dalam kisah sajak yang turun bersama hujan



kita telah banyak mereguk kecemasan, di sini
antara lekukan jalan dan ceruk hati
orang-orang berbisik memasang lirih langit
pada sepotong rasa dingin dan permulaan kabut

tapi masih saja kita percaya senyuman ini, di sini
menukarnya lewat kelopak hutan melati
karena kita tahu, kematian belum juga sampai
belum juga membikin retak kenangan dan sisa hari

ah, seandainya kita larut dalam lupa
menjadi saksi peradaban gugur dipucuk musim
ada saja orang yang terus bertutur pada malam
dalam kisah ombak laut dan dentum purba
dalam kisah sajak yang turun bersama hujan
+dari sajak lama
Makassar,1997
Diberdayakan oleh Blogger.