Politik Kambing Hitam


Cuaca perpolitikan kita kembali mengambil latar lama dalam pertunjukannya. Drama ini sebenarnya bisa kita katakan sebagai "menu santapan" yang telah basi dan usang. Ia barangkali merupakan "kitab" tua yang dibuka kembali ketika kaum politisi telah kehilangan orientasi dalam menjawab tantangan sebuah masalah. Ia muncul sebagai "kegagapan politik" ketika ruang gerak zig-zag politik menemui jalan buntu. Iapun bisa tampil lantaran "kebohongan-kebohongan" yang demikian rapi terkemas, perlahan-lahan mulai menyeruakkan bau busuk dan para aktornya belum siap membungkusnya kembali dalam kemasan citra yang baru.

Namun apapun yang menjadi latar pemunculannya. agaknya, kita memang kembali disodori panggung politik dimana para aktornya ramai-ramai mencari "kambing hitam". Politik "kambing hitam" ini, memang terasa karib dalam setiap percaturan politik praktis di republik ini. Barangkali karena inilah langkah yang dianggap paling gampang dan tak menguras terlalu banyak pikiran. Cukuplah kita memasang muka "tak berdosa", sedih dan kemudian mengarahkan telunjuk untuk menuding lawan kita sebagai "biang kerok" semua sengkarut masalah yang ada. Praktis.efektif dan efisien, karena kita hanya membutuhkan modal awal berupa kelihaian dalam mengaduk-aduk suasana kebatinan masyarakat.

Inilah yang terjadi akhir-akhir ini. Republik ini mendadak di penuhi segerombol "kambing hitam" yang demikian ribut saling menuduh mana yang paling "hitam" Saking ributnya, rakyat menjadi bingung. Bahasa "perkambing hitaman" ini bahkan terus menjalar bahkan sampai kearea dimana kita sepatutnya di gugah dalam kebersamaan untuk bersatu menghadapinya. Ledakan bom yang menyentak Jakarta baru-baru ini merupakan tragedi bersama yang seharusnya menjadikan kita bersatu. Kesedihan para korban. Coreng-morengnya kembali citra Negeri ini di dunia internasional, hendaknya menjadi keprihatinan kita bersama.


Tapi mengapa politik "kambing hitam" itu terus saja menjalar sampai kesana? Apa yang terjadi dalam ruang politik kita? Permainan "catur politik" apalagi yang hendak dipertontonkan? Banyaknya isu-isu disekitar ini menjadikan kita tak ubahnya sebuah bangsa yang telah kehilangan "akal sehat". Kekuasaan yang demikian menggiurkan itu, menjadikan para politisi kita seperti menggadaikan "jiwa-jiwa" rakyat untuk bermain memperebutkan kekuasaan. Rakyat dijadikan "kayu bakar" untuk sewaktu-waktu dibentur-benturkan untuk kepuasan mengejar kekuasaan. Ironisnya, masyarakat kerap tersulut oleh buaian yang syahdu dari para politisi kita ini.


Barangkali asumsi diatas terkesan berlebih-lebihan. Tapi mencermati kondisi perpolitikan negeri ini, menjadikan kita demikian prihatin. Karena bagaimanapun, negara-kebangsaan ini, dibangun dengan sebuah niat yang tulus. Para Founding Father ini memulai cita-cita kebangsaan ini dengan sebuah tekad yang mulia dan agung. Mereka adalah negarawan-negarawan sejati. Mereka berpolitik dalam moralitas dan kejujuran. Mereka bukan politisi Machiavelli yang menghalalkan segala cara hanya untuk "menjilat" manisnya kekuasaan. Dengan sumber daya dan dana yang ada, mereka bergerak dengan sebuah nilai-nilai luhur dan kehormatan "pejuang politik" Mereka punya martabat dan diatas segalanya, mereka punya harga diri.


Barangkali nilai-nilai seperi itulah yang hilang saat ini. Kekuasaan, uang, dan ketakutan merupakan hantu besar yang membanyangi politisi kita saat ini. Seharusnya mereka hendaknya malu pada para peletak dasar negara-kebangsaan ini. Mereka seharusnya malu pada para Founding Father kita. Kecuali bila para politisi kita telah memutuskan "urat malu" mereka. Semoga tidak.***


Makassar,2009
Diberdayakan oleh Blogger.