Gayus










Siapa yang tak kenal Gayus. Sosok gempal yang sanggup membikin kebanyakan dari kita gregetan melihat sepak terjangnya dalam "mempermainkan" hukum di negeri kita. Bermula dari berbagai penggelapan pajak sampai kemampuannya untuk dengan mudah "keluar masuk" penjara dan plesiran ke Bali. Sosok yang terlihat begitu 'innosence' ini bahkan dikabarkan telah 86 kali wara wiri keluar dari tahanan tempat dia mendekam.

Saya yang lagi menonton tayangan tentang Gayus ini begitu geram. Segala macam sumpah serapah menyembur dari mulut saya. Saya betul2 tak habis pikir mengapa semakin hari penegakan hukum dinegeri terlihat demikian memilukan saja.

Tapi kawan saya yang kebetulan lagi nonton bersama terlihat tenang-tenang saja. Saya meliriknya dengan sedikit jengah. Ia menyeruput kopinya dengan tingkat kenimakmatan yang menjengkelkan saya. Sampai saya tak tahan lagi dan bertanya agak ketus kepadanya." Koq kamu demikian tak peduli dengan segala keprihatin ini semua?"

Kawan saya memonyongkan mulutnya. "Lha apa yang harus di prihatinkan? Gayus itu buka siapa-siapa. Ia adalah cerminan kita semua. Gayus itu adalah sebuah sampel dari potensi kepribadian kita. Ia adalah produk yang dilahirkan dari sebuah lingkungan kita yang memang sangat koruptif. Gayus itu hanyalah korban. Sama seperti kita yang setiap saat bisa terjebak dalam lingkaran situasi yang tak terelakkan itu.

Kawan saya terus saja berceloteh, " Gayus itu adalah contoh bahwa lingkungan yang terbangun di sekitar kita memang telah rusak. Setiap hari kita bakal disodori kenyataan yang pahit ini. Sejak keluar rumah kita bakal terperangkap pada sebuah sistem yang 'saling memangsa', kalau bukan kita yang sial terkena suap, mungkin kita yang akan meminta suap. Jadi apa yang aneh dengan Gayus? Yang aneh itu adalah kita semua yang demikian sempurna menampilkan karakter orang-orang suci dan mengetuk segala perbuatan tersebut, tetapi diam-diam juga terlibat di dalamnya.."

Saya tak lagi mendengar celoteh kawan saya yang terakhir itu, karena saya telah pergi meninggalnya dengan berbagai gerutukan.***



Makassar2010




Diberdayakan oleh Blogger.