catatan pikiran:agustus datang lagi



Agustus datang lagi. Agustus yang mengingatkan kita akan riwayat sedih republik ini. Dan seperti yang sudah-sudah, "bendera" keprihatinan bakal kembali kita kibarkan dalam tiupan angin ketidakpastian.
Aduh..sudah terlalu banyak kekecewaan yang menghantarkan rakyat ini dalam ilusi-ilusi kemerdekaan. Sudah terlalu capek bangsa ini ditampar oleh kenyataan yang memilukan. Konflik, bom, ketidak adilan, kesenjangan ekonomi yang demikian menganga, kemunafikan, ketidak pedulian, dan berderet-deret panjang cerita yang membawa kita pada kepiluan.

Agustus datang lagi. Agustus yang ditahun 1945, benar-benar sanggup membuncah harapan orang-orang tua kita. Saya bisa membayangkan berdiri disana, menyaksikan "merah putih" itu dikerek setiang penuh. Ada gelegar dahsyat dirongga dada. Ada merinding diam-diam dalam sapuan bening mata yang berkaca-kaca. Itu adalah harapan.Itu adalah sejumput "kerinduan" yang dititipkan untuk sebuah kehidupan yang lebih baik. Itu adalah sejenis "doa" yang membumbung tinggi untuk kelak kita, anak-anak mereka, memiliki ruang kebahagiaan yang paripurna.

Agustus datang lagi. Agustus yang diam-diam kita berusaha merawatnya. Menjaganya agar tetap menjadi sejumput harapan itu. Tetap menjadikannya sebagai "doa" untuk kehidupan yang lebih baik. Walaupun harapan itu, semakin lama semakin tergerus oleh tamparan kenyataan yang tak kunjung membaik. Kita, dan sekelompok dari kita, masih saja merawatnya. Menempatkannya dalam ruang-ruang kerinduan kita. Melipat "merah-putih" itu dengan rapi dan khusyuk. Dan mengibarkannya dengan dada yang membusung bangga. Inilah negeriku...

Agustus datang lagi. Agustus yang sedih namun masih menyimpan harapan. Seperti seorang kawan saya, yang senantiasa berkaca-kaca ketika "merah-putih" itu kembali dikerek setiang penuh di bulan Agustus. Dulu, sayapun selalu terharu ketika menyaksikan dia berkaca-kaca.Karena tahu, diluar sana, ada demikian banyak orang yang diam-diam menggerogoti habis republik ini. Di luar sana, ada begitu banyak orang "merobohkan tiang-tiang tempat harapan itu berkibar". Sampai kapan kawan saya itu sanggup merawatnya? Entahlah. Tapi ketika Agustus datang lagi, aku tiba-tiba teringat akan dia...



Makassar, 2009
Diberdayakan oleh Blogger.