saling membenci, saling menghujat dalam baluran sentiment keagamaan dan kesukuan.

Pada pilkada DKI Jakarta ini, kita menyaksikan bagaimana sebuah toleransi dikoyak-koyak oleh sebuah ambisi beberapa orang elite negeri ini. Rangkaian fitnah, berita kebohongan (hoax) berseliweran riuh dan menyesaki udara. Inilah pilkada yang begitu banyak merontokkan nilai-nilai positif dari demokrasi dan kedaulatan rakyat. Inilah pilkada yang paling memilukan. (*)

26.1.17

Indonesia dalam 1/2 Gelas Air


BAGAIMANA kita membincangkan negeri Indonesia ini, saat ini? Sejujurnya saya harus mengatakan “muram’ dan ‘buram’. Di negeri ini, waktu seakan berkerumun dalam gumpalan jelaga pekat yang berisi kegaduhan suara dengan tensi yang demikian tinggi oleh nada kebencian dan hasutan.

Hari-hari ini, di media sosial, kita selalu “ditampar” oleh beribu-ribu makian, fitnah, berita bohong, hasutan, agitasi dan rasa kebencian yang membumbung. Ruang interaksi dan relasi kemanusiaan kita seakan hanya menghadirkan warna kemarahan yang telah kesumat. Di media sosial, kita menjadi ‘pembenci’ yang mengajak orang untuk ikut membenci –dengan cara apa pun, meski itu berupa fitnah dan kebohongan.

Benarkah republik ini sedemikian ‘muram’ dan ‘buram’? Sejujurnya saya harus mengatakan iya. Namun, dalam situasi seperti ini, saya menemukan sebuah tulisan ringkas tapi mampu sedikit banyak membantu memperbaiki cara pandang saya terhadap situasi negeri ini yang saya anggap berada pada titik paling nadir. Tulisan tentang “segelas air” sebagai perumpaan sebuah cara pandang. Begini tulisan tersebut:

“Jika setengah gelas air dimasukan ke dalam sebuah gelas, apakah gelas tersebut setengah isi atau setengah kosong? Mungkin Anda pernah mendengar cerita tentang dua orang anak yang optimis dan pesimis mengenai sikapnya terhadap ember berisi air setengahnya, apakah setengah isi atau setengah kosong. Tetapi yang akan dibahas disini lain lagi, karena jawaban setengah isi maupun setengah kosong keduanya bisa salah bisa juga benar.

Jika Anda menjawab bahwa gelas tersebut penuh, itu juga juga bisa menjadi jawaban yang benar. Dan justru inilah jawaban yang paling benar. Mengapa? Karena gelas tersebut memang penuh: setengah diisi oleh air dan setengah lagi diisi oleh udara, jadi totalnya gelas tersebut penuh. Yang menjawab setengah isi juga bisa benar jika sudut pandang terhadap isi gelas tersebut tertuju pada air saja. Udara dilupakan untuk sementara.

Setengah kosong juga benar, secara harfiah. Tetapi jawaban seperti menunjukan bahwa kita selalu fokus terhadap yang tidak ada bukan fokus terhadap yang ada yang akan membuat kita memiliki rasa bersyukur. Sementara rasa syukur akan meningkatkan motivasi diri kita. Tetapi untuk kontex lain jawaban ini ada baiknya, misalnya saat kita sedang membuat rencana mencapai sesuatu, kita harus melihat kekosongan sehingga bisa menentukan tindakan apa saja yang harus dilakukan untuk mengisinya.

Ternyata, dari gelas yang terisi air setengahnya bisa memberikan banyak sudut pandang. Hal ini memberikan hikmah kepada kita bahwa dalam melihat sesuatu harus dari berbagai aspek, kita tidak bisa melihat dari satu sisi saja dan kemudian menghasilkan kesimpulan yang seolah tidak bisa diganggu gugat lagi. Jika kebetulan kita melihat pada satu aspek yang positif, Alhamdulillah, tetapi jika kita kebetulan melihat pada aspek yang negatif, maka kehidupan kita akan terjebak selamanya pada kepercayaan negatif.” (*)

25.1.17

Gebrakan Menteri Pertanian Potong Rantai Pasok Jagung dan Berdayakan Petani


MENTERI PERTANIAN (Mentan) Andi Amran Sulaiman menghadiri panen raya jagung di Mojokerto. Di acara ini juga berlangsung penandatanganan MoU Kemitraan antara PT Chareon Pokphand Indonesia Tbk (CPI) dengan petani jagung binaan BISI, sebuah perusahaan benih untuk tanaman pangan dan holtikultura.

Jalinan kemitraan ini disambut gembira oleh Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. Menteri Amran menyebut kerja sama seperti ini, dapat terbentuk suatu sistem baru yang diharapkan bisa memotong rantai pasok, menahan harga pangan pada harga yang wajar, dan menguntungkan petani.

"Terbentuk pasar baru, sistem baru, petaninya sejahtera," ungkapnya sesaat setelah melakukan panen raya jagung di Desa Pohkecik, Dlanggu, Kabupaten Mojokerto beberapa waktu lalu.

Saat ini Pemerintah tengah menyediakan bantuan berupa benih, pupuk dan herbisida demi membantu produksi di tingkat petani jagung. Dengan adanya sistem seperti ini, ditargetkan pula dapat mewujudkan swasembada jagung di tahun 2018 nanti. Alhasil, penghasilan petani bisa 'meroket'. 

"Begitu sistem ini terbentuk, kita akan duplikasi ke komoditas lainnya. Kalau aja ada 10 perusahaan seperti itu, berarti ada 1 juta hektar. Berarti selesai impor," tandasnya. 
"Coba hitung 1 hektar kali 8 ton (estimasi produksi). 8 ton kali 3450. 27 juta. Coba, biayanya kan dibantu Pemerintah. Katakanlah biayanya 20 juta, bagi 3. 7 juta? Lebih tinggi dari gaji bupati. Petaninya sudah untung, peternaknya untung, pengusahanya untung. Ayam juga jangan jatuh terlalu jauh. Ini yang kami kejar," pungkasnya. 

CPI sendiri telah berkomitmen untuk membeli seluruh hasil panenan petani program kemitraan binaan BISI. Seluruh hasil panenan jagung akan dibeli oleh CPI sesuai dengan harga referensi (HPP) dari Pemerintah. 

Sebagai informasi, tahun 2016 ini BISI siap untuk memperluas area program kemitraan dengan petani binaan sebesar 100.000 hektar yang tersebar dari Sumatera Utara, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, NTB dan Sulawesi Selatan. 

Dari rencana luasan lahan kemitraan jagung 100.000 hektar di tahun 2016 ini, Kabupaten Mojokerto menjadi salah satu daerah utama tujuan program tersebut. Sampai dengan bulan Juni 2016 ini tercatat luas area kemitraan jagung di Kabupaten Mojokerto telah mencapai 5.000 hektar.(*)