Bola dan Kedewasaan Bangsa




Pada akhirnya, kita memang harus menerima kenyataan bahwa kita belum beruntung dan menjadi juara. Dan benarlah beberapa pendapat orang yang mengatakan bahwa bola itu bulat. Bahwa semua yang terjadi sangat di tentukan dari berbagai macam campur aduk dari masalah teknis, mental, sampai pada soal keberuntungan.


Namun saya tak ingin membicarakan itu semua. Yang menari bagi saya adalah bagaimana bola bisa menjadi sebuah magnet dahsyat dalam membangun rasa nasionalisme.Walaupu beberapa pakar menganggapnya hanya sebagai perayaan euforia yang artifisial.

Terus terang, saya adalah orang yang sedikit mencemaskan gelombag euforia ini. Kecemasan saya sangat sederhana. Bila harapan yang demikian menjulang itu akhirnya tidak kesampaian, maka kemungkinan yang tidak mengenakkan bisa saja terjadi. Mengingat bahwa terkadang kita terjebak pada sebuah sikap mental "siap menang tapi tidak siap kalah".Saya juga mencemaskankan bagaimana sebuah bangsa yang mungkin telah kapok ditempeleng oleh kenyataan yang selalu menyakitkan, mampu menerima kekalahan ini.

Namun, seusai pertandingan, saya menjadi demikian terpesona. Para pendukung serta segenap dari masyarakat kita mampu bersikap elegan dan demikian dewasa. 


Bahkan yang lebih mempesona lagi adalah karena masyarakat kita tidak mengendorkan sedikitpun raha hormat dan penghargaannya pada para pejuang lapangan hijau kita itu.


Sikap penghargaan dan rasa hormat inilah yang demikian mengharukan saya.Ternyata masayarat kita bukanlan masyarakat yang demikian gampang marah. Karena barangkali yang dibutuhkan masyarakat kita bukanlah hanya sekedar gelar juara. Lebih dari itu kita sebenarnya mendambakan sebuah 'kejujuran' dari sebuah proses dan kerja. Kita mendambakan adanya pertautan yang kuat antara ucapan dan kerja yang terlihat di lapangan. Kita membutuhkan sebuah kejujuran.


Ini mungkin lebih di sebabkan karena dalam realita keseharian kita, semua semangat dan kerja keras itu telah perlahan lenyap. Yang kita temui adalah bagaimana segelintir elite kekuasaan kita demikian mempertontonkan sikap sebaliknya. Korupsi, kongkalikong penjualan BUMN dan barbagai politik aji mumpung demikian merajalela disekitar lingkar kekuasaan itu. 


Dengan demikian, mungkin ini adalah sebuah 'pesan' yang ingin disampaikan oleh masyarakat kita.Bahwa penghargaan dan penghormatan bukan semata-mata karena hasil. Namun lebih pada bagaimana kerja itu dilakukan.Masyarakat kita seperti ingin menyentil bagaimana prilaku para pemimpin kita yang hanya bersolek dalam citra, namun tidak mengejawantahkannya dalam sebuah kerja.bravo timnas..bravo Firman Utina dkk.***


Diberdayakan oleh Blogger.