MGPUISI

19.3.19

Islam: Antara Simbol dan Penghayatan Batin


KASUS operasi tangkap tangan (OTT) Ketua Umum PPP, Rohmunurmuziy memang cukup menjadi ‘gempa’ besar dalam ranah politik Indonesia, apalagi jelang Pilpres 2019 yang hanya menyisakan hitungan hari.

Rasa kaget publik memang bisa dipahami, mengingat Rommy sapaan akrab Rohmanurmurziy dikenal sebagai ketua partai yang berbasis Islam Artinya, bila dugaan korupsi ini benar, maka fenomena partai berbasis Islam memang tidak berbanding lurus dengan perilaku para elit politiknya.

Saya teringat, di tahun 70-an, Nurcholish Majid (Cak Nur), seorang cedekiawan muslim yang punya pemikiran sangat progresif itu, pernah memperkenalkan jargon “Islam Yes, Partai Islam No”.

Saat itu, tolakan dan serbuan hujatan menerpa Cak Nur. Banyak yang menudingnya sekuler bahkan beberapa kalangan menjatuhkan vonis pada Cak Nur sebagai kafir.

Di sini saya tak hendak mengulas kembali peristiwa tersebut. Yang cukup menarik untuk kita buka kembali adalah ruang dirkursif sekitar Islam dalam ruang penghayatan batin dan Islam sebagai simbol, baik itu berupa partai, jubah serta ornamen lain.

Kenyataannya memang cukup ironis, karena antara simbol dan ruang penghayatan batin serta perilaku ternyata tidak lagi punya kerekatan. Di sana tidak ada lagi sebuah ketersambungan azasi, bahkan memiliki distingsi yang demikian menganga lebar.

Apa yang diproklamirkan Cak Nur dengan jargon “Islam Yes, Partai Islam No”, barangkali sedikit banyak berangkat dari keprihatinan semacam itu. Mungkin Cak Nur memang terlalu progresif, frontal dan blak-blakan dalam membahasakannya, namun realitas bahwa antara simbol dan ruang penghayatan batin sebagai umat muslim sama sekali tidak memilik tali ketersambungan lagi.

Dalam konstalasi itu, Islam kemudian hanya dipakai sebagai alat (jubah) untuk membangun persepsi kealiman seseorang atau suatu kelompok.

Dan kita yang menyaksikan realitas seperti ini mau tak mau harus belajar kembali meletakkan kekuatan ‘mata batin’ untuk bisa membedakan mana 'ayam' mana 'musang berjubah ayam' dalam riuh rendahnya simbol-simbol keislaman yang ada saat ini. **

16.3.19

Jadilah Hujan di Halaman Rumahmu


Jadilah hujan di halaman rumahmu. Ketika angin berhenti dan sebentuk rindu jatuh pada foto-foto usang tanpa bingkai tepat di jantungmu. Di sini waktu tak juga membikin segalanya lapuk. Bersama ingatan-ingatan yang membangun sarang. Tempat burung-burung senja menukar dengan rasa pilu.

Tak ada lagi yang mengetuk pintu. Kesunyian adalah tasbih hujan yang engkau putus satu-persatu. Sebentuk dingin pecah dari kepingan masa lalu tempat anak-anak bermain di tikungan rindu.

Jadilah hujan di halaman rumahmu. “Duka itu abadi”, demikian pernah engkau dengar sebuah puisi mencatatkan dirinya. Lalu perlahan langit meninggalkan basah. Meninggalkan jejaknya di matamu. Di matamu


Makassar, 2019

13.3.19

Politik dan Puisi Fadli Zon serta Neno Warisman


ADA yang menarik setiap tahapan pemilihan presiden (Pilpres) memasuki fase-fase puncak. Mendadak puisi menjadi sebuah amunisi untuk kampanye sekaligus punya obsesi menjatuhkan nama baik lawan politik. 

Sebutlah puisi politikus Fadli Zon dan puisi (doa) Neno Warisman yang menjadi viral jelang Pilpres 2019. Motif yang ada dibalik puisi (kalau pun memang pantas disebut puisi)     sangat mencolok; menggiring opini publik untuk suka atau tidak suka pada sesorang. Puisi jenis ini dalam kadar tertentu lebih lekat disebut puisi famplet atau puisi propaganda. Bisa dijamin umur puisi ini sangat ringkas dan akan mati terlupakan seiring dengan melapuknya isu yang diangkat.

Memakai idiom-idiom serta style puisi dalam ruang-ruang politik memang bukan barang baru. Namun yang banyak membedakan adalah kadar pengucapan puitik serta ledakan puitik (bukan politik) yang mengiringinya. 

Kita pasti mengenal penyair Chairil Anwar, Rendra atau yang paling lewat dibenak kita tentang sebuah perlawanan adalah penyair Wiji Thukul. 

Penyair-penyair ini menjadi sebuah icon perlawanan sosial politik. Mereka adalah simbol perwujudan kata-kata yang meraksasa dan sanggup membuat nyali sebuah rezim menciut. Merekalah yang menjadikan kata-kata terasa lebih menakutkan dari 'sepasukan tentara dengan persenjataan lengkap'. Demikian menohok dan mengiris bagai silet namun juga demikian puitis dan menyentuh langit-langit kemanusian dan nurani kita. Inilah yang membikin puisi mereka terus berbinar menyala dan hidup abadi. 

Lalu apa yang menjadikan puisi bercorak kritik sosial politik dari Chairil, Rendra maupun Wiji Thukul dengan puisi (kalau pun dinamakan puisi) milik Fadli Zon atau Neno Warisman? Bisa dipastikan yang membedakannya terletak dalam ‘proses kreatif’ yang membidani lahirnya puisi tersebut. 

Pada puisi Fadli Zon atau Neno, bisa dipastikan nir-proses kreatif di sana. Puisi itu bukan hasil dari sebuah keutuhan dari 'pengalaman puitik' besar yang senantiasa mengiringi lahirnya sebuah puisi besar. Puisi Fadli dan Neno adalah sebuah parade kata-kata ‘kebencian’ dan syahwat berkuasa yang diinjeksi dengan permainan kata-kata. Tak lebih tak kurang. 

Viralnya puisi mereka bukan karena selaras dan menjadi ‘penyambung’ common sense hati nurani kemanusiaan kita, namun karena memanfaatkan isu politik yang lagi tren serta adukan emosi ‘ketidak-sukaan’ sekelompok orang karena perbedaan pilihan politik dalam pilpres. Hanya itu. Selebihnya, puisi (kalau pun bisa disebut puisi) dari Fadli dan Neno menjadi ledakan petasan dari perayaan rasa benci yang umurnya bisa dipastikan singkat dan tak meninggalkan jejak apa-apa. 

Puisi Fadli dan Neno adalah buih-buih gelombang yang dengan gampang lenyap tak berbekas seiring datangnya gelombang isu politik yang baru. Sebuah ciri khas dari puisi propaganda dengan kadar artifisial yang buruk. **

9.3.19

Jiwa-Jiwa yang Rumit


TERKADANG seorang lahir mendahului zamannya. Dalam kondisi serupa itu, dunia tempat dia hidup menjadi sebuah ‘medan’ pergulatan batin yang demikian berat. Memang, tak ada yang lebih memilukan ketika seseorang dan dunia beserta masyarakat yang di sebuah zaman tidak saling menemukan keselarasan dalam batin, persepsi maupun harapan. 

Ada banyak contoh terkait jiwa-jiwa ‘merana’ sesorang yang tak mengerti dan sekaligus dimengerti oleh zaman di mana dia hidup. Khalil Gibran, Sokrates, Nietzsche dan Voltaire adalah sedikit contoh dari sosok yang senantiasa ‘berkelahi’ dengan zaman di mana mereka hidup. 

Talenta yang meledak-ledak adalah salah satu penyebab mengapa sosok seperti ini harus melakukan pergulatan batin yang sangat melelahkan, bahkan dalam kadar tertentu nyaris meluluh-lantakkan seluruh peri kehidupannya. Zaman menganggap mereka memang sosok yang aneh dan kita dengan sedikit pemahaman tentang keluasan jiwa manusia hanya sanggup menilai bila mereka adalah sosok dengan kepribadian yang rumit.


Khalil Gibran, Sokrates, Nietzsche ataupun Voltaire adalah sosok yang menapaki hidup ‘jauh dari jenis kebahagiaan’ seperti yang diasumsikan serta diindoktrinasikan oleh ideologi modern seperti saat ini. Mereka adalah jiwa berasal ‘daerah ketinggian’ -meminjam kata filsuf Nietzsche- dengan kemandirian pribadi kadar kekerasaannya bagai beton. Tak ada rayuan apa pun yang bisa menggeser prinsip-prinsip yang telah dianutnya dan itulah yang membuat mereka senantiasa tak nyaman berada dalam dunia yang penuh kemunafikan. ***

8.3.19

Tak Ada Lagu Pengiring Bagi Kematianmu


Jalan-jalan engkau timbun dengan rindu
Di batas langit segala doa telah kelabu
Tak ada jatuhan daun di senja itu
Ketika sebuah puisi engkau sematkan di rahimnya

Lalu, perlahan hujan turun berwarna kesumba
Pecahan waktu terus menyimak sunyi
Tak ada lagu pengiring bagi kematianmu
Hanya timbunan rindu yang terus tumbuh di ilalang


Makassar,2019

6.3.19

Membaca Pilpres 2019: Pertarungan dalam Bayang-bayang "Kuda Troya"


PEMILIHAN PRESIDEN (Pipres) 2019 tersisa kurang lebih 2 bulan lagi. Dari berbagai survei yang dirilis beberapa bulan terakhir ini, menggambarkan pasangan calon petahana Jokowi yang kali ini menggandeng Ma'ruf Amin sebagai pendampingnya masih unggul dengan selisih sekitar kurang lebih 20% dibanding pasangan Prabowo-Sandiaga Uno. 

Namun peta kekuatan para kandidat sebenarnya masih sangat cair dan gampang bergeser, mengingat masih besarnya pemilih yang mudah beralih suara (swing voters) serta pemilih yang belum menentukan pilihan. 

Namun di sini saya tak membahas siapa yang bakal memenangkan pertarungan Pilpres di 2019. Namun lebih menukik pada konstalasi kekuatan politik yang juga mau-tak mau terkait dengan jatah kekuasaan dan pengasaan ekonomi dari para ‘pemain’ dalam percaturan perebutan kekuasaan.

Satu hal yang menonjol dari pembacaan jelang pilpres 2019 kali ini adalah kembali menguatnya kekuatan politik lama yang pernah berkuasa selama 32 tahun yakni orde baru.

Kembali menguatnya isu kekuatan orde baru memang senantiasa muncul saat menjelang Pilpres, namun bedanya pada Pilpres-pilres lalu, isu ini tidaklah terlalu mengemuka. Kali ini isu tersebut banyak merebut ruang diberbagai media massa, bahkan dalam kadar tertentu, isu ini beberapa kali diangkat oleh salah satu kandidat peserta Pilpres. 

Membaca hal itu, ada beberapa analisa yang bisa kita elaborasi fenomena tersebut. Pertama, isu ini terasa kuat karena keluarga mantan penguasa orde baru (baca: keluarga Cendana) menilai saat ini jadi momentum mereka masuk kembali ke ruang-ruang pertarungan politik. Salah satunya adalah dengan mendirikan partai politik. Barangkali mereka menganggap, rakyat telah bisa berdamai dengan masa lalu dan dalam hitungan demografi, mayoritas pemilih saat ini tidak pernah merasakan langsung ‘cengkeraman’ kekuasaan orde baru.

Kedua, Isu ini menjadi hangat karena elemen kekuatan orde baru menganggap konsolidasi kekuatan mereka telah mapan kembali. Kesalahan fatal para pejuang reformasi di tahun 1998 lalu adalah hanya berhenti pada pergantian pucuk dari sebuah rezim tanpa mereformasi total seluruh tatanam sistem yang menjadikan Indonesia nyaris bangkrut. Dengan hanya menurunkan Soeharto, segala yang ‘berbau’ orba masih melekat dalam kerja sistem pemerintahan dan kenegaraan. Contoh yang paling mencolok adalah masih mapannya kekuatan ‘mafia’ diberbagai lini serta perilaku korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) tidak mereda bahkan semakin berkecambah.

Inilah yang menjadikan Indonesia belum juga mampu ‘keluar’ dari sengkarut permasalahan lama dan hanya bisa bergerak parsial sebagai negara yang bercorak reaktif dan bukan proaktif. Segala perencanaan pembangunan yang di atas kertas demikian ‘wah’ dan hebat jadi melempem ketika masuk ke tataran pelaksanaan. Sumberdaya Manusia (SDM) yang belum bertransformasi dan masih ‘mengidap penyalkit lama’ adalah salah satu penyebab utamanya.

Ketiga, isu orde baru di hadapan masyarakat yang tidak merasakan langsung suasana saat ini memang gampang ‘digiring’ untuk ‘berhalusinasi’ bila kondisi saat ini memungkinkan untuk itu. Untuk menciptakan suasana kebatinan serupa itu, maka propaganda “Lebih Enak Hidup di Zaman Soeharto” dimassifkan serta dibarengi dengan membangun wacana politik yang terus menerus bising dan tak nyaman. Inilah yang kita rasakan saat ini. Sebuan hoaks, fitnah, kebencian berseliweran di mana-mana. Suasana chaos terus didengungkan, sehingga mampu tertanam baik di benak rakyat.

Bila suasana ini terus terbangun dan tak mampu diredam, bukan tidak mungkin bayang-bayang ‘kuda troya’ dalam politik kekuasaan Indonesia akan terjadi. Kisah ‘kuda troya’ adalah cerita bagaimana tentara Yunani mampu menaklukkan kota Troya yang memiliki benteng pertahanan yang nyaris tak tertembus. Dengan memanfaat kan tradisi para tentara Yunani berpura-pura kalah dan putus asa. Mereka mengirim hadiah patung kuda besar sebagai tanda kekalahan. Namun di balik patung kuda itu bersembuyi para tentara Yunani dan ketika malam tiba, mereka keluar dan menghancurkan kota Troya beserta tentaranya dari dalam benteng.


Kita tak tahu pasti bahwa di dalam tubuh pemerintahan Jokowi-JK ada berapa banyak ‘kuda troya’ yang bercokol. Pelan-pelan mengerogoti dan akhirnya di saat subuah momen tepat mereka tampil dalam wujud aslinya dan mengembalikan sebuah rezim yang dulu demikian mencekam. Sebua rezim new orde baru.**

1.3.19

Di Depan Pintu Dia Menunggu


Cahaya lampu itu menanam hujan
Jalan-jalan berbinar sepi
Di depan pintu dia menunggu
Pada ketukan pertama ketika maut menyapa

Sunyi berderu dalam daun-daun basah
Di langit doa telah berantai
Tak ada tempat lagi bagi rindu
Perciknya hingga ke ulu hati

Kelambu yang terpasang sudah kosong
Anak-anak pergi membawa masa lalu
Di depan pintu napasnya terus membatu
Pertemuan dan kehilangan terus menyatu


Makassar 2019