percikan pikiran 4


oleh Makmur Gazali pada 21 Maret 2009 pukul 23:33

saya terkadang berpikir bahwa "kebahagiaan" itu tidak lebih dari sekadar "bertemu"nya berbagai ragam "lalu lintas" kemanusiaan kita dalam sebuah percakaan yang saling "menepuk bahu"

Lalu lintas kemanusiaan kita itu,adalah dimensi sadar dan tidak sadar, dimensi Ilahiah dan dimensi hewaniah, dimensi altruistik dan dimensi egoistik kita

Karena itu,saya berpikir bahwa segala penderitaan dan kesedihan manusia dalam kurun peradaban ini,adalah karena karena "lalu lintas" kemanusiaan kita berada dalam kesemrawutan yang sangat centang perenang.

Pagi hari, ketika kita terbangun,yang menyergap pikiran kita selalu saja diawali dengan sebuah "kecemasan", kita selalu saja memotret hidup dalam bingkai "siapa ang bisa menbuat kita bahagia" .Semua gerakan dan alur kecenderungan kita bermuara pada keinginan untuk "Senang Melihat Orang Susah" dan "susah Melihat Orang Senang".



Lalu..Bagaimana kebahagian bisa menepuk bahu kita?

Seperti kemarin, ketika saya melintas di lokasi kebakaran di Gusung...Saya,seperti orang-orang kebanyakan yang sok simpatik.sudah mempersiapkan lekuk-lekuk wajah yang saya pikir sdh cukup sedih,saya berusaha menekuk garis bibir ke bawah,dengan susahnya saya mencoba mensayu-sayukan mata,mempersiapkan jurus-jurus jitu untuk mengucapkan kata-kata simpatik dan menghibur..

Sesampai di lokasi sana, saya tiba-tiba tidak menemukan orang-orang yang bisa saya ajak untuk saling menukar seduh-sedang dan air mata..yang saya dapati adalah garis-garis ketabahan dari orang-orang kecil yang melihat hidup bukan dengan ratapan...tetapi dengan semangat membangun kembali..yang saya temukan adalah sebuah filsafat hidup orang-orang kecil yang merangkai hidup tidak dalam konteks "susah-senang" tapi menjadikan hidup sebagai sebuah proses yang terus berjalan..

Apakah saat itu saya harus bahagia karena melihat semangat juang dari masyarakat sana menghadapi musibah atau jutru bersedih karena semua "ritual- simpatik-kesedihan" yang telah saya persiapkan sejak dari rumah tidak mendapat tempat disana?

ah...ada baiknya saya harus belajar lagi untuk berbahagia tanpat melibatkan rasa "senang dan susah" orang lain... 
Diberdayakan oleh Blogger.