Membaca Makassar








Makassar, barangkali adalah sebuah kota yang kepingin "berlari kencang". Gedung-gedungnya.Jalan-jalannya.Rumah-rumahnya, seperti berlomba menjangkau langit. Pagi hari, kota ini terkaget-kaget oleh kebisingan. Suara klakson menjeritkan ketidaksabaran yang khas dari sebuah kota metrolpolitan.Orang-orang menyerbu jalanan.Tak ada yang peduli satu dengan yang lain.Wajah-wajah mereka menjadi sangat asing bagi yang lainnya. Untuk ukuran sebuah kota, Makassar memang lagi kepingin "berlari kencang".

Pada siang hari, Makassar mulai membuka dadanya karena "kepanasan".Debu membumbung bak penari erotis.Bau peluh bercampur kebisingan yang semakin tumpah-ruah di jalan. Asap knalpot kendaraan menampar-nampar alat penciuman kita. Dan Makassar, di siang hari, semakin tidak peduli.

Bercerita tentang Makassar, seperti kita mulai membaca dongeng tentang "pangeran kodok". Seekor kodok yang bakal menjelma menjadi seorang "pengeran" ketika ada gadis yang dengan tulus mencintainya. Untuk menjadikan "kodok" itu berubah pangeran tampan,maka sang gadis harus ikhlas menciumnya.

Makassar adalah "kodok" yang perlu kita "cium" rame-rame. Dibutuhkan kecintaan yang dahsyat untuk dapat "melacak" nilai lebih kota ini. Sekilas tinjauan pandang, kita memang hanya menyaksikan bangunan kotak yang bernama "ruko" (rumah toko) itu. Selebihnya hanyalah debu dan jeritan kota yang lagi "kalap" membangun.

Kita perlu mencintai kota ini lagi. Meneguhkannya lewat "pengucapan" budaya yang lebih berakar pada batin warganya. Kota ini kita harus kembalikan pada sisinya yang berwajah ramah.Lebih manusiawi. dan yang lebih mendesak lagi menjadikan kota ini kembali berkharisma "Makassar"

Tapi sudahlah. Makassar terlanjur "berlari kencang".Yang perlu kita cemaskan adalah ketika kota ini tidak memberi "ruang" lagi pada keberagaman "pengucapan" budaya.Semuanya menjadi satu warna tunggal.Ruko-ruko, Mall,atau jejeran beku perkantoran yang bisu akan gairah.

Dan yang lebih penting adalah bahwa kota ini tidak bakal menjadi "ibu tiri" bagi sebagian warganya yang oleh kondisi dan kesempatan menjadi termarjinalkan dalam gemuruh pembangunan kota ini.


Makassar,02 03 09 
Diberdayakan oleh Blogger.