Membincangkan Kembali Lia Eden



Bagaimana meletakkan religiusitas Lia Aminuddin dengan "Taman Surga"nya Atawa "Eden" dalam bingkai kemanusiaan abad 21 ini? Barangkali di sinilah kita sebagai manusia perlu kembali "mendekonstruksi" segala bentuk pemahaman kita tentang apa itu "religiusitas".


Bahwa Lia adalah seorang yang patut diberi "ruang" untuk mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan spiritual manusia, terlepas dari apakah dia "sesat" atau mendapat "hidayah", itu bukan kesanggupan kita untuk menilai.


Masalahnya, yang menjadi ruang eksplorasi religiusitas kerap dimaknai sebagai "ruang" yang menafikkan unsur-unsur fundamental dari tata bangun religiusitas itu sendiri.


Dalam kasus Lia Aminuddin misalnya, ia muncul sebagai sebuah bentuk yang "aneh", ketika wanita "perangkai bunga" itu mengaku sebagai penjelmaan "Jiblril". Ini benar-benar dahsyat, mengingat "Jibril" dalam terminologi teologis merupakan "tangan kanan" Tuhan. "Jibril" adalah "juru bicara" Tuhan dalam soal-soal penyampaian Wahyu. Ia masuk dalam Ring 1 pada tata kerahasiaan Ilahi.


Namun sebaiknya, Fenomena Lia Eden, janganlah membuat kita sedemikian "kalap" dalam menanggapinya. Lia dengan segala kemungkinannya itu, haruslah kita letakkan dalam bingkai sejarah "pergumulan" spiritual manusia. Dia adalah satu diantara sederet panjang para tokoh yang bisa membuat kita "tertawa" atau "merenung"-terserah dari Anda.


Yang mencemaskan kita adalah justru ketika reaksi "kekuasaan" muncul mengiringinya. Sebuah "kekuasaan" yang mengklaim bahwa sesuatu itu "sesat" dalam menyikapi sebuah keyakinan. Sebuah "kekuasaan", entah itu Negara, Massa, Aliran atau apapun yang mengacung-acungkan kebencian terhadap sesuatu yang lain.


Lia Aminuddin, barangkali, adalah sebuah "kecelakaan" dalam memahami hakekat religiusitas sesungguhnya. Bahwa Ia sejatinya hanyalah "korban" dari situasi keberagamaan kita yang mungkin cenderung tidak meninggalkan "jejak" asalinya lagi. Sebuah keberagamaan yang cenderung "dingin", "kaku" dan "tanpa empati". Keberagamaan yang menyodorkan "ketakutan" dan "kebencian".



makassar,22 04 09
Diberdayakan oleh Blogger.