Dongeng Zaman yang Aneh



Zaman senantiasa menghadirkan keanehannya sendiri. Barangkali, karena memang disetiap masa, manusia yang hidup di dalamnya tidak akan terlepas dari cara bagaimana dia menafsir realitas lingkungannya. Pernah di suatu zaman, ketika hidup masih demikian guyub dalam percik-percik kemanusian yang asali, pertalian antara hidup dan kematian demikian karib. Di sana, kehidupan adalah perayaan ruang-ruang pengalaman yang kelak akan tergambar dalam “kehidupan” lain yang bernama kematian. Manusia pun, pada kurun waktu itu, kemudiaan berada dalam tarikan lintasan itu. Menjadikan kematian dekian berdamai dengan kehidupan. Di sini, bunuh diri tak dikenal.

Pada kurun masa lain,  kehidupan dan kematian seperti sepasang suami istri yang lagi tak bersapa. Bahkan saling mengintip untuk sewaktu-waktu berusaha meniadakan yang lain. Eksistensi hidup dan manusia demikian menggelegak. Bila memungkinkan, manusia ingin menyembunyikan kematian hanya dalam ruang-ruang mimpi buruk. Pada masa ini, kematian memang adalah sebuah “ketiadaan”. Hilang dan lenyap dengan bekas-bekasnya yang disebut kenangan. Di sana, bunuh diri adalah sebuah peristiwa absurd.

Namun ketika agama menjadi jawaban dari seluruh keberadaan manusia, kehidupan dan kematian pun memperoleh ruang pemaknaan yang lebih metafisis. Di sana kehidupan dirayakan sebagai ladang menanam kebaikan untuk kelak dibawa pada kehidupan sesudah kematian. Dengan begitu, kematian hanya sejenis keadaan yang sementara dan ringkas. Sebuah terminal layaknya kita melakukan transit dalam suatu perjalanan.  Karena kehidupan adalah lahan investasi kebaikan, maka dengan sendirinya hidup adalah sebentuk ujian yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Di sini, bunuh diri adalah semacam pernyataan yang mengingkari ladang menanam kebaikan itu, dan sangat dikecam sebagai sebuah dosa besar.

Lalu bagaimana jagat pasca modernitas ini menempatkan keberadaan kehidupan, kematian dan bunuh diri manusia? Di tengah situasi yang demikian cepat berganti rupa, alam kehidupan menjadi tak lagi punya ruang-ruang untuk mengaikan antara masa lalu, masa kini dan masa depan. Ketiga masa dalam rangkaian pemaknaan waktu tersebut telah terberai dalam keserempakan yang terus-menerus. Di sini, eksistensi tak lagi punya akar pemaknaan waktu lagi, karena manusia terus saja mendisorientasikan dirinya menurut replika-replika indentitas lain. Manusia bukan lagi episentrum dari kehidupan. Segalanya kemudian menjelma teks. Makna tak lagi ada dalam dirinya. Tapi melesat keluar dalam berbagai bentuk yang tak mungkin didefenisikan. Pada perjalanan zaman ini, manusia memang dengan sukarela meniadakan identitas dan akar pemaknaan eksistensinya. Manusia dengan antusias membunuh dirinya, tapi tanpa kehidupan dan kematian di sana. Manusia hanyalah senbentuk teks yang menunjuk teks lain dan terus-menerus mereproduksi diri. Sebuah zaman yang memang benar-benar menyajikan puncak keanehan.***

Makassar, 2012
Diberdayakan oleh Blogger.