Puisi

17.6.20

Bertrand Russell


NAMA lengkapnya Bertrand Arthur William Russell. Dia merupakan salah satu pemikir modern yang tak gampang dimasukkan dalam tanda kurung kategori aliran apa. Yang bisa dikatakan tentang Russell adalah “jiwa merdeka” dalam setiap gagasan yang dilontarkannya ke publik.

Banyak publik menilai, Russell merupakan pemikir yang tidak memiliki ‘prinsip’. Ini karena berbagai tulisannya kerap saling menegasi antara satu dengan yang lain. Namun bila ditelisik lebih dalam, benang merah yang menyambungkan sejarah pemikirannya terletak pada kata kunci: Kemendekaan Berfikir.

Dari konteks inilah Russell dapat kita masukkan dalam ruang dialektika perkembangan pemikiran dunia. Russel tak segan-segan melalukan tikungan pemikiran yang sangat tajam karena mengetahui bila dunia memang terus bergerak dalam dinamika yang nyaris tak bisa diprediksi.

Russell adalah salah satu pemikir besar dunia yang sangat alergi dimasukkan dalam tanda kurung kategori aliran maupun mazhab. Dia adalah pemikir bebas. Kita bisa membandingkannya dengan pemikir dunia lain semacam Edward Said dalam titik bahwa seluruh apa yang dia lontarkan lahir dari hasil rahim kemerdekaan berfikir yang dia terapkan secara keras dalam hidupnya.

Satu yang sangat menghentak dalam pemikiran Russell adalah ketidak percayaannya pada institusi agama, khususnya agama Kristiani. Sebuah buku kompilasi pemikirannya yang diberi judul “Tuhan Tanpa Agama” menjadi demikian menimbulkan kontroversi.

Tapi itulah Russell dengan segenap kekerasan hati dan integritas jiwa bebas yang dimilikinya. Dalam serbuan caci maki dan cibiran, dia berdiri tegak. Dia adalah sebuah fenomena yang sedikit aneh dalam dunia yang dipenuhi orientasi materialisme an sich. Russell adalah intelektual par exellence. (**)

2.6.20

Wabah, Politik dan Empati Kemanusiaan


WABAH virus corona benar-benar menghentak jagat global. Dalam kurun sejarah, barangkali baru kali ini dunia dilanda turbulensi kepanikan serempak yang luar biasa.

Sejarah wabah memang telah beberapa kali melanda dunia dari masa ke masa, namun baru kali ini “kaki penyebarannya” demikian cepat serta demikian sulit dikendalikan dan membawa dampak yang demikian mengharu-biru. Baik itu ekonomi, sosial dan politik.


Dalam sejarah panjang keberadaan bumi, serangan wabah yang mematikan telah beberapa kali menyerang manusia dengan korban yang dwmikian banyak. Yang membedakannya dengan saat ini adalah dimensi politik ekonomi yang mengiringinya.


Guncangan virus corona yang kerap disebut covid-19 ini bukan saja punya daya tular yang demikian cepat dan mematikan, namun juga memporak-porandakan ekonomi global.


Di sisi lain, wabah ini juga dibungkus dengan dentuman politisasi yang demikian vulgar. Bencana kematian kemudian menjadi sajian yang dipamerkan hanya lewat statistik.


Setiap hari kita saksikan -dengan kecamuk perasaan- bagaimana pejabat pemerintah mengumumkan dengan nada suara datar daftar orang-orang yang terinfeksi virus, yang dirawat, yang sembuh dan yang meninggal. Di sana kita melihat deretan angka-angka mengalir yang semakin hari membuat sense of humanity kita perlahan tumpul. Bebal dan perlahan meletakkannya dalam dimensi dunia lain.


Barangkali, saat seperti inilah, kemanusiaan kita diuji dengan keras. Empati dan perikemanusiaan kita digodok untuk tetap berdiri dalam sikap tidak memandang manusia hanya semacam angka-angka statistik. Tidak menjadikan bencana kemanusian ini sebagai ‘lahan’ politisasi untuk keuntungan pribadi dan kelompok. Di saat seperti inilah kita berada di ambang pintu menjadi manusia atau menjadi binatang yang bisa berpikir. (**)


Tulisan ini pernah dimuat di smartcitymakassar.com


26.5.20

Semiotika Pagi


PAGI senantiasa memiliki aroma khas yang ‘membius’. Udara segar meruap, cericit burung dan lirih angin adalah bingkai pagi yang kerap membikin kita terpaku dalam rasa yang melambung.

Barangkali karena itulah pagi selalu menerbitkan harapan. Semacam pertautan paling intens dan purba antara sisi kemanusiaan kita yang murni dengan alam yang tanpa pamrih memberi. Pagi adalah letupan cinta yang membentuk embun bening. Pelan menguap dan meninggalkan sebentuk senyum yang ikhlas.

Banyak dari kita -manusia modern ini- tak mampu lagi menikmati pesona pagi. Kehidupan dan rutinitas merampasnya dalam baris-baris rasa cemas. Kehidupan telah membikin kita manusia pencemas abadi yang demikian terpojok dalam ketakutan akan masa depan.

Maka pagi pun selalu terlewati dengan percuma. Kita tak pernah lagi menyimak bagaimana prosesi embun yang terlihat demikian tulus menyerahkan dirinya untuk terbitnya matahari. Kita tak lagi mampu merasakan desir angin jatuh di pucuk daun dalam gerimis pagi yang bening.

Dunia modern telah ‘menyulap’ pagi hanya menjadi serangkaian tahapan waktu yang bergerak linier. Kita menjadi menusia setengah ‘mesin’ di sana. Dunia kemudian menjadi demikian membosankan. Dan kita hadir hanya untuk mencemaskan apa pun di hadapan kita. (*)

14.5.20

Tua Itu Sunyi


Tua itu sunyi, ketika satu-persatu penanggalan gugur dalam hening
Tua itu sunyi, ketika senja memanggil laut untuk meninggalkan pantai

Ada yang terlepas, ada yang terbenam dalam kenangan

Tua itu sunyi, ketika langit demikian dekat pada di cakrawala
Tua itu sunyi, ketika jendela perlahan terkatup sehabis gerimis

Ada yang meredup, ada yang datang membawa malam



Makassar, Mei 2020

10.5.20

Sajak


Kupilih engkau, kupilih engkau jadi bulan
Di sayap malaikat, berpendar cahaya
Turun perlahan, dalam sunyi dalam doa

Berhelai-helai rindu membangun sarang di hati

Kupilih engkau, kupilih engkau merawat malam
Keheningan adalah kesempurnaan cinta
Luruh perlahan, dalam sunyi dalam doa

Berhelai-helai hujan menunggu rimbun di hati


Makassar, Mei 2020

Ini Bulan Maret


Kalau pun ini sebuah luka
Cinta menggenapkannya
Kalau pun ini sebuah duka
Kasih akan meluruhnya

Ini bulan Maret
Hujan seperti menangis di hati

Kalau pun ini sebuah perih
Cinta jangan membawa pedih
Kalau pun ini sebuah mimpi
Biarkan rindu pelan terlepas di sisi

Ini bulan Maret
Hujan seperti menangis di hati


Makassar, Mei 2020

Kursi


SAYA kurang tahu pasti sejak kapan ‘kursi’ dalam interpretasi pemahaman politik diidenfitifikasi dengan kekuasaan. Yang pasti sejak kekuasaan bukan lagi hak prerogatif ‘darah kerturunan’ seperti di zaman monarki, semiotika ‘kursi’ sebagai rujukan tanda menjadi demikian dinamis.

Dalam terminologi asalnya, kursi menunjuk pada tempat duduk. Dalam ilmu fenomenologi Heidegger, kursi merupakan penghadiran makna tentang segala sesuatu yang terkait dengan potensi masa lalu-masa depan dan kekinian yang hadir dalam diri seseorang. Kursi adalah sebuah sejarah sekaligus harapan yang teraktualisasi di kekinian.

Namun sejak, Foucault meletakkan basis hermeneutika semiologi baru dalam membaca tanda dengan menemukan bahwa setiap tanda senantiasa di dasari oleh geneokologi kekuasaan, maka kursi pun menjadi semakin menarik untuk diberi ruang pengucapan baru.

Kursi pun menjadi sebuah tanda kekuasaan. Sebuah rujukan tanda di mana atribut-atribut primordial kekuasaan itu diangkut di sana baik itu berupa privelege (hak-hak istimewa), kewibawaan, kemasyuran, kekayaan, penghormatan dan kata yang menjelma mantra dimilikinya.

Kursi pun diperebutkan. Diletakkan dalam dimensi sakral untuk dipuja sebagai tanda yang demikian diagungkan. Orang-orang pun bisa melakukan apa saja demi meraih kursi itu. Apa pun bisa dihalalkan. Apa pun bisa diterabas.

Demi kursi, orang saling menjatuhkan, saling fitnah, saling mengbohongi. Kursi demikian ‘manis’ bertengger di sana. Menunggu siapa yang mampu membujuk atau dengan paksa bisa meraihnya. Kursi pun rontok hanya sebagai tanda jatuhnya eksistensial kemanusiaan kita. Sebuah kekosongan kesadaran manusiawi seperti apa yang dikatakan Sartre. (*)