percikan pikiran: Nasionalisme


Mari kita bicara sedikit tentang nasionalisme. Ketika hari-hari menjelang Proklamasi Kemerdekaan, kita kembali menyaksikan deretan panjang "merah-putih" itu di sekitar kita. Dalam setiap sudut dari negeri tercinta ini, kita seperti berada dalam lautan "merah-putih" itu. Kita seperti menangkap ada sebuah getaran yang terus menjalar dan selalu hadir di setiap bulan Agustus ini. Apakah ini hanya semacam kegairahan romantisme cengeng dari saya, atau memang suasana yang dihadirkannya mampu membuncah rasa kebangsaan saya? Entahlah. yang pasti, banyak dari kita mengalami suasana emosional seperti ini. Menyaksikan "merah-putih" berkibar, kerap mampu menjadikan kita di cekam sebuah perasaan yang aneh. Setidaknya, ada semacan rasa "peneguhan" kembali dengan sesuatu yang sekian lama kita lupakan. Apakah ini yang kita sebut rasa nasionalisme? Entahlah.

Jadi, mari kita bicara sedikit tentang nasionalime. Saya pernah mendengar sebuah kisah yang sangat sederhana, dari seorang peneliti yang bernama Benedict Anderson. Dia memulai sebuah penjelasan panjang tentang nasionalisme dengan pertanyaan yang agak aneh: Mengapa orang siap mati demi bangsanya? temuan imajinasinya sendiri? Peneliti ini memang berangkat dari sebuah acuan bahwa nasionalisme adalah tidak lebih dari "komunitas-komunitas imajiner" belaka. Nasionalisme hadir dari rangkaian panjang sejarah eropa yang melakukan transformasi bentuk-bentuk untuk menanggapi tuntutan peradaban dan semangat baru di sana. Jadi mengapa banyak dari kita demikian "rela mati" demi sebuah "komunitas imajiner" itu? Entahlah. Yang pasti disetiap menjelang Proklamasi, perasaan itu demikian kuat menjalar disetiap sudut kelokan bangsa ini.

Jadi, mari kita bicara sedikit tentang nasionalisme. Barangkali, tak ada yang lebih mengharukan ketika kita menyadari bahwa setiap jengkal yang kita pijak adalah hasil dari "mimpi besar" para Founding Father kita. Merekalah yang meletakkan dasar-dasar semangat nasionalisme itu tepat di jantung kesadaran bangsa ini. Riwayat nasionalisme kita adalah riwayat "pembebasan". Sebuah riwayat yang ingin "berdiri sejajar" dengan bangsa-bangsa lain. sebuah keinginan yang sederhana, namun ditebus dengan pengorbanan yang dahsyat. itulah yang "mengharu-biru" dalam sejarah berdirinya bangsa ini.

Jadi, memang ada baiknya kita bicara nasionalisme. Di tengah suasana yang membingungkan dari kondisi bangsa ini, nasionalisme adalah sebuah "jalan" untuk setidak-tidaknya menghubungkan kita kembali dengan riwayat pengorbanan pendahulu kita. Terlepas dari apapun yang menjadi kesimpulan Benedict Anderson dalam memaknai nasionalisme, kita ada diantara degupan rasa kebersamaan itu.

Jadi mari kita bicara sedikit tentang nasionalisme. adakah rasa itu telah rapuh di tengah kita? Entahlah. Yang pasti masih banyak di antara kita secara diam-diam senantiasa memperteguh rasa kebangsaan itu. Masih banyak diantara kita yang dengan "ikhlas" menjadikan hidupnya sebagai medan pengabdian dari rasa berbangsa itu. Yang peduli. yang mewakafkan dirinya dalam perjuangan mengembalikan martabat orang-orang terpinggirkan di sekitar mereka. Yang tanpa capek terus melakukan penyadaran dan pemberdayaan. Yang tidak kenal lelah mendengungkan kata "Indonesia Raya".

Jadi, mari kita bicara nasionalisme. Ketika kita diam-diam menyadari bahwa nasionalime itu masih bersemayam kuat di tengah rakyat kita. Ketika dengan perih kita justru mendapati bahwa para elite poltiklah yang telah kehilangan rasa itu. Ketika kekuasaanlah yang menjadikan mereka "menggadaikan" nasiomalime kita di tengah pasar asing. Mereka denga mudahnya menjual semua "kekayaan" negeri ini ke pihak asing. Menjadikan kita hanya sebagai :kuli" dinegeri sendiri. Menjadi "penonton" yang hanya mendapat sisa-sisa remah dari hasi kekayaan bumi tanah air kita. Merekalah yang barangkali telah "melacurkan" bangsa ini sehingga martabatnya sangat rendah di mata bangsa lain.

Jadi mari sedikit kita bicara tentang nasioalisme. Karena kita tahu, dengan modal sedikit itu, para Founding Father kita mampu membalikkan keadaan. Semoga kita juga bisa melakukannya. semoga.***



Makassar,2009
Diberdayakan oleh Blogger.