Buruk Muka Cermin Dibelah


"Muka buruk Cermin di belah", itulah wajah keindonesiaan kita akhir-akhir ini. Bagaimana tidak. Setelah 63 tahun kita bersepakat untuk meneken "kontrak" sebagai sebuah nation-state, kita tak "kapok-kapok"nya mencereweti "cermin" sebagai "biang-kerok" dari betapa buruknya "wajah" kebangsaan kita. Dengan demikian, mau-tak mau, psikologi berbangsa yang terbentuk kemudian terseret-seret macet hanya pada tataran "kanak-kanak".

Semua problema kebangsaan kita hanya di siasati dengan strategi "burung Onta". Sebuah kepengecutan untuk berani melihat kesalahan dan tampil bertanggungjawab. Sejarah bangsa ini selalu saja "sunyi" dari orang-orang seperti itu. Yang ramai di permukaan adalah "gegap gempita" saling tuding, saling caci,dan saling lempar tanggungjawab.

"tradisi" ketakbecusan dalam berbagai hal adalah santapan paling di"gemari" dalam "rumah makan" yang bernama Indonesia ini.Kita bahkan tak pernah mau belajar dari kesalahan, bahkan cenderung "merawat" kesalahan itu untuk kepentingan pribadi.

Dalam kondisi demikian, hasilnya mudah ditebak. Kita menjadi sebuah bangsa yang mengidap penyakit "amnesia sejarah". Bangsa yang pelupa dan dengan "bego"nya terperosok kembali pada lubang kesalahan yang sama. Berulang-ulang.Terus-menerus.

Kita tak hendak menyalahkan siapa-siapa disini. Para ""burung Onta" sudah terlanjur bertengger di "otak" kita masing-masing. Kita adalah "pengecut-pengecut" kecil diantara "pengecut-pengecut" besar. Kitapun saling bertukar "air liur" kepengecutan. Bergumul dalam gagasan yang ujungnya hanya merupakan taktik menghindari tanggungjawab. Menuding sana menuduh sini, hanya untuk menutupi "kecurangan" kita. Menjadikan kata "rakyat" sebagai sebagi simbol "korban" hanya untuk menyelamatkan "muka" ketidaksanggupan kita untuk belajar dari kesalahan.

Barangkali memang, Indonesia harus kita "tulis" ulang kembali. Indonesia yang "memasang dadanya" untuk sebuah tanggungjawab. Indonesia yang di ujung suaranya, terpekik kata; "Ini salahku, dan aku siap bertanggungjawab". Indinesia dengan ksatria-ksatria yang tidakbersembunyi di balik aturan-aturan hukum dan prosedur.

Dengan kata lain kita harus belajar kembali "membumi"kan sebuah sikap,ketegasan dan tanggungjawab.



makassar,18 04 09
Diberdayakan oleh Blogger.