Pemimpin dan Tangisannya




Kali ini kawan saya terlihat lebih banyak diam, biasanya, hampir saban hari ia tak bosan-bosannya mengirimi saya pesan singkat yang isinya kadang membikin temperatur batin dan stabilitas pikiran saya menjadi panas dingin. Saya tak tahu apa yang menjadikan kawan saya ini mogok "berpesan". Sampai tadi pagi saya, yang tiba-tiba dilanda kerinduan yang amat sangat dengan kegilaannya, berkunjung menemuinya.

Di rumahnyan kudapati kawan saya itu lagi mempersiapkan tali dan kursi. Saya jadi bingung di buatnya. "Buat apa tali dan kursi itu?" tanyaku. Kawan saya itu tak menoleh. Dia hanya bergumam kecil, seperti berbicara pada dirinya sendiri. "Aku mau bunuh diri sejenak, setelah itu balik lagi menatapku, tunggu ya?" katanya sambil mempersiapkan ritual bunuh diri itu. 

Saya kaget. Benar-benar kaget. Kegilaan macan apalagi yang melanda batok kepala kawan saya ini. Saya buru-buru ingin mencegahnya. Dia balik kesaya dan tersenyum kecut. "Ngapain kamu mau melakukan perbuatan pengecut ini. Kamu sudah benar-benar gila", semburku. 

Dengan sedikit berbisik, ia mulai menjelaskan tujuannya. Bunuh diri ini akan dilakukannya untuk menemui para pemimpin bangsa ini. Kawan saya itu ingin ketemu dengan Soekarno, Hatta, Sjahrir dan Natsir. Dia hanya ingin menanyakan, mengapa tokoh-tokoh seperti mereka seakan-akan macet di"produksi" lagi pada bangsa ini. 

Apa yang kurang dari semua yang dibutuhkan sebuah bangsa untuk melahirkan pemimpin yang benar-benar disebut pemimpin. Bukan politisi yang hanya bergelut dengan "nafsu" kekuasaan semata. Kawan saya ini hanya mau bangsa ini memperoleh "elan vital" dari pemimpin sekelas mereka. Makanya ia menyuruhku untuk menunggu sejenak sampai dia balik lagi dari bunuh dirinya.

Saya yang mendengar penjelasannya mendadak semakin bingung. Sampai ia kemudian tersenyum lantas menyuruhku pulang. Dia hanya berpesan, jangan suka bungung dan kaget. Seorang pemimpin adalah "sayap" yang dibutuhkan rakyatnya untuk tetap bisa terbang dan memiliki harapan. Kalau pemimpin hanya berkutat pada dirinya sendiri dan selalu mengasihani dirinya sendiri, maka ia tak layak di sebut pemimpin.

Saya makin bingung. Tapi kawan saya itu kemudian masuk ke kamar dan menguncinya. Kudengar dia menangis sesungukan di sana. Tapi ia sempat berteriak, "jangan beritahu rakyatku ya kalau aku juga menangis dengan penderitaan yang mereka alami."

Saya benar-benar bingung kali ini***

Makassar, 2010
Diberdayakan oleh Blogger.