Kita dan Malaysia


Sebuah negeri jiran, tetangga seberang pulau. Bila kita melihat peta, negeri dengan berbagai ras ini, tak lebih sebuah liliput di antara bentangan luas kepulauan Indonesia. Dalam silsilah garis rumpun pun, kita harus mengakui bahwa pada umumnya rakyat negeri ini punya pertalian saudara dengan masyarakat Indonesia. Kita memang serumpun dengan negeri "melayu" ini. Tapi mengapa negeri dengan penduduk yang tak lebih seperdua penduduk pulau Jawa ini demikian kerap membuat hati kita tercederai? Barangkali kita sudah mencatat; gelombang perih yang beberapa kali di sematkan di jantung rasa ketersinggungan kita sebagai bangsa. Bebarapa kali, negeri ini memboyakkan rasa nasionalisme kita. Dan beberapa kali kita hanya bisa melalukan protes, mengutuk, bahkan "membakar bendera", hanya untuk meneriakkan bahwa kita tidak menerima perlakuannya.

Kita tak juga bisa mengerti, mengapa Negeri serumpun ini berperilaku demikian. Kita tak tahu apa yang ada di benak mereka. Tapi marilah kita sedikit menyambung sejarah pasang surutnya hubungan kita dan Malaysia. Kita tahu, sejarah yang tak mengenakkan perrnah kita lalui bersama negeri jiran ini. Sebuah negeri di mana kolonialisme menjadikan kita "tersesak" dalam berbagai kepentingan. Kolonialisme yang mencakar semua bentuk hubungan pertalian saudara. Malaysia yang di jajah Inggris, dan kita yang di peras oleh Belanda. Dan di sana, ke dua negeri ini berada dalam posisi "korban".

Namun alur sejarah setiap negara memang unik dan berlainan. Kita dan Malaysia, walaupun serumpun, berada pada titik simpang sejarah yang berbeda. Dan itulah yang menyeret kedua negeri ini dalam balutan hubungan yang pasang surut. Sejarah perseteruan ini terkadang meledak. Semboyan "Gayang Malaysia" sebagai bagian dari cerita panjang "prasangka" tidak mungkin kita abaikan begitu saja. Setidak-tidaknya, ada yang memang belum terselesaikan di sana.Ada yang mengganjal dari rentetan sejarah yang kita kerap sembunyikan di balik lipatan sopan-santun bertetangga.

Dan itu kerap meledak. Kasus Sipadan Ligitan, Ambalat,kasusu TKI, klaim Malaysia terhadap berbagai khasanah budaya kita, merupakan peletup yang meledakkan rasa ketersinggungan kita. Dan sekali lagi, kita hanya bisa melakukan protes, mengutuk, dan "membakar bendera", tanpa tahu mengapa Negeri serumpun ini selalu saja membikin kita meradang.

Sebuah negeri jiran, tetangga kita. Bila kita letakkan di peta, negeri ini hanya liliput di keluasan kepulauan kita. Namun mengapa kerap membikin kita panas hati? Barangkali karena kitalah yang belum benar-benar mencintai negeri ini. Mungkin semua genderang protes kita hanya karena sifat "reaktif" kita semata. Kita terbakar. Meledak. Mencaci maki. Tapi setelah hanyut lagi dalam ketidak pedulian. kita "berpesta" lagi dalam tarian "rakus" melahap negeri ini sampai kerontang. Mungkin kita lah yang belum juga bisa melepaskan diri dari cengkeraman sifat "inferior" sebagai bangsa yang termarginalkan. Barangkali, Nasioalisme kita adalah nasioanlisme bangsa yang sealu merasa terpojok. selalu merasa di "zalimi".

Saya teringat perkataan Almarhum W.S Rendra di salah satu stasion TV, ketika ditanya tentang tanggapannya mengenai klaim Malaysia terhadap lagu "rasa sayange" itu. Maestro budayawan itu mengatakan tidak resah dengan klaim-klaiman model itu. Nasioanalisme di ukur dari "penghargaan" kita terhadap budaya kita." Apakah kita memang telah menghargai kebudayaan kita? Bila tidak jangan salahkan orang lain yang lebih mampu menghargainya.."

Saat ini, kita marah lagi dengan negeri jiran iitu. Tapi setelah kemarahan kita reda, setelah hirup pikuk protes yang kita lancarkan itu menurun. Bagaimana lagi kita bersikap? Apakah kita melupakannya lagi dan menganggap sebagai bagian dari romantika hidup bertetangga? Entahlah.Semua terserah kita.



Makassar,2009
Diberdayakan oleh Blogger.