Keadilan


Keadilan, bisa jadi mempunyai banyak cara untuk menunjukkan dirinya. Di suatu masa, keadilan bisa saja bersemayan di lekuk hati seorang penguasa. Di sana, ia tampil dalam bentuknya yang paling “cerah” dan mentereng. “Jubah keadilan” yang melekat pada seorang penguasa adalah kerinduan yang paling mempesona rakyat sepanjang rentang sejarah peradaban ini.. Dengan demikian, tak ada yang memungkiri, bila semua nilai-nilai kearifan tradisional yang diajarkan kepada kita sejak kecil selalu saja bermuara di sana; sesosok penguasa yang menjadikan keadilan sebagai puncak nilai kemanusian untuk membangun peradaban.

Namun tidak semua zaman senantiasa berpihak pada keadilan. Apa boleh buat. Sejarah juga banyak mengisahkan tentang bagaimana kekuasaan demikian pongahnya mencabik rasa keadilan . Pada kurun waktu itu, kita perlahan tahu bahwa keadilan bukanlah sesuatu yang terberi (given). Ia tidak turun dari langit dan diam-diam menyusup ke saluran saraf seorang penguasa. Ternyata, keadilan tidaklah sebangun dengan kekuasaan itu sendiri Dengan kata lain,keadilan – seperti halnya kebebasan- adalah sebentuk harapan yang senantiasa harus direbut dengan perjuangan.


Tapi keadilan memang punya banyak cara untuk memperteguh dirinya. Seperti beberapa waktu yang lalu, ketika udara sesak ketidakpastian memenuhi lorong-lorong penegakan hukum kita, seorang ibu rumah tangga biasa memulai perjuangannya menggugat rasa keadilan itu. Namanya Prita Mulya Sari. Ibu dari tiga anak ini hanya mencurahkan hati kepada teman-temanya lewat surat elektronik (e-mail) tentang perlakuan tak mengenakkan dari sebuah rumah sakit. Namun ironisnya justru dialah yang dijadikan pesakitan dengan tuduhan pencemaran nama baik. Dia sempat di kerangkeng, terancam penjara 6 tahun dan harus membayar denda 240 juta rupiah untuk itu semua.

Lalu bagaimana kita bercerita tentang rasa keadilan di sini? Entahlah. Tapi negeri ini memang banyak memendam cerita tentang koyaknya rasa keadilan itu. Sejarah, seperti tak putus-putusnya merekam, bagaimana suatu perlakuan yang tidak adil itu beranak-pinak dalam ketidakberdayaan sebagian besar rakyat kita. Seperti sebuah nyanyian panjang kepiluan yang demikian karib dalam realitas kehidupan masyarakat kita, terutama yang tak punya akses kekuasaan apapun. Dan di sana, kita terkadang kerap menyaksikannya dengan sesak tanpa dapat berbuat apa-apa.

Keadilan, bagaimanapun adalah sebentuk perlakuan. Dia tidak melekat pada kekuasaan, tetapi berakar dari kekuasaan. Bila kita bercerita tentang keadilan, sesungguhnya kita bercerita tentang perlakuan kekuasaan –entah itu negara, swasta atau apapun- yang mengatur pola relasi kita. Di sana hak dan kewajiban menjadi bagian yang membangun persentuhan kita dengan realitas luar. Dan di sana pulalah hukum serta penegakannya menjadi sebuah kebutuhan tempat keadilan bersemayam. Dengan begitu, bila kita mau bercerita tentang keadilan, maka kita harus bercerita tentang bagaimana hukum itu di tegakkan.

Apa mau dikata, di sebuah negeri yang hukum dan penegakannya masih demikian centang-perenang ini, keadilan adalah sebuah kemewahan. Rasa trauma dari ketidakadilan adalah lanskap paling vulgar dari cerita-cerita tentang penegakan hukum di negeri ini Sengkon dan Karta, Marsinah, Munir, adalah sedikit cerita yang kerap membuat dada kita terasa sesak. Dan seperti biasa, kita hanya bisa memendamnya dalam rasa ketidakberdayaan dan sedikit rasa mual.

Namun, hidup tidak melulu berisi rasa pilu dan ketidakberdayaan . Keadilan juga bukanlah sesuatu yang demikian jauh nun di sana. Rasa keadilan adalah sesuatu yang terus bergerak, menyusup dan menggumpal dalam rahim kemanusiaan kita yang paling murni. Ia, mungkin saja demikian tertekan dalam kebisuan yang terlalu panjang. Tapi dalam kondisi yang paling tak terduga, rasa keadilan itu bisa meledak dan tumpah ruah dalam sudut-sudut keseharian kita. Dan disana, kita bergetar kuat. Tersedot dalam pusaran sejati dari sifat murni sebuah nilai kemanusiaan. Kita merasa ikut terlibat di dalamnya. Dan merasa bahwa perjuangan menuntut keadilan itu adalah milik kita semua.

Barangkali, inilah yang kita rasakan beberapa waktu lalu. Ketika rasa ketidakadilah itu tepat menohok hulu hati kita, lewat seorang ibu dari kalangan biasa seperti kita. Dalam sosok Prita, kita seakan akan menemui wajah ketidakberdayaan kita sendiri di hadapan pongahnya sebuah kekuasaan. Kitapun menjadi Prita di sana.Merasakan denyut kecemasannya. Menumpahkan kerinduan akan sebuah perlakukan yang sedikit adil. Menggugat sebuah ketidakadilan.

Gerakan sejuta dukungan buat Prita dan kemudian gerakan Koin untuk Prita, mungkin bukan sekedar untuk mendukung Prita seorang. Gerakan ini adalah sebuah bentuk perlawanan dari orang-orang biasa untuk menggugat ketidakadilan di negeri ini. Pada tataran ini, Prita adalah kita semua, orang-orang kebanyakan, yang memang kerap dan sudak capek “ditempeleng” oleh perlakuan tidak adil. Prita juga adalah kemungkinan bagaimana kita dapat sewaktu-waktu diperlakukan seperti itu. Prita adalah icon dari sebentuk perlawanan kita berhadapan dengan kekuasaan (Rumah Sakit Omni,pengadilan yang bertumpu pada legatitas-formal belaka) yang menjadikan penjara dan uang sebagai hantu untuk menakut-nakuti kita.

Apakah Prita, dengan demikian menjadi takut? Mungkin iya, seperti kita pada umumnya merasakan demikian dahsyatnya ketakutan bila berada dalam situasi itu. Tapi, mungkin pula Prita sama sekali tidak ciut, karena tahu bahwa ia ada dalam kebenaran. Namun apapun yang pernah dirasakannya , Prita telah menorehkan sebuah sejarah di negeri ini.Sebuah sejarah yang tidak melulu berisi “kekalahan” dan ketidakberdayaan. Sebuah peristiwa yang kelak bisa kita ceritakan kepada anak-cucu kita dengan dada tegak karena bangga; bahwa di negeri yang demikian kita cintai ini, pernah ada seorang ibu yang demikian berani melawan sebuah ketidakadilan. Dan didalam perlawanannya itu, kita semua—pengamen, tukan becak, penjaja sayur, dokter, selebritis, preman, anak TK pelajar,mahasiswa,pengacara dll— bergerak dalam magnitude perlawanan itu. Dan yang yang paling menggetarkan dari semua ini, Prita dan kita semua melawannya dengan Koin --uang recehan yang kerap kita abaikan karena nyaris tak punya lagi nilai tukar.***

Makassar, 2009
Diberdayakan oleh Blogger.