Mudik



Sebuah tradisi agaknya bisa bercerita banyak tentang bagaimana suatu bangsa memperlakukan masa lalu. Memang, bisa dikatakan, setiap bangsa, memiliki coraknya sendiri dalam melihat “kekuatan” dari masa lalu tersebut. Tradisi seperti ini dibentuk dari sebuah proses panjang pergulatan berbagai kecenderungan dan watak dari bangsa tersebut. Agaknya, ini pula yang bisa kita ungkapkan ketika bercerita tentang tradisi mudik pada saat menjelang hari Idul Fitri dalam bangsa kita. Sebuah tradisi “pulang kampung” dengan segenap potensi kultural yang mengiringinya.

Pada tiap-tiap menjelang hari Lebaran, kita bisa menyaksikan, bagaimana lautan manusia terlihat bergerak dari berbagai penjuru dengan satu tujuan yang sama, yakni, “pulang kampung”. Gerakan “kembali ke asal” ini terkadang demikian mengharu biru temperature batin kita. Bagaimana tidak, gelombang manusia itu terlihat demikian “ikhlas” berdesak-desak, terhimpit, dan mempertahurhan keselamatan jiwanya, untuk sebuah kesempatan berhari raya di kampung halaman.

Lalu, bagaimana kita bisa menjelaskan itu semua? Bagaimana “magnet” itu demikian menyedot rasa rindu kita akan sebuah “tempat asal”? Beberapa budayawan pernah memberi semacam penjelasan tentang fenomena mudik ini. Emha Ainun Najib, pernah menulis panjang lebar tentang mudik ini dengan mengatakan bahwa fenomena mudik adalah sebuah “gerakan” untuk kembali ke asal. Semacam “ritual” Sangkan Paranin Dumadi” Sebuah kerinduan untuk meneguhkan kembali rasa kemanusian kita terhadap “asal usul”

Memang, dalam perspektif religiusitas, kita bisa mengatakan bahwa tradisi mudik merupakan sebuah rangkaian dari “ritual” kembali ke Fitrah tersebut. Inilah gelombang mobilisasi arus jutaan jiwa yang berusaha melakukan semacam peneguhan kembali dengan “kesucian”. Meminjam filsafat Sangkang Paraning Dumadi” itu, tentang “dari mana dan mau kemana manusia” tersebut dalam perjalanan hudup di dunia ini. Tentang bagaimana manusia melakukan “napak tilas” tentang eksistensinya di dunia serta sedikit banyak, melakukan “rendezvous” terhadap hakekat hidup. Bisa dikatakan, dalam tradisi mudik inilah, tanpa mengenal dari kultur serta strata social manapun, jiwa manusia memiliki kerinduan yang demikian indah untuk menemui kembali “keasalannya”. Kerinduan untuk “manunggaling Kawulo Gusti”

Dengan demikian, dalam ruang budaya tradisi mudik ini pula, kita bisa menyaksikan bagaimana sebuah bangsa memperlakukan “masa lalu”nya. Bagi sebuah bangsa dengan tradisi mudik yang intes seperti ini, “masa lalu” bukanlah hanya sekedar rangkaian waktu yang terhitung dalam satuan angka tahun. “masa lalu” bukanlah hanya berhenti pada rangkaian peristiwa dari apa yang pernah terjadi dan sudah terlewati. Lebih dari itu, dalam sebuah bangsa dengan tradisi ini, “masa lalu” adalah “asal usul”. “Masa lalu” adalah pusaran inti dari keberadaan manusia. Tempat dimana kita kembali melakukan “komunikasi” dengan asal usul jiwa kita. Tempat dimana jiwa kita akan “berpulang” kepadanya.

Sebuah bangsa dengan paradigm kultur dan batin seperti ini, memang selalu akan mempunyai “kerinduan” untuk pulang. Menjadikan “asal-usul” itu sebagai bagian dari “tujuan” eksistensi hidupnya di dunia. Ketika orang-orang bergerak untuk “pulang kampung”, maka disana tercermin sebuah “perjalanan” spiritual untuk rindu kembali kepada asalnya. Rindu untuk pulang kembali kepada Penciptanya. Rindu kepada Tuhan.***


Makassar, 9 September 2010
Diberdayakan oleh Blogger.