Obama dan Kawanku




Hari ini kawanku terlihat necis sekali. Wajahnya begitu sumringah bak buah jambu yang ranum. Senyumnya menebar ke sana ke mari, seakan-akan ia memang terlahir dalam posisi senyum seperti itu. Tak biasanya kawanku itu berprilaku begini. Biasanya, dalam wajahnya selalu saja menyembul kabut muram. Terkadang, bila menatap wajahnya yang muram itu, saya seperti menyakini bahwa "kiamat memang sudah dekat".

Tapi hari ini, dia terlihat lain sekali. Pagi-pagi, penampilannya telah tertata rapi. Dia terlihat begitu sibuk membersikan rumah. Segala macam perabotan yang biasanya centang perenang, ia kembalikan pada tempatnya. Bahkan, kemarin ia sempat membeli perabotan baru. Untuk itu kawan saya terpaksa menjual "Krakatau", ayam petelur yang selama ini dibanggakannya.

Pagi-pagi sekali, kawan saya itu juga sudah mengecat rumahnya. Mengusir para tukang becak, bakul jamu, tukang odong-odong yang selama ini mangkal di halaman rumahnya. Katanya, rumah ini harus "bersih" dari anasir-anasir yang menjijikkan. Yang berbau kemiskinan dan kemelaratan. 

Prilaku inilah yang semakin membuatku bingung. Ada apa lagi di benak temanku ini. Dia kemudian tersenyum simpul, mengedipkan mata dan menjawab bahwa semua ini dilakukanya untuk menyambut Obama.

Lha, apa hubungannya kedatangan presiden Amerika itu dengan kamu yang rakyat kecil ini? Tanyaku. Dia makin tersenyum dan balik bertanya, "lha ngapain juga menyambut presiden yang hanya karena pernah tinggal di negeri ini, kita demikian kelimpungan. Seperti menanti kedatangan mempelai pengantin saja", semburnya.

Saya tambah bingung, tapi kawan saya makin menyembur. Dengan demikian, kita ini semakin mempertontonkan bahwa kita ini sebenarnya adalah sebuah bangsa yang masih mengidap "inlander sindrome". Kita masih membayangkan diri sebagai "putri cinderella" yang mental masokistiknya demikian menghiba untuk menantikan datangnya "pangeran penolong". Dan hal itu semakin menunjukkan bila kita memang sebuah bangsa yang tidak mampu mandiri. 

Saya makin bingung dengan penjelasan kawan saya ini. Tapi dia tidak peduli. Dia kemudian memaki-maki dan mengancam memanggil satpol PP, kalau para pedagang kaki lima yang mangkal di halamannya masih tetap ngotot jualan di sana.***
Diberdayakan oleh Blogger.