Kopi dan Perlawanan Budaya




Tak ada yang istimewa dari kopi, sejenis biji-bijian yang kemudian diolah menjadi minuman dan mengandung zat kafein itu. Konon ditemukan 800 tahun sebelum masehi, biji-bijian ini bahkan mula pertama kali “dicicipi” oleh gerombolan kambing yang sedang digembalakan seorang anak di padang tandus sahara. Memang tak ada yang istimewa pada kejadian itu, kecuali sang anak gembala tersebut kopi tersebut, ternaknya mengalami semacam “ekstasi” kecil-kecilan. Saya kerap tersenyum bila membayangkan sorot mata dari ternak kambing itu setelah mengunyah asyik biji kopi tersebut; nanar dan mungkin agak liar. Tapi memang tak ada yang luar biasa di sana, kecuali ketika sang anak gembala tersebut merasa penasaran dan ikut pula mencoba mencicipinya. Dan tiba-tiba sebuah penemuan dari sebuah “kecelakaan” kecil terjadi sudah.

Setelah kejadian yang agak sepele itu, ruang-ruang kemungkinan kemudian menjadi terbuka. Biji kopi yang semula dianggap sebagai buah dari tumbuhan liar dan tak dipedulikan, kemudian bermetamorfosis menjadi tumbuhan yang demikian dicari dan diperebutkan. Dia mendadak menjadi “gadis cantik nan sexi”  yang diperbincangkan bahkan sampai jauh melintas benua. Drama pun mulai terjadi di sekitar perkembangannya. Panggung ini kemudian disorot dengan begitu rupa dan telah bercampur aduk bersama tumbuhnya sebuah kebudayaan yang menghegemoni di dunia peradaban barat . Cerita-cerita tentang riwayat yang mengiringinya kemudian sarat dengan kisah-kisah kolonialisme dan imperialisme   yang membuat kita sakit perut mendengarnya; jutaan manusia di belahan bumi ke tiga, tiba-tiba terbangun dan mendapati dirinya dijadikan budak dari perkebunan kopi. Tujuannya cuma satu, untuk memenuhi kebutuhan para yang dipertuan agung di belahan bumi lain.

 Inilah sebentuk “drama kolosal” yang kemudian menjadi bahasa realitas kebudayaan. Di sana, “pertempuran” kebudayaan kemudian berlangsung dan terus menerus hingga saat ini. Minuman ini kemudian kemudian menjadi ruang “pengucapan” kebudayaan yang menandai berbagai macam “pertarungan” antara keserakahan hegemoni dan perlawanan untuk mengatakan “tidak” pada hegemoni tersebut.  Pada konstalasi inilah kita bisa dengan kasat mata melihat “secangkir kopi” adalah medan Kurusetra dalam perang Mahabarata.

Dalam realitas kebudayaan ini, kita bisa merasakan “pahit”nya kopi yang dibawa oleh hegemoni atas nama globalisasi.  Atas nama globalisasi, Starbuck kemudian didaulat untuk menjadi panglima perang yang kemudian “menjarah” ruang kemungkinan pengucapan budaya kita yang lain. Dan tragisnya, banyak dari kita dengan suka rela mengamininya sebagai “nabi” baru dalam gaya hidup modernitas yang menglobal. Dalam persfektif lain, Starbuck juga adalah isme-isme lain semacam demokrasi, kapitalisme, komunisme, liberalisme yang dengan antusias tinggi kita impor membabi buta dan mengganggapnya sebagai ajaran dari “nabi” baru.

Namun, cerita tidak berhenti sampai di situ saja. Riwayat kopi yang memang mula pertama kali di temukan oleh seorang anak gembala ketika kambing ternaknya memakan biji-bijian kopi, mengaraskan sebentuk nilai lain. Dari riwayatnya, kopi memang memiliki karakter “liar” dan berkecenderungan “bebas”. Tumbuhan ini adalah milik “dataran tinggi” tropis yang melekat jiwa kebebasan di sana. Tidak  mengherankan, bila sekencang apa pun Starbuck mengibarkan bendera budaya hegemoninya, budaya perlawanan tetap terjadi. Warung-warung kopi (warkop) adalah simbol sekaligus markas perlawanan budaya itu. Pada tempat ini, gerak pengucapan budaya perlawanan berlangsung baik pada tataran simbolik maupun pada tataran riil. Di sini, warung kopi (warkop) dengan secangkir kopi bukan lagi hanya sebentuk tempat kongkow-kongkow para penikmat kopi yang berasal dari berbagai kalangan itu, tetapi juga merupakan bahasa perlawanan kebudayaan terhadap hegemonitas dan arogansi globalisasi yang cenderung ingin menyeragamkan budaya serta cita rasa kita. ***

Makassar, Warkop A’Ba, 2012
Diberdayakan oleh Blogger.