Pemuda

Pernah suatu ketika, seorang kawan menggerutu kecil; "kenapa pemuda sekarang seperti kehilangan elan vitalitas dalam memandang kehidupan kebangsaan? Apa yang yang menyebabkan mereka demikian "lembek" dalam menghadapi masalah hidup? Namun pada sisi lain, mereka tiba-tiba meluap dalam "kemarahan" yang meledak? Apakah paradox pasca modern juga menjadi bagian dari wajah pribadi para pemuda kita?

Saya, yang saat itu lagi terbenam dalam romantisme "sumpah pemuda" sedikit terhenyak. Bukan karena pertanyaan itu, tetapi karena teman saya itu diam-diam masih menaruh nuansa beban yang terlalu berat bagi pemuda. Mungkin kawan saya itu juga sedang mengalami semacam "romantisme" seperti yang saya alami setiap memperingati hari sumpah pemuda, namun yang membedakannya barangkali adalah bahwa saya sekedar meelakukan rendezvous, sedang teman saya itu sedang melakukan usaha "kloning" terhadap generasi yang dulu yang dianggapnya lebih berkualitas.

Tak ada yang keliru dengan itu, namun tidak ada salahnya, bila kita memulainya dengan pemikiran bahwa setiap zaman melahirkan dialektikanya sendiri. Tantangannya sendiri, serta kerapuhannya sendiri. Kita harus belajar untuk meletakkan diri dalam ruang dinamika kepemudaan saat ini. Bahwa mereka memiliki "corak" sendiri dalam menyikapi hidup dan nilai-nilai kebangsaan. Mereka adalah generasi yang lahir bukan dari ruang hampa. Mereka ada dan tumbuh dalam asupan nilai-nilai di lingkungannya. Jadi ketika kita membincangkan pemuda, kita sebaiknya "menjadi pemuda" itu sediri. Dan bukan menjadi "orang tua" yang selalu dihinggapi "penyakit" cemas dan selalu menempatkan diri sebagai "kebenaran tunggal" dihadapan pemuda kita.

Saat itu, saya tak menanggapi gerutu teman saya itu. Saya hanya membayangkan sekelompok pemuda yang sibuk membangun "dunianya" dunian yang memang milik mereka, tanpa dibebani oleh berbagai "kebenaran" yang dianggap hanya dimiliki orang tua***

Makassar, 2010
Diberdayakan oleh Blogger.