eMGePuisi

18.7.19

Kota yang Dirindukan


ADA kota yang ketika kita kunjungi senantiasa menyimpan rindu saat kita sudah meninggalkannya. Kota semacam ini seperti selalu ‘berbunyi’ dalam ingatan. Suasananya, detak napasnya, ruang-ruang kekariban yang dihadirkannya seperti terus berdenyut dalam nadi kita.

Terus terang, saya tak tahu pasti, apa yang menjadi daya tarik sebuah kota sehingga kita selalu memupuk harapan untuk kembali menyapanya. Tapi saya pernah membaca sebuah buku bagus berjudul “Tempat-Tempat Imajiner” karya Michael Pearson. 

Buku ini bercerita tempat yang mengabadi dalam waktu. Kota tempat seorang penulis besar (sastrawan, penyair, seniman) membekukannya dalam imajinasi, baik itu dalam bentuk roman, novel atau puisi. 

Sebuah kota kemudian menjadi terus berdenyut di sana. Dalam bayang-bayang imajinasi yang dihidupkan oleh sang penulis, seperti kota Mississipi-nya Faulkner, kota Florida-nya Hemingway,  Kalifornia-nya Steinbeck atau Missouri-nya Mark Twain.

Memang, buku ini berangkat dari sebuah cita rasa bahwa setiap karya sastra senantiasa memiliki sebuah konteks. Sebuah tempat. Sebuah kota.  Inilah yang menjadikan sebuah kota terus menerus melekatkan diri dalam imajinasi seorang penulis. Yang terus menerus menghidupi kota tersebut dengan siraman imajinasi, cinta dan kerinduan. Inilah yang menjadikan sebuah kota memiliki pengucapan. Sebuah cara khas berucap pada seseorang yang mengunjunginya. (*)

13.7.19

Pelaut


Ternyata laut belum cukup menyimpanmu dengan rapi. Pada setiap gelombangnya, daun-daun pun luruh di hatimu. Peta tua itu tak lagi bisa membaca jalan-jalan pulang yang lekuk kelokannya engkau hapus di penanggalan. 

Di setiap persinggahan pelabuhan, engkau selalu menyangka inilah rumah terakhir tempat cintamu menemukan sepasang kekasih larut memandang senja di pantai. Dan segala kata-kata bersinar di temaram lampu dengan bayang-bayang pohonan menari lembut.

Ternyata laut masih saja bisa membuka kerinduan yang engkau sembunyikan di matamu. Setiap pagi dan petang, angin meletakkan surat di tiang-tiang layar. Mengabarkan rumah yang tak lagi engkau tahu di mana letaknya.


Makassar, Juli 2019

8.7.19

Pernahkah Engkau Cemas dengan Maut di Hadapanmu?


Siapa yang meletakkanmu dalam mesin foto copy? Di mana laut begitu sunyi ditinggal deru ombak.
Sepasang kekasih menceritakan kisahmu sambil berbisik cemas. Di sini, rindu demikian mati.
Sebuah rumah kecil dengan jalan kecil tercetak di kertas itu. Tak ada guguran daun dalam angin.
Kesunyian adalah kutukan, ucapmu, tapi sepasang kekasih itu tak mendengarmu. Hanya suara kresek kertas jatuh di lantai.

Siapa yang membujukmu pindah ke sebuah foto? Di sana engkau terus menerus bermigrasi dari satu tempat ke tempat lain.
Mencoba membunuh waktu, menyingkap masa lalu, lantas menguning dalam kertas yang lapuk.
Pernahkan engkau cemas dengan maut di hadapanmu? 


Makassar, Juli 2019

28.6.19

Sosok Sang Pengabdi, UQ Sukriansyah: Perjuangan Tidak Pernah Selesai, Jangan Gampang Menyerah


“JANGAN Pernah Menyakiti Hati Orang Lain”, demikian filosofi hidup yang dipegang teguh dalam setiap jejak langkah hidupnya. Inilah yang menjadikan kehadiran Sukriansyah S Latief senantiasa diharapkan di antara sahabat, kawan, kolega maupun bawahannya di setiap jabatan yang diamanahkan kepadanya.
Lahir di Ujung pandang, tanggal 30 Agustus 1969. UQ Sukriansyah -demikian dia disapa- memang senantia ‘bersinar’ dalam berbagai interaksi pergaulan. Gayanya yang khas, energik, humoris, santai serta gampang membaur menjadikan UQ sosok yang tidak berjarak dengan siapa pun. 

Dengan latar belakang sebagai jurnalis, ketangkasan UQ dalam membangun komunikasi tak lagi diragukan. Kehadirannya dengan segala jabatan penting dan strategis yang diembanya tidak membuahkan sebuah pertemuan yang kaku dan formil. Gaya kasual, santai dengan kaos oblong, sepatu kets memang menjadi ciri khas penampilannya. 

Kesan pertama yang muncul ketika pertama kali bertemu dengan UQ adalah kebersahajaan dalam penampilan. Di sisi lain, kesan gesit, menghindari tetek benget seremoni formil dan bergerak cepat juga sangat menonjol di sana. 

Bagaimana pun inilah tipikal sosok pekerja keras yang menggandrungi tantangan. Dalam takaran tertentu, kita bisa membandingkannya dengan sosok jurnalis besar lainnya yakni Dahlan Iskan. Gaya khas UQ yang energik menggambarkan sosoknya yang tak betah berlama-lama di belakang meja. 

Ini pula yang menyebabkan UQ sangat detail dalam setiap menghadapi sebuah gagasan, ide, maupun sebuah persoalan. Tipikal khas seorang pemimpin yang tidak menelan mentah setiap laporan bawahannya, apalagi yang bercorak asal bapak senang (ABS), namun langsung turun ke lapangan melakukan cross check. 

Sebelum ‘blusukan’ menjadi idiom yang ramai diperbincangkan di ranah politik, UQ telah melakukannya. Sifat dasarnya yang memang demikian senang bersilaturrahmi menjadikan gaya khas ‘blusukan’ UQ diwarnai dengan sikap egaliter yang kuat. 

Kekuatan besar yang dengan sendirinya lahir dari sifat dasar yang dimilikinya, menjadikan UQ mampu menelisik jauh dan mengurai setiap persoalan yang diperhadapkan padanya. Dengan kemampuan intelektual khas tersebut, tidak mengherankan bila UQ bisa memadukan dan mensinergikan antara sosok seorang pemikir dengan sosok pekerja keras, antara sosok seorang generalis sekaligus seorang yang dibekali kemampuan mengimplementasikan dan membumikan gagasan dan visinya. 

Cara berpikir inovatif dan ‘out the box’ yang mampu dengan cepat mengidentifikasi permasalahan kemudian mencari solusi yang kadang radikal dan di luar tangkapan pemikiran linier-logis, menjadikan sosok UQ sangat menonjol. 

Dalam berbagai rapat, dia kadang terlihat santai mendengar semua uraian koleganya, namun di akhir rapat dengan cepat dia mengurai persoalan, lengkap dengan tahapan-tahapan kerja yang harus dilakukan. 

Tidak berhenti di sana, sosok UQ juga memiliki kemampuan khas yang jarang dimiliki oleh kebanyakan pemimpin kita, yakni kehandalannya dalam menyinkronikasi serta menyinergikan berbagai ‘benturan’ ide, gagasan dan persoalaan yang kerap dihadapi di setiap bidang yang di tekuninya. Setiap pemasalahan yang kerap memiliki benturan kepentingan yang saling menegasi, mampu dengan cepat dikelola dengan solusi jitu sehingga tersinergikan dengan baik. 

Dengan kata lain, penguasaan intelektualnya terkait manajemen konflik telah ‘mendarah-daging’ dalam model kepemimpinannya. Dengan gaya yang khas dan tak menyakiti orang lain, mampu mentransformasikan konflik yang ada menjadi sinergi kerja-sama yang kuat. 

UQ, agaknya sangat memahami bahwa di era ini, perubahan merupakan sebuah keniscayaan. Paradoks zaman dan benturan berbagai kepentingan merupakan bagian yang tak terelakkan. Potensi konflik, baik antara masyarakat dengan masyarakat, masyarakat dengan pemerintah atau pun potensi konflik di internal pemerintahan dalam satu area kerja menjadi sebuah fenomena baru. Dan di sana UQ mampu mengelolahnya dengan baik bahkan mentrasformasikannya menjadi energi besar dalam bentuk sinergi untuk tujuan kemaslahatan bersama.

Inilah yang menjadikan UQ mampu melejit dan menjadi ‘bintang terang’ di setiap jabatan yang diamanahkan padanya. 

Satu hal yang juga menonjol dari sosok UQ adalah sifat empatik kemanuasiaannya yang nyaris tak berbatas. Sikap peduli ini memang berangkat dari ruang-ruang paling humanis dalam dirinya. “Jangan penah menyakiti hati orang lain”, kalimat ini sedehana namun merupakan prinsip hidup yang demikian mewah. Sebuah kualitas hidup yang telah melampaui dirinya dengan segala kepentingan pribadi. Sebuah sikap hidup yang telah meletakkan diri dan mewakafkan diri untuk sesama.

Meraih gelar sarjana hukum dari Universitas Hasannuddin, Makassar pada tahun 1998, gelar magister dari Universitas Indonesia dan gelar Doktor bidang hukum dari Universitas Hasannuddin, Makassar, menjadi jaminan mutu sosok UQ di bidang hukum. Dengan disertasi Doktoral yang menjadikan Hukum dan Hak-hak Asazi Manusia (HAM) sebagai topik pembahasan menunjukkan sosok intelektulitas UQ memang sangat kuat dalam mencoba membangun sintesa. Hukum yang kerap diperlawankan dengan hak-hak asazi manusia, secara ilmiah mampu di ramu sehingga menghasilkan terobosan hukum baru yang saling menguatkan dan tidak lagi menjadi ranah yang saling menegasi. 

Sebelum berkiprah sebagai Staf Khusus Menteri Pertanian Bidang Kebijakan, Kabinet Kerja Jokowi-JK, Komisaris BUMN PT Pupuk Indonesia Holding (yang membawahi puluhan perusahaan produsen pupuk seperti PT Petrokimia Gresik, Pupuk Sriwijaya, Pupuk Kaltim dan lain-lain), UQ juga menjabat Komisaris Fajar Group serta menjadi pengajar di Universitas Fajar dan juga pernah mengajar di Pasca Sarjana Universitas Hasanuddin.

UQ, mengawali karirnya sebagai jurnalis surat kabar Fajar, jurnalis Majalah Tempo, Kepala Biro Majalah Forum Keadilan, hingga menduduki jabatan puncak sebagai Pemimpin Redaksi Harian Fajar dan Direktur Fajar merupakan jaminan mutu sosok UQ dalam kemampuannya mengenali sebuah peristiwa atau persoalan tidak hanya di permukaan semata. 

“Untuk menyelesaikan sebuah persolan, kita harus mengenali akarnya dan tidak hanya berhenti pada laporan di atas kertas. Hal ini dibutuhkan insting yang terus diasah serta pengalaman panjang dalam menggeluti berbagai potensi konflik yang terjadi”, ujar UQ suatu ketika. 

Jejak sejarahnya dalam dunia pers dengan mudah ditemukan. Pernah menjabat sebagai Ketua Aliansi Jurnalistik Indonesia (AJI) Makassar, Presidium AJI Pusat, pengagas berdirinya lembaga Anti Korupsi (ACC) Sulsel dan juga penggagas awal berdirinya lembaga nirlaba ( Lembaga Studi Media Massa Indonesia (eLSiM) yang bergerak dalam kajian media massa beserta sosiologi massa. Menulis dan menjadi editor beberapa buku juga menjadi jejak kiprahnya dalam dunia pemikiran. 

“Perjuangan tidak pernah selesai, harus terus diperjuangankan”, kata-kata ini pernah diucapkan ketika memberi motivasi untuk sahabat dan koleganya. (*)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

 Nama                           : Dr. Sukriansyah S. Latief, SH. MH
Tempat/Tgl Lahir         : Makassar, 30 Agustus 1969
Alamat Rumah Dinas : Jl. Jagakarsa II No 2 Kompleks Departemen Pertanian
Jakarta Selatan
Alamat Kantor              :  Jl. Harsono Kantor Kementerian Pertanian Ragunan
Jakarta Selatan
E-mail:                         : sukriansyah88@yahoo.com
Handphone                 : 081-141-3495
Pekerjaan                     : 
1. Staf Khusus Menteri Pertanian Bidang Kebijakan
2. Komisaris PT. Pupuk Indonesia Holding Company
3. Komisaris PT Media Fajar Holding Company

Pendidikan Terakhir: 
Doktor Bidang Ilmu Hukum PPs Universitas Hasanuddin, Makassar

PENGALAMAN KERJA
1. Koresponden Majalah Tempo di Makassar 1993-hingga dibredel
2. Koresponden Media Indonesia Minggu (MIM) 1993
3. Koresponden Majalah Forum Keadilan 1992-2000
4. Redaktur Pelaksana/Wakil Penanggungjawab Harian Fajar 4 Januari 2000
5. Wakil Pemimpin Redaksi/Wakil Penanggungjawab Harian Fajar 1 Desember 2003
6. Pemimpin Redaksi/Wakil Direktur Bidang Produksi Harian Fajar 1 Mei 2005
7. Direktur Umum/Pemimpin Redaksi Harian Fajar sejak 1 Maret 2006
8. Direktur Produksi dan SDM Harian Fajar 2009-2013
9. Direktur PT Media Fajar Holding 2014-2015
10. Dosen Yayasan Pendidikan Fajar Ujungpandang 1998-sekarang
11. Dosen Luar Biasa Pasca Sarjana Universitas Hasanuddin 2011-2014
12. Staf Khusus Menteri Pertanian 2015 sampai sekarang
13. Komisaris PT Pupuk Indonesia Holding Company 2015 sampai sekarang
14. Komisaris PT Media Fajar Holding Company 2015 sampai sekarang

PENGALAMAN ORGANISASI:
1. Ketua Aliansi Jurnalis Indonesia Cabang Sulawesi Selatan 1998-2000
2. Presidium Aliansi Jurnalis Indonesia Pusat 2000-2002
3. Ketua Forum Studi Media Massa Indonesia (Fosdiami) underboow AJI di Makassar sejak Agustus 1997
4. Pengurus Persatuan Sarjana Hukum Indonesia (Persahi) Cabang Ujungpandang, 1997-2001
5. Anggota dan Pendiri Badan Pekerja Anti Corruption Commitee (ACC) 1998
6. Pengurus Yayasan Lembaga konsumen (YLK) Indonesia Cabang Sulsel
7. Pendiri Yayasan Polling Indonesia
8. Pendiri Lembaga Bantuan Hukum  (LBH) Sulsel
9. Pendiri Lembaga Studi Informasi dan Media Massa (Elsim) Makassar, Agustus 1998
10. Anggota Tetap Phinisi Focus Discussion Group Makassar, Desember 2005
11. Pengurus Serikat Perusahaan Pers (SPS) 2013-sekarang

NEGARA YANG PERNAH DIKUNJUNGI
1. Thailand 26-31 Agustus 1999 
2. Singapura 28-29 Mei 2000
3. Hongkong 16-20 Desember 2000 mengikuti Seminar yang dilaksanakan oleh IFJ tentang Hak    Cipta di negara Asia Fasifik
4. Singapura 27 Maret 2002 
5. Filipina 28-30 Maret 2002
6. Singapura 30 Maret-2 April 2002
7. Malaysia 17-21 Juli 2002 mengikuti SEAPA Course on Advanted Reporting held on 18 July to 20 July year 2002 in Malaysia.
8. Eropa: Jerman, Belanda, Italia, Swiss, Perancis,  Belgia  2-13 Juni 2003
9. Singapura 15-17 Juni 2004
10. Malaysia 17 Juni 2004
11. Afrika Selatan 29 November-11 Desember 2004 mengikuti workshop tentang Demokrasi, Konflik Transformasi dan Hak Asasi Manusia yang dilaksanakan Kementerian Hukum dan  HAM Indonesia
12. Malaysia 7-9 Januari 2006 Diundang bersama wartawan Jawa Pos Group untuk Wawancara  Perdana Menteri Malaysia Abdullah Badawi di Malaysia
13. Belanda, selama 3 bulan penelitian S3 dari beasiswa Dirjen Dikti
14. Amerika Serikat selama 3 Minggu belajar Media di beberapa kota di AS
15. Jepang, undangan JICA menelusuri pengembangan PDAM
16. Arab Saudi, bersama umroh Bapak Jokowi dan rombongan selama 3 hari pada tahun 2014
17. Italia, bersama Sekretaris Jenderal Kementan mengikuti IFAD di Roma pada tahun 2015
18. Moscow mengikuti acara IFA 29 mei s.d 1 juni 2016
19. Singapore mengikuti acara IFA 25-27 oktober 2016
20. Timor Leste, bersama Staf Ahli Menteri bertemu Menteri Pertanian Timor Leste pada tahun 2017
21. Maroko mengikuti acara IFA 22-24 mei 2017

22. Argentina mengikuti acara IFA 6-8 Maret 2018. 

1.6.19

Mengenali Karakter Politik Warga Makassar dari Warung Kopi


WARUNG KOPI atau akrab disebut Warkop di Kota Makassar bukan hanya tempat orang datang untuk meminum kopi. Karakter khas yang dimiliki Warkop di Makassar memang beda dengan tempat jualan kopi atau kafe di kota-kota lain. 

Di Warkop Makassar, atmosfir yang dihadirkannya sangat unik. Walau sama dengan tempat minum kopi di daerah lain, Wakkop di Makassar selalu meletakkan diri sebagai tempat pertemuan berbagai ‘arus’ pergulatan, baik dalam tataran politik, ekonomi maupun budaya. 

Bahkan dalam tataran tertentu, bila Anda ingin lebih jauh mengenali karakter politik warga Makassar, datanglah ke Warkop. Setidaknya di sana, kita akan bisa memahami kecenderungan politik warga serta pendekatan realitas keseharian warga dalam menginterpretasi politik mutakhir. 

Satu yang paling menonjol dari Warkop ala Makassar adalah sikap skeptis yang dianut para pengunjunnya. Tak ada rigiditas dogmatis di sana. Segalanya cair, ringan namun sarat dengan sikap kritis yang kadang bisa membikin telinga kita merah mendengarnya. 

Saya tak ingin mengambil kesimpulan dini bahwa ketika Anda sebagai politisi telah diterima dengan tangan terbuka di Warkop-warkop kota Makassar maka ini adalah petunjuk awal bila tingkat akseptabilitas dan elektabilitas Anda tergolong tinggi. 

Dalam takaran tertentu, pengunjung warkop di Makassar sangat kritis dalam menilai seorang tokoh publik. Parameter ukuran mereka sebenarnya sederhana yakni seberapa jauh Anda menjaga jarak, berbaur atau meletakkan diri dalam konstalasi pergaulan. 

Hal ini bisa dimengerti karena, di Warkop Makassar, sikap egalitarian sangat kental. Anda bisa siapa saja, atau menjabat apa saja, namun ukurannya bukan di sana, tapi bagaimana Anda bersikap dan mampu berbaur dalam ‘cetakan, pergaulan egaliter ala Warkop. 

Di warkop Makassar ini pula, konfigurasi dan warna politik demikian beragam, bahkan kadang saling bertentangan. Diskusi ala Warkop adalah diskusi yang tidak mengenal patron-client. Sikap yes bos (ABS) atau loyalitas buta. Di sini, semuanya mengalir namun kadang mengeras dalam argumentasi yang bercampur baur antara rasionalitas dan irasionalitas. Antara kecerdasan seorang intelektual dengan sikap emosional kaum fanatik. 

Namun uniknya semuanya terbuka untuk didenkonstruksi. Segalanya hadir dalam ruang-pengucapan yang bisa 100 persen berbalik arah dari anti menjadi penyokong fanatik. Unik dan penuh dinamika. 

Warkop Makassar memang unik, apakali bila itu kita kaitkan dengan kecenderungan perilaku politik warga Makassar. Itulah mengapa saya mengatakan bila ingin mendalami lebih jauh kecenderungan politik warga Makassar, sambangi Warkop dan mencoba menelisik dinamika di sana. ***

26.5.19

Hujan


Setiap pagi, kutulis hujan di jejak langkahku, barangkali sedikit rindu kembali bisa menemukan senja yang telah kucoret dari penanggalan

Di halaman, pagar-pagar bambu di seberang jalan setapak itu begitu sepi, di sana aku pernah menemukan cinta, menemukan hati dan sebuah sungai kecil mengalir jernih di sisinya

Setiap pagi, aku menengok rerumputan itu, barangkali di sana kutemukan sisa suara hujan yang tersesat dan membawanya kembali


Makassar, Mei 2019

18.5.19

Begini Saya Membayangkan Sebuah Kota


SAYA selalu membayangkan sebuah kota dengan ruang publik yang ramah bagi warganya serta menjadikannya sebagai wadah interaksi yang penuh nilai-nilai humanitas. 

Ruang publik itu bisa berupa sebuah taman kota atau lebih luar biasa lagi berupa hutan kota. Saya membayangkan taman atau hutan kota ini demikian rimbun oleh pepohonan yang dibelah oleh jalan setapak meliuk-liuk yang di sisinya berjejer bangku-bangku tempat warga duduk. 

Di sana, saya membayangkan, warga bisa merasa nyaman melakukan aktifitas semisal membaca buku, bersepeda, joging atau sekadar menghabiskan waktu bersama keluarga. 

Bagi saya, sebuah kota adalah ‘rumah’ bagi warga penghuninya, Sebuah tempat kita bisa kembali mempertautkan diri dengan masa lalu serta memperteguh harapan akan masa depan. Sebuah tempat di mana akar sejarah eksistensi kita saling bertaut dengan lingkungan dan saling memberi ‘napas’ kemanusian. 

Saya teringat sebuah novel filsafat karya Albert Camus yang berjudul “Sampar”. Sebuah kisah tentang bagaimana kota perlahan-lahan redup dan kehilangan passion dari warga. Dengan memakai metafora penyakit sampar yang menyerang kota yang dia namakan Oran ini, Camus berbicara lirih tentang sebuah kota “tanpa pengucapan” lagi. Kota yang kehilangan ‘nyali’ menatap masa depan. 

Dari karya Camus ini, kita bisa menuai pelajaran penting bagaimana kota dibangun tanpa ‘membunuh’ jiwanya. (*)