Kota Tanpa Pengucapan


“Cara mudah untuk mengenal sebuah kota ialah dengan mengetahui bagaimana penduduk di sana bekerja, mencinta dan mati”, demikian tulis Albert Camus dalam Novelnya La Peste (1947). Di sana, Pengarang Prancis ini kemudian meneguhkan sebuah sikap terhadap realitas hidup sehari-hari yang kadang tak mampu kita tampung dalam wadah yang bernama “akal sehat”. Memang hidup tak melulu dapat dijelaskan dalam episode rasionalitas. Dia menamainya hidup yang absurd. Dan di kota Oran, kota yang digambarkan Camus dalam novelnya ini, benar-benar berjalan dalam suasana yang muram seperti itu. Sebuah kota yang disebutnya sebagai “kota tanpa pengucapan”.

Barangkali, Camus agak berlebihan di sana. Barangkali, suasana psikologis zamannya yang penuh dengan aroma kematian akibat direnggut paksa oleh brutalisme perang, menjadikan kemuraman itu adalah sah dan wajar. Namun sebuah kota memang adalah sebuah cermin besar yang dapat bercerita banyak tentang “dunia” psikologis penduduknya. Bagaimana kota tersebut berucap, demikianlah penduduk di dalamnya memaknai hidup mereka.

Sebuah kota, tidaklah tiba-tiba terjatuh dari langit. Juga bukanlah hasil abracadabra seorang pesulap. Sebuah kota adalah sebuah sejarah dari relasi-relasi batin penduduknya. Dengan kata-kata Camus, kota adalah terjemahan langsung dari bagaimana penduduknya bekerja, mencinta dan mati. Inilah yang menjadikan sebuah kota bukan lagi hanya sekadar tempat yang menunjuk pada wilayah geografi tertentu. Namun jauh melampaui itu, sebuah kota adalah “rumah” dan sekaligus sebagai “bahasa” yang dibentuk dan membentuk ruang pengucapan batin penduduknya. 

Di kota Oran, Camus menceritakan bahwa di sana orang-orang seperti terperangkap dalam iklim yang demikian berjalan lambat dan suram. Sebuah rasa bosan yang telah mencapai taraf memualkan sehingga orang-orang kemudian melarikan diri dalam kehidupan rutinitas. Di sana, waktu memang senantiasa hendak “dibunuh” dengan cara melupakannya. Bukan menjadikannya sebagai tak ada, namun sebagai “tanpa dugaan”. Mengalir dan tak memiliki kejutan apa-apa. Inilah kota yang benar-benar tidak lagi menyimpan harapan. Namun juga tidak tergetar oleh rasa kecemasan. Sebuah kota tanpa pengucapan.

Membaca novel La Peste, memang seperti membaca hubungan antara kita, kehidupan dan kota yang kita diami. Dalam keseharian rutinitas yang tanpa jeda itu, di sebuah tikungan eksistensial, kita terkadang tiba-tiba tersudut dalam pertanyaan yang menohok tepat di jantung keberadaan kemanusiaan kita. Untuk apa dan mau kemana hidup ini membawa kita. Pada situasi seperti itu, waktu yang selama ini kita sembunyikan dibalik saku kemasa-bodohan mendadak berdetak di jalan-jalan. Kekosongan itu pun menjadi hadir. Di sana, kota tiba-tiba seperti reruntuhan tak bertuan. Sejarah yang merekatkan waktu masa lalu-masa kini dan masa depan seakar tercerabut. Kita tak punya peneguhan identitas lagi di sana. Segalanya menjadi dingin dan beku. Kota, kita dan kehidupan seperti ruang hampa udara di mana kita melayang-layang tak berpijak. Sebuah kota tanpa pengucapan.

Memang untuk mengenal kota, kita harus mengenal bagaimana penduduknya bekerja, mencinta dan mati. Dan kebanyakan kota di zaman millennium ke tiga ini telah lama melepas daya rekat yang mempertautkan relasi-relasi batin penduduknya. Pada umumnya, ruang-ruang paling pribadi dalam batin kita telah diporak-porandakan oleh hubungan yang tak lagi manusiawi. Semua dorongan hasrat kita telah dikolonisasi oleh keinginan yang dibentuk dari luar. Kita hanya ladang tempat berbagai produksi dan iklan menempel bak benalu. Segalanya menjadi sebuah komoditas. Bahkan cinta dan kematian tak luput dari kolonisasi tersebut. Dengan kata lain, kita hanya sekelompok “mayat hidup” yang mendiami sebuah kota yang tanpa pengucapan.Memilikan memang. Namun alangkah baiknya kita merasakan kepiluan itu. Karena dengan begitu, meminjam ucapan Camus, kita “masih memiliki dugaan dan kejutan”. Walau pun pilu, setidaknya kita tidak lagi menjadi “mayat hidup”.***
Diberdayakan oleh Blogger.