Bangsa yang Sakit



Apa yang sakit dari bangsa ini? Melihat orang-orang yang terhormat dan pintar itu "memperadekan" kecanggihan ilmu serta kepiawaian retorika mereka dalam "membabat" belukar problema bangsa ini dalam "serial drama" Kampanye Pemilu akhir-akhir ini.

Menyaksikan mereka berorasi,kita sepertinya optimis bahwa krisis saat ini akan beres tuntas di tangan mereka.

Tapi mengapa semakin hari, makin kita di sodori "pepesan kosong"? Ah..saya pikir persoalannya adalah karena kita, sebagai "nation-state". telah lama kehilangan dharga diri kemanusiaan.

Kita memang telah berhasil menjadi manusia-manusia "cerewet" tapi gagal dalam memperlakukan "hati nurani" secara sehat.

Kita sakit karena kotak "pandora" keserakahan telah terbuka dan kita di giring kewilayah "perbudakan" baru,yakni perbudakan terhadap kapitalisme pasar bebas.

Ah..reformasi ini ternyata melahirkan "anak" yang karena watak "bapaknya" memang sudah sakit, juga ternyata sakit..

Lalu,bagaimana seharusnya kita bersikap? Bangsa yang telah cukup lama di "infus" ini, selayaknya tidak lagi diperlakukan seperti "sapi perah" dalam pasar politik saat ini.Kita selayaknya bisa berkata "tidak" pada kecenderungan politik yang hanya mengandalkan "uang" dan "bagi-bagi sembako" seperti yang marak kita saksikan.

Barangkali bahwa sebagian besar dari kita bisa memaklumi bila masyarakat demikian "terpesona" dengan politisi yang "ringan duit" ini. Barangkali bahwa masyarakat kita memang sudah sangat "cerdas" untuk menjeguk hati para caleg ini. 

Masyarakat menganggap bahwa "demokrasi" yang terbagun di negeri ini adalah "demokrasi-contreng" semata. Bahwa setelah itu, dan para wakil rakyat kita ini telah memduduki kursi empuk kekuasaan, "demokrasi dengan sendirinya menyingkir "masuk-kotak" lagi.

Dengan demikian, kita tak bisa menyalahjan mereka, ketika mereka dengan "senyam-senyum" menerima "gizi" dari para kontestan pemilu. Mereka hanya "mencuri" kesempatan dalam kesempitan cara kita memaknai demokrasi, tapi bagaimanapun itulah demokrasi dari produk bangsa yang sakit. Apa boleh buat...



makassar,03 04 09
Diberdayakan oleh Blogger.