Kebebasan




Bagaimana kita memaknai kebebasan? Agaknya pertanyaan ini harus kembali kita "gosok" dalam konteks peradaban global yang demikian kental dengan dimensi-dimensi paradoksnya.

Kebebasan itu,sejak awal diperuntukkan ketika seluruh atmosfer "pemaksaan" hegemonik menjadi "kitab-suci" sebuah kekuasaan. apapun dan bagaimanapun bentuk dan jenisnya.Jadi disini, kebebasan itu bukanlah titik ekstrim dari satu kutub, dimana kutub lainya adalah "ketidak-bebasan". Mengapa demikian, karena pada konstalasi ini, kebebasan adalah satu ruang tengah yang bila tidak dikelola dengan seperangkat nilai-nilai spiritual maupun humanitas yang empatik, pasti akan tergelincir pada runga-ruang gelap "anarkisme" dan kejumudan "tiranik".

Makanya, ketika sebuah koran Denmark, memublikasikan sebuah karikatur yang dianggap Nabi Muhammad SAW, dengan memakai alasan klasik "demi kebabasan" Dan kemudian ditanggapi dengan kemarahan umat Muslim sedunia, bisa dikatankan bahwa disana yang terjadi, bukanlah "perang" atara "kebebasan" dan potensi "ketidak-bebasan" yang ada pada sebuah ajaran agama.

Yang terjadi,sebenarnya, adalah suatu pemaksaan "kitab suci" hegemonitas kekuasaan barat dalam memaknai realitas dunianya tentang "apa itu kebebasan". Di sini, yang terjadi bahwa koran Denmark itu,sama sekali tidak memperjuangkan "kebebasan", tetapi malah "mencederai" kebebasan itu sendiri dengan menjerumuskannya pada ruang-ruang gelap "anarkisme" dari riwayat panjang sentimen "bawah sadar yang kemudian melompat ke kutub lain: sebuah kejumudan "tiranik" dari sebuah peradaban yang telah mengalami "masa-masa senja kalanya".

Makassar,09 04 09 


Diberdayakan oleh Blogger.