Bingkisan dari Bandung


Beberapa waktu yang lalu, saya sempat ke Bandung. Bersama teman-teman dari angkatan 88 Fakultas Hukum Unhas, saya memenuhi undangan teman-teman di Jakarta dan Bandung untuk bersilaturahim sekaligus meneguhkan kembali tonggak persahabatan kami yang sempat tercerai-berai oleh waktu. Ada banyak kegembiraan disana...Ada setumpuk keriangan membuncah dipertemuan itu. Kami seperti anak-anak kecil kembali yang mencoba melepas keterpenjaraan kami dengan segala "perjara rutinitas" keseharian.

Tiga hari pertemuan itu seakan-akan tidak mampu menggenapi kerinduan kami. Tapi bagaimana pun waktu tak bisa dibendung. Di hari terakhir di Bandung, seperti kebiasan para "wisatawan kampung",kamipun mempersiapkan bingkisan untuk orang-orang terkasih kita di kampung halaman. Pusat-pusat perbelajaan di Bandung pun menjadi sasaran "gairah konsumtif" kami. Mulai dari Ciampelas sampai ke Babe (barang bekas) kami aduk-aduk. Tujuan kami hanya satu; bagaimana agar orang-orang terkasih kami di Makassar,ikut pula merasakan gairah kegembiraan kami. setumpuk pesanan "oleh-oleh" telah kami bawa dengan semangat ingin "membahagiakan". Daftar yang bisa sangat panjang: baju, tas, sepatu, mobil-mobilan dll.

Waktu itu Bandung diguyur hujan. Tapi tidak menyurutkan kami untuk berjibaku "memburu" bingkisan. Semangat kami saat itu benar-benar termotivasi untuk sebuah harapan, bahwa orang-orang terkasih kami senang menerimanya. Kami menembus hujan Bandung yang tak bersahabat...

Sayapun yang turut larut dalam "semangat" itu, Dari kampung halaman, saya disodori" pesanan' yang denagn senang hati menerimanya. Maklum dia adalah orang terdekat saya. Bandung sudah malam,tapi kami terus "memburu". Sebuah pesanan,karena sesuatu hal, belum saya dapat. Saya menelpon dia karena ingin meminta kejelasan mengenai pesanan itu. Telpon genggamnya aktif tapi tidak terjawab.Saya mencoba terus, tapi hasilnya nihil...

Amarah saya sudah mulai mendengus.Saya tidak bisa menerima perlakuan seperti ini. Saya menganggap pengorbanan saya tidak pantas dibalas dengan tidak-acuhan seperti ini. Saya meledak. Emosi saya menghanguskan semua kegembiraan yang ikut bersama bingkisan itu. Saya "membakar" bingkisan itu setibanya di Makassar.

Di perjalanan Bangung-Jakarta, saya seperti berada dalam "medan tempur" yang dahsyat. Sampai pada titik puncak dimana saya mulai menertawai diri sendiri. Ternyata saya tidak menguasai "ilmu" ikhlas..Saya telah menempatkan rasa pamrih ketika ingin memberi sesuatu kepada orang lain. Dan ketika pamrih itu tidak terpenuhi,sayapun mencak-mencak kebakaran jenggot.

Pamrih itulah yang ternyata menguasai saya selama perjalanan. Semua yang saya perbuat,dan rencana yang ingin berikan, tidak lebih karena saya cuman menyenang-nyenangkan diri sendiri. Mungkin bingkisan itu untuk dia,tapi "nilai"nya telah menjadi hak prerogatif saya.Rasa tidak ikhlas itulah yang membuat saya kehilangan semuanya. Saya tidak memiliki "barang" dan "nilainya" sekaligus.

Pengalaman ini saya bawa sampai Makassar.Ternyata, saya masih harus banyak belajar untuk menempatkan keikhlasan sebagai "obor" prilaku keseharian saya. Ternya saya masih harus belajar bersikap seperti Matahari.Memberi dan hanya memberi....

Sampai kemarin, saya kebetulan mendengar cerita teman saya tentang temannya yang lagi men-Caleg-kan diri. Kata teman saya, temannya itu demikian sedih dan prihatin terhadap musibah kebakaran yang menimpa saudara-saudara kita di Maccini Gusung beberapa waktu lalu. Katanya dia telah mengerahkan semua energi dan sumber daya yang ia punya untuk menolong saudara yang menjadi korban kebakaran itu. Teman saya bercerita, sewaktu temannya menyerahkan "bingkisan" untuk membantu para korban,ada setitik air bening berkaca dimata temannya itu.

Alhamdulillah..,ucap saya.Masih ada segelitir orang yang punya rasa empati sedemikian besar.Saya bersyukur. Tapi "bingkisan" dari Bandung tiba-tiba menyergap pikiran saya.

Semoga tidak..!!!


makassar,24 03 09
Diberdayakan oleh Blogger.