Ketika Sajak Terus Membelah Diri


Kata orang, sebuah sajak –apapun latarbelakang dari proses lahirnya— senantiasa selalu berangkat dari sebentuk “gairah”. Sebuah pergulatan yang menjadikan seorang penyair seakan berada --meminjam bait puisi Amir Hamzah—“di antara tangkap dan lepas”. Setidaknya, inilah yang menjadi keyakinan sebagian dari kita ketika berhadapan dengan sebuah sajak. Bahwa “gairah” yang menjadi “kerangka” tempat berdirinya sebuah sajak tidak bisa kita jadikan alat ukur untuk menentukan apakah puisi itu berhasil atau gagal, hal itu merupakan persoalan yang lain. Yang pasti, ketika kita bersentuhan dengan sebuah sajak yang baik, hal paling pertama yang sampai kepada kita adalah sebentuk “gairah” itu.

Namun, barangkali, sebuah sajak tidak melulu berisi “gairah” semata. Ia, bagaimanapun , seperti yang pernah dikatakan Chairil Anwar, adalah “suatu dunia”. Dan “ suatu dunia” , apapun yang ada dibenak penyair ini ketika mengatakan demikian, pastilah sangat kompleks dan berliku liku. “Suatu dunia” juga mengisyaratkan sebentuk misteri, atau dalam kaitannya yang lain, ia bisa kita sentuh dengan perantaraan “daging dan rasa” kita. “Suatu dunia” yang terus menghadirkan diri “diantara tangkap dan lepas”.

Lalu, apakah sebuah sajak, ketika bersentuhan dengan kita masih saja mengambil pijakan “suatu dunia” seperti apa yang dibayangkan Chairil Anwar di tahun 1940-an lalu? Mungkin beberapa dari kita masih menganggapnya demikian. Tidak ada yang salah dengan pandangan tersebut. Karena bagaimanapun, setiap dari kita hidup dalam “pijakan” dari apa yang kita coba hidupi sekaligus yang kita anggap telah menghidupi kita. Yang menjadi persoalan adalah ketika persentuhan kita dengan sebuah sajak tidak lagi mampu berada dalam semesta “suatu dunia” yang dihayati oleh Chairil Anwar. Bukan karena “dunia” tersebut kita sengaja tinggalkan atau kita abaikan sedemikian rupa. Tetapi, “dunia” dengan model tersebut telah runtuh dan kita mau-tak mau hanya bisa menyaksikan “situsnya” terpancang dalam jejak para kritikus yang terus saja membedah anatomi “daging dan rasa”-nya.

Mengapa “suatu dunia”-nya “Sang Binatang Jalang” ini telah runtuh? Mungkin kita banyak melahirkan debat di sana. Tapi yang tak bisa kita elakkan bahwa periode kekinian telah menjadikan kita sebentuk “dunia” yang sangat lain. Tak ada yang bisa menafikkan bahwa pada zaman kitalah , “kata-kata” yang selama ini menjadi “daging” dalam tubuh sebuah sajak menjadi demikian sepele. Dalam dunia Chairil Anwar yang telah mapan itu, kata adalah dunia itu sendiri. Sedang dalam era kita, kata telah menjadi “anak yatim” yang kini terlepas dan diperlakukan sedemikian rupa tanpa ada keterkaitannya lagi apapun yang dulu mengikatnya sebagai satu bentuk yang melekat dari sebuah dunia. Pada zaman kita, kata telah menjadi sedemikian liarnya, sehingga semua proses pemunculannya tak mampu lagi kita rujukkan bagi sebentuk dunia yang utuh dan mampu kita pahami.

Di sini, --meminjam bahasa kritikus Dr Faruk—kata telah “menjadi tubuh yang meleleh, menggenang jadi cairan kental berbau busuk, genangan itu kemudian bergerak pelan, merambat kewilayah yang semakin luas. Lantai, tanah, daratan yang dilewatinya ikut meleleh. Dan tiba-tiba cairan busuk itu menyembur tegak ke angkasa diiringi suara gerak parau dengan lengkingan maut yang tajam. Semua tiba-tiba hancur luluh jadi cairan…”, dan ironisnya “dunia” itupun sebenarnya berada dalam batas “antara impian dan kenyataan”.

Dengan demikian, “kata” telah menjadi sesuatu yang tak lagi bisa membikin “suatu dunia”. Ia-- dan di sinilah letak paradoksnya—terlempar dari ikatan induknya tapi sekaligus masuk menyusup dan kemudian mengkolonisasi semua yang ia sentuh. Kata-kata telah menjadi produk “otonom” yang kemudian menguasai koran, berkeliaran liar di televisi, menyedot kita dalam billboard iklan di jalan, pada internet dan juga buku-buku, termasuk buku puisi. Semua itu, menjadikan sebuah “dunia” lebih pada sebentuk “kerumunan” yang bergerak terus menerus antara berbagai macam “pembelahan” dan menjadikan apa yang di sentuhnya lebih mirip sebuah dunia “ajaib” dalam dongengan antara realitas yang terkadang berlebihan (hyperrealitas) dan dunia ganjil sebuah mimpi yang tak bewujud jelas.

Dalam konstalasi seperti itulah, sebuah sajak kemudian hadir dalan persentuhan kita. Dan biasanya, dalam kondisi seperti inilah saya terkadang memperlakukan sebuah sajak . Ketika sebuah sajak hadir --kalau memang kita masih sepakat tentang apa itu sebuah sajak-- saya selalu saja terkesima oleh sebuah “peristiwa bahasa” yang terus saja bergelut di sana. Saya kadangkala membayangkan ada sebuah proses “pembelahan” yang terus-menerus seperti ketika saya pernah di beritahu bahwa “virus” melakukan pembiakan dengan cara melakukan pembelahan diri. Di sana, kata-kata (bahasa) membentuk ruang persentuhannya sendiri, bergerak dalam keteraturan untuk kemudian “mengumpal” dan tiba-tiba “meleleh” kembali dalam berbagai ruang penafsiran untuk kemudian meremang kabur dalam sebuah dunia yang gaib. Peristiwa kebahasaan itu mungkin saja hanya menghadirkan sebuah benda remeh-temeh semisal “secangkir gelas”, atau mendetakkan diri dalam rangkaian waktu seperti “senja hari”, namun sebuah sajak selalu saja bergerak dalam persentuhan dimana “pembelahan diri” terjadi di sana. Sebuah peristiwa bahasa yang tak bosan-bosannya menjadikan kita sebagai ruang tempat “kolonisasi” itu menjejakan dirinya.

Barangkali, di sinilah sebuah sajak menemukan atmosfir tempat ia terus saja mencoba bertahan. Di tengah runtuhnya “suatu dunia” yang khas dan mapan dari penyair semacam Chairil Anwar, sebuah sajak juga perlahan melepas diri dari para penyairnya. Walaupun saya tidak berani untuk mengatakan seperti beberapa kalangan bahwa era posmodern seperti ini adalah isyarat dari “kematian penyair”, namun dalam konteks tertentu, seorang penyair tak lagi mendominasi apapun di sana. Dalam posisi seperti ini, yang terjadi adalah sebuah persentuhan berbagai macam penafsiran, motif, gejala, kecenderungan, suasana hati, yang bergayut kait-mengkait antara peristiwa kebahasaan yang terus “membelah diri”, dan pembaca (atau pendengar) yang juga terus melakukan penciptaan ulang “dunia” bagi dirinya sendiri.

Dalam sebuah sajak yang senantiasa “membelah diri”, kita tak tahu apa yang bakal terjadi selanjutnya. Di sana, sebuah sajak mungkin tak mengenal ujung persinggahannya. Bahkan ketika kita melepasnya dari sebuah peristiwa, ia terus saja “membelah diri” dalam berbagai jejak yang ditinggalkannya. Walaupun tak ada penyair atau pembaca di sana, ia bisa saja mendadak muncul di deretan kata-kata di koran, televisi, reklame di jalan-jalan, bisikan lembut kekasih di suatu senja atau barangkali dalam pekikan riang anak kita atau tangis pilu seorang ibu yang merindu.***


Makassar,2009
Diberdayakan oleh Blogger.