apa yang bisa kukatakan tentang sebuah restoran*



(meja nomor 4) :kosong
angin mendaki
berkerumun mencari hinggap
seperti burung ketakutan
mendengar desis kompor
memperebutkan siapa yang paling
kaya diantara pengunjung

(meja nomor 7):di sini
denting sendok dan kursi busa
aturan-aturan makan yang sopan
membentuk sungai kecil
tempat mengalir cerita santun

(meja nomor 5):
kesialan yang menakutkan
seperti hantu
maka ditebarlah mantra;
iblis hanya tertarik pada kemiskinan
karena itu enyahlah
dan bersemayamlah dalam
kurap dan koreng
bisul nanah atau apa saja

(meja nomor 8):
seorang gadis menusuk pinggul
cipokan basah di pipi
hi..hi..hi...
tapi ia bukan nenek sihir
lihatlah..napasnya bagai kapas
top model yang laris
jadi di sini nenek sihir
tidak berhak lahir

(meja nomor 1):
aku, keluarga dan tetanggaku
mengeroyok ajalnya pelanpelan
juga lalat hijau
mengutuki rakusnya

ah, ternyata di sini
sistem hanya akrobatik nasib
aturan moral
dimasak jadi sambel terasi
dan kita mengisi perut ramairamai

Makassar,1995


*Dari Arsip Puisi Lama
Diberdayakan oleh Blogger.