Sorot Mata Itu


Kadangkala, saya terkesima oleh sorot mata seseorang. Demikian gelap dan membingungkan. Seperti sebuah lorong yang membentang antara "kebengisan" dan "ketidak-berdayaan", antara "kepengecutan" dan "kenekatan"', yang selalu berkelit di rimba batin.

Ada suatu waktu saya diam-diam, mencoba mencuri sorot mata itu,mencoba memberinya tanda seperti ketika saya memberi tanda pada buku yang saya baca ; "hari ini sorot mata bagaimana yang saya bakal temui?

Barangkali ini adalah semacam eksperimen kecil-kecilan dari sesorang yang tidak punya kesibukan apa-apa. Barangkali ini cuman kerjaan orang bodoh. Tapi sorot mata itu, memang kerapkali tak mampu saya mengerti lagi.

Saya teringat sewaktu masih kecil, saya selalu berlama-lama memandang sorot mata ibu saya. Dan mata yang walaupun tidak terlalu bening itu, bisa bercerita banyak. Saya menemukan "dunia" begitu terbentang damai. Rasa nyaman yang sejuk. Seperti horison lagit di senja hari.Kadangkala, di lain waktu ibu saya membelalakan matanya karena jengah dengan prilaku saya. Tapi sorot mata yang dipancarkannya tetap saja seperti matahari pagi. Pendek kata, saya dan sorot mata ibu saya terasa demikian karib.

Namun semakin dewasa, kita sudah semakin tak mampu lagi memberi "tanda" pada sorot mata orang-orang yang kita temui. Dalam sehari, pernahkah kita menyimak getaran yang dipancarkan oleh sorot mata orang-orang terkasih kita? Pernahkah kita mencoba untuk menyelam kembali kedasar mata yang bercahaya itu? Lalu apa yang kita temui di sana?

Kesusahan yang terberat kita hari ini adalah karena kita tidak acuh lagi dengan sorot mata itu. Kita cenderung menghindari sebuah "percakapan" lewat sorot mata. Kekariban kita
lebih dimaknai dengan "busa-busa" mulut yang membanjir lewat kata-kata. Lengkingan, pekikan, perintah dan bujukan senantiasa di dominasi oleh kalimat-kalimat.Tak ada lagi waktu kita untuk saling menukar "kerinduan" yang memang hanya bisa digenapkan oleh sebuah sorot mata.Kita seakan-akan mematikan signal-signal yang terpancar dari mata kita. 

Kita cenderung menghindari tatapan dengan orang-orang terdekat kita.Dengan isteri kita, anak kita,suami kita..Saya tak tahu mengapa kita menghindari itu semua. Mungkin karena saya dalam sehari itu telah banyak melakukan "kebohongan-kobohongan" dengan orang terdekat saya. Mungkin karena untuk menutupi "kebohongan" itu saya menyembunyikan sorot mata saya dari "ketelanjangan" yang ditawarkan oleh mata saya. Mungkin...Maka diam-diam, saya pun mulai berekperimen, mencoba menangkap kembali getaran-getaran dari sorot mata itu. Saya kemudian terkesima. Saya tak bisa lagi "membaca" getaran seperti yang pernah dipancarkan ibu saya itu. Yang ada adalah sebuah lorong yang panjang dan membingungkan. Sorot mata yang telah layu dan ringkih. Tak ada "pengucapan apa=apa lagi di sana. Saya tiba2 jadi sangat rindu dengan sorot mata ibu saya.

Bukan tidak mungkin," kehadiranlah" yang menyebabkan hilangnya sorot mata itu. Barangkali, kita memang tidak pernah benar-benar "hadir" di antara orang-orang terdekat kita. Kita mungkin ada di sana. Berbicara, tertawa,memaki atau membujuk. Tapi kita tidak "hadir".Pertemuan dan proses dialog kita hanya berada pada tataran permukaan. Mungkin sekadar gerakan "mekanis" kita untuk melaksanakan rutinitas sebuah keluarga. 

Semakin hari, getaran dari sorot mata itu semakin tak mampu lagi saya maknai.Saya tak mengerti letak kesalahan saya dimana. Puncaknya ketika saya menatap dalam-dalam sorot mata saya sendiri di dalam cermin. Saya benar-benar tak mengenal lagi sorot mata itu. 

Ah..Tak tahulah saya..Apakah Orang-orang telah kehilangan sesuatu dari matanya? Atau saya sendirilah yang telah kehabisan daya untuk belajar kembali melihat dengan sorot mata "anak-kecil"?(*)
Diberdayakan oleh Blogger.