percikan pikiran 2 Danau Cirata



Menikmati percakapan-percakapan kecil dan remeh temeh,tanpa pretensi apapun,adalah sebuah "kemewahan" dalam bingkai peradaban hiper-modern ini.Dalam lekuk-lekuk keringanannya,kita diajak lagi untuk memperlakukan diri dan orang lain tidak sekedar berhenti pada simbol-simbol status,kelas,kecercayaan atau apapun atribut sosial budaya,politik,yang terkadang "menghinakan kita sebagai manusia...

Dalam bincang-bincang yang renyah dan lezat itu,kita lebih bisa memahami,mengapa dan untuk apa Tuhan menjadikan manusia sebagai "Kekasih-Nya"...

Suasana seperti itu pernah saya rasakan...di sebuah danau ketika jejak angin meniti dijengkal-jengkal kulit kami...di danau Citara. Disana saya dan para sahabat belajar lagi untuk meneguhkan rasa kemanusiaan kami.Disana,kami berusaha lagi untuk menjadi "manusia" yang mungkin selama ini telak kapok dihajar oleh rutinitas kota yang membius...

Disana, di danau Citara,,percakapan yang dipendam angin,tepukan bahu,colekan mesra,kopi susu,ikan bakar,nasi hangat,air danau yang melambai,pekikan tawa,binar-binar mata,air kelapa muda,telah mengajarkan saya banyak hal...

Ada hal yang patut kita syukuri disana,ternyata kami (terutama saya) bila diberi sedikit saja ruang untuk saling menukar rasa..remah-remah kemanusiaan kami bisa berpendar lagi.***


Diberdayakan oleh Blogger.