Puisi

18.9.20

Politisi


TERUS TERANG saya senantiasa menaruh kekaguman yang mewah pada seorang politisi. Bagi saya, sosok politisi adalah ‘pemangku kemaslahatan’ rakyat. Pada jari telunjuknya seluruh potensi kemungkinan rakyat menjadi lebih sejahterah berkerumun. Politisi adalah sebuah kerja mewakafkan diri untuk kemajuan masyarakat.


Lalu mengapa banyak yang mencibir pada profesi mulia ini? Mungkin sejarah memang terlalu kejam dalam menilai sosok politisi. Mungkin sejarah demikian gemar mencatat kekurangan profesi ini. Atau memang dalam rentang waktu yang membentang, sosok politisi semakin jauh dari rel idealisme yang pernah melahirkannya. Entahlah.

Memang saat ini kita bisa banyak bercerita tentang liuk liku kiprah politisi dalam sudut pandang beragam. Sebuah jagat yang kemudian meletakkannya sebagai public figure menjadikan sosok politisi seperti cermin yang demikian terbuka. Politisi kemudian tak ubahnya seperti selebriti. Di atas ‘panggung’ politisi lebih banyak memakai ‘topeng’ untuk meraih simpati publik. Jagat politik lalu menjelma drama yang lebih banyak menyembunyikan kebenaran.

Dengan demikian, cerita tentang politik bertumbuh jauh menyimpang dari harapan ibu kandung (baca: rakyat) yang melahirkannya. Di sana, yang tersuguhkan hanya perilaku yang ganjil. Kemaruk kekuasaan, keserakahan, saling sikut menghalalkan segala cara demi tercapainya tujuan pribadi atau kelompok adalah cerita keseharian dari aktivitas politisi. Ironisnya, semuanya dibungkus “demi kemaslahatan rakyat”.

Namun bagaimanapun keberadaan politisi sangat kita butuhkan. Kelahirannya adalah keniscayaan ketika interaksi manusia dipertemukan dalam dunia yang disebut ruang publik. Yang kita butuhkan saat ini adalah bagaimana mampu melahirkan sosok politisi yang berkualitas dan memang berpihak pada kemaslahatan rakyat. ***

27.8.20

Epilog di Sebuah Hotel


Telah kau ucapkan janji pada kekasihmu
“Tak ada yang lain. Tak ada. Bahkan jadi bayangan pun dia tak ada”
Hari itu malam turun sangat rendah
Kalian pun tersenyum manis. Begitu manis

Dengan kecupan ringan, kau terbangun dari tidur panjang
Sang pangeran dari masa lalu bertahta gemilang
Di atas kuda, Sang Pangeran menujuk masa depan yang terputus dari masa remaja

“Aku ini putri salju. Cinderella yang cantik”,
Dan kalian tertawa. Hujan pun membukus harapan
“Dia tak ada. Bayangannya pun tak ada”
Daun-daun berayun jatuh

Makassar, Maret 2020

21.8.20

Kalau Kita Sepakat


Kalau kita sepakat

Turunlah ke laut

Batu karang dan sobekan layar

Mencatat nama kita


Kalau kita sepakat

Gelombang jadi rumah

Di setiap senja

Kita jadi mempelai


“Tak adakah rindu mampu melarutkanmu ?”

Bentangan kaki langit jauh

Kita bakal hilang di ufuk itu


Makassar, Agustus 2020

16.8.20

Partitur yang Belum Selesai


Kau catat kematian pada daun-daun jatuh

Senja baru saja lewat dan sepi ini makin lapang
“Di mana kita rebahkan kenangan?”
Seekor angsa meninggalkan kolam

Kau catat kehilangan pada penanggalan
Rumah ini dahulu demikian semarak
“Di mana lagi kita menunjuk sebuah tawa?”
Cahaya bulan menyentuh kolam

Lalu seperti sebuah novel pendek
Kita hilang dalam huruf dan ingatan buram
Kita jatuh dalam bisu yang panjang

Makassar, Agustus 2020

14.8.20

Kematian


SETIDAKNYA ada dua profesi yang sering menjadikan kematian sebagai mata air gagasan dan tema pembicaraannya. Mereka adalah ulama (penceramah agama) dan penyair.

Pada ulama, kematian adalah setrifetal dari kehidupan. “Setiap mahkluk yang bernyawa pasti akan mati”, demikian sebuat ayat membunyikan sebuah kepastian. Dalam konteks ini, para ulama menjadi penyeru dan pengingat akan sebuah prosesi kehidupan. Kematian adalah ‘harga mati’ dan karenanya hidup harus diisi dengan nilai-nilai kebajikan yang telah diserukan dalam kitab suci.

Bagi ulama, kematian adalah sebuah tahapan menuju yang abadi. Sebuah proses kembali kepada sang pencipta. Di sana kematian juga adalah peringatan (alarm) bahwa hidup hanya sebuah kesementaraan semata. Dunia dan segala pernak-perniknya adalah ujian, screening dan cobaan apakah kita lulus. Punishment and reward ada di sana. Bila kita lulus maka kelanjutannya adalah surga dan bila gagal kita akan terjebak dalam pusaran neraka.

Sedangkan bagi penyair, kematian adalah sebuah lubang hitam (black hole) yang bakal menyedot kita dalam kemisterian yang tak bertepi. Bagi kebanyakan penyair, momen kematian adalah keterpesonaan puitik yang menggetarkan. Sebuah selaput sangat tipis yang memisahkan kita dengan kehidupan.

“Kematian demikian dekat”, kata penyair sufi Abdul Hadi MW. Memang dalam menyikapi kematian, ambiguitas penyair demikian mencolok. Kematian adalah ketika eksistensial seseorang tercerabut. Kematian adalah hilang, lenyap, pupus. Di sinilah banyak penyair ‘memberontaki’ takdir kematian yang pasti itu. Penyair Chairil Anwan bersungut “aku ingin hidup seribu tahun lagi”.

Namun di sisi lain, bagi seorang penyair, kematian juga adalah momen ketundukan yang membawa sebuah jiwa merunduk lirih. Sebuah kesementaraan yang meletakkan penyair dalam ruang-ruang tragedi yang kadang mereka rayakan dengan penerimaan bahwa prosesi ini adalah pengucapan liris dari hidup.

Kematian menjadi “ketak-relaan menerima segala tiba, karena kita ini "setipis itu atas debu”. Sebuah peristiwa yang pelan “berderai-derai sampai jauh”, kata Chairil Anwar. Dan kita akan menemuinya baik dengan cara meradang atau sebaliknya dengan kepasrahaan yang tragik. (**)

1.8.20

Mengantisipasi Membesarnya Isu Negatif yang Menggerus Citra Perusahaan di Saat Krisis


DINAMIKA perusahaan di era digital 4.0 merupakan tantangan paling urgen bagi lembaga kehumasan paska modern. Ada beberapa faktor yang memperkuat fenomena tersebut:


Pertama, era digital 4.0 biasa pula diidentifikasi sebagai era distrupsi. Menurut pakar managemen modern Renald Kasali, era distrupsi ditandai dengan runtuhnya paradigma lama, baik dalam managemen, marketing, organisasi, birokrasi, baik di lembaga pemerintahan maupun di dunia bisnis, sedangkan paradigma baru belum juga menemukan bentuk baru.

Pemicu dari era distrupsi ini adalah munculnya revolusi teknologi di bidang telekomunikasi dan informasi. Perubahan dahsyat dan tak terduga bisa tiba-tiba muncul dan melindas cara-cara lama berbisnis yang konvensional. Renald mencontohkan bagaimana kemunculan aplikasi Grab atau Gojek yang mampu melibas bisnis transportasi konvesional seperti taksi dan angkutan umum lainnya.

Dengan bermidal inovasi dalam aplikasi serta membangun pola kerja kemitraan dengan pemilik kendaraan, Grab maupun Gojek tidak lagi memerlukan modal kapital besar tapi hanya bermodal kemitraan. Initinya, dengan memanfaatkan teknologi informasi yang berbasis modal knowledge, Grab dan Gojek melambung sebagai bisnis kelas wahid.

Namun di samping itu, menurut Khasali, era revolusi teknologi informasi juga membawa wajah yang paradoks. Salah satu dampaknya yang paling mencolok adalah terjadinya perubahan dahsyat dalam perilaku masyarakat dalam mempersepsi sesuatu.

Di era sebelumnya, rujukan masyarakat, pemerintah dan stakeholders dalam mengambil kebijakan adalah hasil dari analisa yang merujuk pada media-media konvesional atau media mainstream, seperti surat kabar, media elektronik (TV & radio) serta majalah.

Kini rujukan publik tidak lagi hanya sebatas media tersebut. Hadirnya revolusi digital dengan sendirinya mengubah karakter dan perilaku publik dalam melakukan interaksi dan membangun relasi. Dalam buku “Sosiologi Media”, disebutkan karakter yang dibawa revolusi digital yang melahirkan media sosiol (medsos) memberi dampak yang sebelumnya tidak terbayangkan. Sebelumnya, perilaku dan kecenderungan publik bisa dikendalikan melalui rekayasa media yang memang memiliki sifat searah, terpusat dan terkontrol melalui pusat-pusat penyebaran informasi semisal surat kabar, Televisi, radio dan lain-lain.

Saat ini, arus produksi informasi dan penyebarannya menjadi demikian cair, tak terbendung dan tidak mampu dikendalikan. Watak ‘anak kandung’ revolusi digital yakni media sosial sangat dinamis, interaktif dan ditandai dengan terbangunnya ‘dunia rekaan’ tersendiri yang oleh pakar disebut syberspace.

Era ini, oleh para pakar komunikasi publik disebut sebagai era komentar. Kehadiran komunikan ditandai dengan eksitensinya dalam mengimentari sesuatu. Bila di abad 19 (revolusi industri) Filsuf Rene Descartes mengatakan “conigto ergo sun” (aku berpikir maka aku ada), maka di era ini lebih cocok bila dikatakan “aku berkomentar maka aku ada”.

Dalam konteks perubahan pola komunikasi yang dahsyat tersebut, mau tak mau, suka tak suka, sangat berdampak pada pola komunikasi publik sebuah organisasi baik itu instansi pemerintah maupun lembaga swasta. Efek yang ditimbulkan oleh berubahnya pola komunikasi publik dengan sendirinya akan berdampak pada ‘daya tahan’, citra dan competitivnes sebuah perusahaan.

Kebesaran sebuah perusahaan yang dulu ditakar dengan kemampuan menghimpun, mengelola dan memproduksi modal sumber daya alam dan tenaga kerja yang murah, kini bertransformasi menjadi modal pengetahuan (knowledge) dan inovasi. Kecepatan merespon dan antisipasi yang jitu menjadi modal dalam keniscayaan perubahan yang ada.

Mengidentifikasi Krisis Citra Perusahaan

Era revolusi informasi menjadikan perilaku publik berubah secara drastis. Sejak hadirnya media sosial (medsos) arus perubahan tersebut menjadi demikian dahsyat.

Dalam era digital industri 4.0, kekuasaan dalam merekayasa informasi tidak bisa lagi dikendalikan oleh satu atau beberapa kekuatan saja. Sifat oligarki penguasaan informasi perlahan runtuh digantikan dengan munculnya orbit pusat-pusat baru yang sangat beragam, berada di mana saja serta mampu dilakukan oleh siapa saja.

Di era ini (dengan perangkat medsos), setiap orang memiliki akses untuk bertindak sebagai produsen, penyalur sekaligus sebagai konsumen (pembaca). Fenomena ini menjadikan ruang interaksi publik di dunia maya sangat dinamis, cepat serta tak bisa dikendalikan. Setiap isu, sekecil apapun dengan hitungan detik mampu menggelinding, membesar, melebar dan liar. Bila tak direspon dengan cepat dan tepat, maka isu tersebut bisa membuat citra sebuah lembaga atau perusahaan ambruk dan susah untuk dibangkitkan kembali.

Dengan demikian, sebuah perusahaan, khususnya lembaga kehumasan dalam perusahaan wajib mengetahui dan memahami sekaligus mengidentifikasi ciri-ciri krisis citra perusahaan secara dini untuk bisa mengambil langkah antisipasi secara cepat dan tepat.

Berikut ini ciri-ciri perusahaan yang mulai dilanda krisis citra:

Munculnya sebuah isu yang menjadi perhatian publik.

Isu berkembang biak tak terkendali di ruang media sosial (medsos).

Isu tersebut semakin melebar dan menjadi sorotan media mainstream (koran, TV, media on line).

Isu tersebut mulai mengganggu kinerja perusahaan.

Terjadi insitusionalisasi isu di mana publik mulai mempercayai isu tersebut dan mengidentifikasi isu tersebut dengan perusahaan.

Isu tersebut menjadi semakin kisruh karena telah merembes menjadi konflik di internal perusahaan.

Apa yang Perusahaan Harus Lakukan?

Mengidentifikasi isu yang bisa meruntuhkan citra perusahaan secara dini menjadi demikian penting. Lembaga kehumasan perusahaan yang menjadi ujung tombak performance perusahaan di mata publik harus mampu dengan cepat mengidentifikasi dan mengambil langkah-langkah cepat dan cepat untuk meredam isu tersebut.

Dengan demikian diperlukan sistem yang terintegrasi untuk identifikasi dan mendiagnosa isu lengkap dengan prosedur tanggap cepat yang harus dilakukan.

Untuk itu diperlukan tim khusus tanggap darurat yang bisa bergerak fleksibel dan mampu dengan cepat mengambil keputusan dan langkah-langkah praktis dalam meredam isu.

Dalam mengidentifikasi isu, harus dibuat ambang batas toleransi yang bisa dijadikan rujukan apakah isu tersebut dianggap sepele atau malah didiagnosa akan semakin membesar.

Tim ini bekerja berdasarkan prinsip dasar bahwa setiap isu terkait nama baik perusahaan harus dengan dinilai berpotensi besar akan meruntuhkan citra perusahaan. Tak ada isu kecil. Semuanya harus menjadi perhatian tim dan menganalisis kemungkinan dampaknya. Bila dipediksi bakal membesar, makan prosedur tanggap darurat harus di jalankan. (**)

31.7.20

Kata


KETIKA kata terbentuk di sanalah dunia mencari wujudnya yang sering berkhianat.(*)