Zombie itu Bernama Konsumerisme




Di suatu ketika, seorang  Sastrawan-filsuf tiba-tiba menemukan dirinya dalam sebentuk rasa keterasingan (alienasi) yang  demikian perih. Di tanah kelahirannya Prancis , Sang filsuf yang bernama Albert Camus itu, mendapati dunia dan peristiwa eksistensial manusia ternyata demikian absurd. Sebentuk “kesia-sian” yang percuma. Di sana, dia kemudian menggambarkan absurditas manusia dan dunianya dengan mengambil sebuah contoh sosok Sisifus dalam mitologi Yunani. Karena mendapat hukuman Dewa, Sisifus dikutuk untuk membawa sebongkah batu besar ke atas bukit. Kita bisa membayangkan, bagaimana dengan susah payahnya dia membawa batu tersebut. Namun –di sinilah letak absurditas yang demikian perih itu- sesampai di puncak bukit, Sisifus bisa kita bayangkan berdiri sejenak. Memandang jauh namun kosong ke arah kaki buki di bawahnya. Lalu dia perlahan mendorong batu itu dan menggelindingkannya ke bawah. Sesampai di bawah, Sisifus memulai lagi hukumannya; membawa batu itu ke puncak. Itulah yang dilakukannya berulang dan terus menerus.

Tapi, Albert Camus memang anak pada zamannya. Filsuf-Sastrawan ini, walau pun terlahir dalam suasana muram perang dunia ke 2, namun jiwanya masih mengakar kuat dari tradisi panjang abad pencerahan Eropa yang berderap optimis itu. Dengan begitu, kita pun sedikit banyak memahami, bahwa dalam iklim muram perang, dia tetap saja menyimpan rapi sikap dan pandangan optimistiknya. Dalam absuditas manusia yang memilukan itu, Camus mencanangkan “perlawanannya”dengan kepala tegak. Keniscayaan kondisi manusia yang absurd justru melecutkan ruang batinnya untuk tetap menatap dunia dengan senyum. Inilah yang menyebabkan mengapa Camus senantiasa meletakkan Sisifus dalam kondisi menerima kutukan Dewa dengan kepala tegak dan seulas senyum. “Dalam situasi ini, kita harus membayangkan bila Sisifus merasa bahagia”, ujarnya.


Di sisi ini, Albert Camus mewakili suara batin zamannya. Sebuah zaman yang sulit dan terbenam dalam ledakan meriam dan jerit serdadu yang mengerang maut, namun masih membara dalam api harapan. Sebentuk spirit yang getarannya juga kita rasakan pada puisi-puisi Chairil Anwar. Sebuah elan vitalitas yang tak ingin menyerah untuk sesuatu yang merendahkan harga diri manusia pada tapak kaki sejarah dan  kebangkrutan jiwa. Semangat yang lahir dan ditempa justru oleh sebuah kondisi yang demikian sulit dan desingan maut begitu dekat di halaman rumah kita.

Namun memang setiap zaman melahirkan “anak-anaknya” sendiri. Sebuah pergulatan yang membawa akibatnya sendiri. Di zaman pascamodern ini, kita mungkin tak lagi bisa menangkap secara jernih spirit semacam itu. Jagat batin kita telah berubah. Pada zaman ini, “pertemuam-pertemuan” kemanusiaan dengan getarannya yang menyentuh sisi paling rahasia dari batin kita seperti sebuah cerita dongeng belaka. Saat ini, kita berada dalam kondisi di mana pertemuan kita dengan dunia menjadi demikian artificial. Kita hidup dan dihidupi dalam sebuah dunia yang tidak lagi terasa otentiknya. Kita ada dalam “dunia buatan” yang semuanya dikedalikan oleh jejaring besar yang bernama konsumerisme. Dunia inilah yang membentuk batin kita lewat berbagai pencitraan artificial lewat iklan dan reproduksi keinginan. Dengan kata lain, jati diri dan eksistensi kita akan mengada bila pemenuhan konsumeristik itu terlaksana. Di sini, akar keberadaan dan makna hidup menjadi terpusat di sana.

Dengan kata lain, ketercerabutan diri dan dunia akan kita rasakan bila kita “terlempar atau dilemparkan” dari kondisi semangat konsumeristik tersebut. Inilah zaman di mana akar kemanusiaan kita memang telah diganti oleh berbagai “dunia buatan” tersebut. Kita merasa ada atau sebaliknya tiada karena “dunia buatan” itu menjadikannya ada atau tiada. Kita pun sebenarnya, diam-diam melakukan bunuh diri kemanusiaan di sana. Dan kemudian hidup kembali dalam bentuk “zombie” yang manis dan penurut. 

Tapi sebagaimana Albert Camus dan Chairil Anwar pada zamannya, pada kadar tertentu, kita bisa saja dengan kepala tegak untuk kemudian mengatakan “tidak” pada semua itu. Yang diperlukan barangkali adalah semacam napas panjang untuk tetap tidak “membunuh diri” dan kemudian bangkit lagi dan menjadi  “zombie” manis.***
Diberdayakan oleh Blogger.