percikan pikiran 11:"panggil aku Teroris"


Pernah suatu waktu seorang teman berkirim surat pada saya. Mulanya saya kaget dengan judul "besar" yang terpajang dan menjadi kop suratnya: "Panggil aku Teroris". Setelah saya menyimak, saya jadi paham kalau dia sebenarnya bermaksud mengejek saya.Tak apa-apalah. Sekali-sekali kita memang pastas digelitik. Karenanya, dengan meminta terlebih dahulu persetujuannya, saya menulis ulang dicatatan ini:

"Barangkali kamu akan tertawa ketika kukatakan; "aku kepingin jadi Teroris". Saya pahami itu. Bukan karena aku terlihat lucu ketika mengatakannya.Tapi memang karena katamu aku sama sekali tak punya "bakat" untuk itu.

Jadi,baiklah aku jelaskan sedikit: "Teroris, bagi saya, bukan hanya berhenti pada sebuah "ideologi". Lebih dari itu, ia adalah sebentuk "kepengecutan" yang tak punya logika untuk "membenarkan" tindakannya. Terorisme adalah "anak-anak yatim-piatu" sejarah,orang-orang yang tak "berindentitas" dan hanya mampu mengidentifikasikan dirinya lewat idiom-idiom kekerasan. Bukan karena "kekerasan" adalah alat "pengucapannya" yang paling pas. Tetapi karena "kekerasan" adalah "sambutan" dan "tepuk-sorai" peradaban yang langsung-tidak langsung membenarkan "kepengecutannya".

Terorisme adalah "kepengecutan" itu sendiri. Dan di sanalah dia berani menongolkan wajahnya yang "biru" oleh ketidakpedulian. Sedangkan kita, manusia yang katanya "beradab" dan "berbudaya" ini, adalah sebuah komunitas bagi "kampung halaman" yang menyembunyikan "kepengecutan" kita dipantat sejarah dan hanya bisa memaki "kepengecutan" orang lain. Kita adalah "maling" yang berteriak "maling" di perkampungan "maling".

Makanya, sekalil lagi kukatakan, "aku kepingin jadi Teoris" karena dengan begitu aku berusaha untuk jujur dengan "kepengecutan"ku..."

Setelah membaca surat kawanku itu, saya tak tahu apa yang sebenarnya dia maksud. Sampai ketika saya menyadari berada dalam "arus besar" peradaban yang berjiwa "pengecut". Dan saya adalah salah satunya.


makassar 04 04 09
Diberdayakan oleh Blogger.