Tradisi Lamaran dalam Politik Kita


Barangkali, untuk saat-saat ini, kita kembali harus menyaksikan bagaimana para "politisi" memainkan "ping-pong" strategi dan taktik "melamar" sebuah kekuasan. Dipastikan bakal banyak yang unik dan menarik di sana. 


Ada sebuah adigium yang oleh kaum politik, kerap dijadikan acuan dalam sepak-manuvernya, yakni; "tak ada kawan yang abadi,yang ada hanya kepentingan". Mungkin inilah "kitab suci" mereka dan sekaligus "obat penenang" bagi kita untuk tidak "stroke" bila menyaksikan hal yang "aneh bin ajaib" di seputar "perebutan" kekuasaan itu. Bukan sesuatu yang luar biasa.

Pernah ada seorang kawan yang demikian dibingungkan oleh betapa" licinnya liuk-lekuk tubuh" perpolitikan di ngeri ini. Menurut anggapan dan referensi "awam" yang dia pegang, proses "kawin-mawin" antara "mempelai" partai yang satu dengan yang lain seyogyanya dilandasi oleh "ijab-kabul" ideologi yang sama. Namun kenyataannya tidak. Yang terjadi adalah keriuhan yang aneh. Hampir semua bisik-bisik yang terekam ditelinga kawan saya itu adalah "siapa dapat apa", "kursi menteri ini untuk partai mana".

Memang, kita tak bisa nafikkan, bahwa politik adalah seni merebut kekuasaan. Tapi yang tak bisa dimengerti kawan saya itu adalah bagaimana mungkin sebuah partai yang berlainan "haluan" ideologi" bisa dipertemukan dalam "rubrik jodoh" kekuasaan yang terkadang ironis karena memakai jasa perantaraan "calo". Inilah politik dalam artinya yang paling vulgar. Apa mau dikata. Dengan demikian, produk kekuasaan yang dihasilkan oleh prosesi "perkawinan" seperti ini begitu sengak dengan aroma "dagang sapi" politik.

Lalu bagaimana kita dengan relaks menyaksikan "adegan" drama "perkawinan" ini? Ada baiknya kita duduk simpul di depan kotak televisi. Banyangkanlan kita menonton "opera sabun". Atau setidak-tidaknya kita membawanya dalam "atmosfer" semangat "Idol-Idol"an. Kita harus memelototkan mata kita untuk sebuah kemungkinan-kemungkinan. Ada tokoh jahat.Ada tokoh baik. Diantara keduanya, terciptalah drama yang menegangkan.Pertanyaannya, siapakah yang berperan sebagai tokoh baik? Dan siapa pula yang harus menerima "kutukan" brperan antagonis? Semua itu berpulang dari bagaimana kesan yang dibentuk oleh "pencitraan" masing-masing.

Dalam konteks Pemilihan Presiden yang sisa beberapa bulan ini,kita sudah mulai disodori "pertunjukan" yang mengasyikkan. Menurut edaran kabar yang lagi panas, dipusat arena pertarungan telah muncul dua blok yang mewakili karakter para tokoh dalam drama ini.Pada yang satu kita dikenalkan sebagai Blok BIRU.Sedang di kutub seberang ada tokoh lain yang bernama Blok MERAH. Siapakah yang baik dan jahat diantara kedua Tokoh ini? Jawabannya bakal kita temukan dalam beberapa rangkaian episode selanjutnya.

Lalu dimana rakyat disini? Apakah rakyat punya Blok sendiri, mengingat pertarungan ini lebih kepada pertarungan para elit politik? Moga-moga, diakhir episode, apakah yang menjadi tokoh baik itu adalah Blok BIRU,Blok Merah atau Blok yang lain, rakyatlah yang dimenangkan. Karena kata otang yang pintar, kekuasaan hanya kendaraan untuk kemaslahatan sebesar-besarnya rakyat kita. Semoga demikian.***


Makassar 20 04 09.
Diberdayakan oleh Blogger.