Atas Nama Bangsa Indonesia



Di suatu pagi, pukul sepuluh, orang-orang berkerumun ditempat itu. Suasana bulan suci Ramadhan tahun 1945 pagi hari itu seperti bergerak pelan dan mendebarkan. Ada suasana menunggu di sana. Ketika dua sosok berjalan pelan menuju podium yang demikian bersahaja dan terkesan dibuat terburu-buru. Orang-orang telah karib dengan sosok itu. Yang satu dikenal dengan sebutan akrab; bung Karno, sedang satunya lagi disapa; bung Hatta.

Sesampai di mimbar, bung Karno maju beberapa langkah. Dia mengambil secarik kertas sederhana hasil ketikan semalam dan membacanya. Tak ada yang berlebihan di sana. Segalanya seperti bergerak mengalir sederhana. Demikian bersahaja. Itulah detik-detik Proklamasi Kemerdekaan negeri ini, 67 tahun yang lalu. Bung Karno kemudian membaca teks ketikan itu. Suaranya demikian tenang namun terasa bergetar: "Proklamasi...Kami bangsa Indonesia. Dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia...."

Ada yang terasa membuncah di sana. seperti tarikan napas yang tertahan. Sebuah rasa tegang yang menjalar dan meledak dalam satu helaan panjang. "Kemerdekaan Indonesia", kalimat itu pasti "meledak" dalam dada setiap yang mendengarkannya saat itu. Sebuah rasa patriotik yang mengguncang. Di sana, sejarah perjuangan, pengorbanan menggumpal jadi satu. Dan bung Karno pun menyelesaikan teks Proklamasi itu; " Atas nama Bangsa Indonesia.....Soekarno-Hatta"

"Atas nama Bangsa Indonesia". Bung Karno menyebut itu, dan kita demikian bangga dan rela untuk itu semua. Kita demikian ikhlas menjadikannya sebagai "juru bicara" dari semesta tekad dan keinginan terdalam kita. Kita bahkan merasa sangat bangga karena dianggap menjadi bagian dari semua "semangat" yang mengaliri teks Proklamasi itu. Semua ini, barangkali, karena kita sangat paham bahwa "Atas Nama Bangsa Indonesia"-nya Bung Karno adalah suara nurani kita semua. Suara bangsa yang bergerak melepaskan diri dari cengkraman penjajahan dan rasa inferior yang melanda negeri ini. Kita pun tahu bahwa "Atas nama Bangsa Indonesia"-nya Bung karno adalah sebuah "ketulusan", dari seorang yang seluruh hidupnya telah "mewakafkan" diri untuk berjuang mengembalikan harga diri dan martabat bangsa ini. Dan untuk itu kita demikian rela ketika dia "mengata- namakan" kita sebagai sebuah bangsa.

Lalu kita teringat beberapa waktu lalu, ketika negeri ini berada dalam suasana pemilihan umum untuk Legeslatif dan Capres-Cawapres. Kata-kata seperti itu kembali mendengung. Bisa dikatakan bahwa semua calon Legeslatif dan Capres-Cawapres kembali mengulang "Atas nama Bangsa Indonesia" ini. Tapi apakah kita masih merasakan getaran yang sama? Saya tidak yakin untuk itu. Barangkali kita merasakannya lebih pada semangat "memenangkan" salah satu kandidat semata. Kita, mungkin, hanya menginginkan menjadi bagian dari sebuah "kekuasaan" dengan mendukung salah satu calon itu. Atau barangkali kita memang merasakannya, tapi para kandidat itulah yang berhasil mempermainkan kadar emosional kita. Entahlah. yang pasti, ada sesuatu yang ganjil untuk memperbandingkan "Atas nama Bangsa Indonesia", yang keluar dari mulut para Founding Father kita dengan "atas nama bangsa Indonesia" yang diteriakkan mereka pada saat kampaye dahulu.

Mungkin, cerita ini agak berlebihan. Mungkin diam-diam kita masih merasakan getaran itu ketika ada seseorang mengatas-namakan bangsa ini. Mungkin karena kita diam-diam merindukan sosok seperti para pejuang peletak dasar bangsa ini ketika berucap; "Atas nama Bangsa indonesia". Dan kita demikian rela menjadi bagian dari itu semua."Atas nama Bangsa Indonesia..Soekarno-Hatta".***


Makassar, 2009
Diberdayakan oleh Blogger.