Menbincangkan Kembali Inul Daratista


Tahun 2003 lalu, ada fenomena dahsyat di sekitar "berkesenian" kita. Fenomena itu di sebut; Fenomena Inul. Bahkan tak urung Raja Dangdut H.Rhoma Irama, ikut meradang. Mengapa Inul, saat itu demikian ditakuti?

Barangkali, bahwa fenomena Inul ini, dalam perspektif "moral" Raja Dangdut kita ini adalah sejenis komsumsi "setan" yang menghimbau gejolak syahwat "binatang" kita untuk memelototinya. Semua itu Tidak salah.

Tapi yang patut kita pahami adalah bahwa fenomena "goyang bor" Inul adalah sekadar "pesan","media","tanda",yang berangkat dari sebuah kebudayaan yang mengandalkan "materialisme fisik" sebagai simbol-simbolnya.

Bahwa fenomena Inul, sama "berbahaya"-nya dengan realitas berkerumunnya "pusat-pusat" perbelanjaan yang menjilat selera konsumtif kita yang dilepas oleh "jaringan kebudayaan global" seperti sekarang ini.

Bahwa fenomena Inul hanya sebuah "produk pinggiran" dari semesta peradaban kapitalistik yang dibangun oleh ideologi "kemewahan-hedonistik" kita.

Tapi memang benar-benar dahsyat seorang Inul ini. Dialah salah seorang perempuan di paruh pertama milenium ini yang sanggup "mengocar-ngacir"kan beberapa "kawasan" yang selama ini agak sulit di ajak saling "menengok" apalagi berdialog.

Dialah yang "membangunkan" kembali "perseteruan" diam-diam antara area "kesenian-serius",budaya pop media massa, seni hiburan, agama, politik, bisnis,hukum dan lain-lain. Benar-benar hebat.

Dengan seorang Inul bersama fenomena gaya "ngebor"nya, seluruh jagat budaya dengan keanekaragaman atmosfir kecenderungan dan ideologinya, kemudian diseret-seret untuk melakukan "pemihakan"

Inul yang hanya seorang gadis dari desa, sanggup "membakar" semangat caci-mencaci, pro-kontra,benar-salah,kami mereka, dan segala macamkemasan yang "gregetan' dari media massa.

Lalu kemana fenomena Inul sekarang? Jawabannya ada pada "hukum besi" Kapitalistik-global yang memang sangat temporal..yang bersifat "gelembung sabun". Sekali "meledak" lantas tak berbekas.***


Diberdayakan oleh Blogger.