Sejarah dan Generasi



Arthur Koestler, pengarang berdarah Hongaria-Amerika itu pernah mengatakan, “manusia berhitung dengan waktu, sedang sejarah berhitung dengan generasi. Dan dia pun menulis dengan lintasan sejarah dan generasi itu. Di tengah desingan peluru dan seliweran maut, Koestler yang memulai karirnya dalam dunia jurnalistik dan terjun meliput Perang Saudara di Spanyol. Di kemudian tertangkap. Di penjarakan dengan ancaman hukuman mati oleh Franco atas tuduhan mata-mata. Namun akhirnya dia berhasil dibebaskan atas pembelaan kawan-kawannya. Pengalamannya di dalam perjara itu kemudian dibukukan dengan judul Dialoque with Death (1942).

Sejarah memang senantiasa berhitung dengan generasi. Pada setiap aras yang membentang dari sejarah itu, gelegak generasi senantiasa menjadi warnanya. Tidak mengherankan bila sejarah dari orang-orang besar, lahir dari kandungan generasi yang juga besar. Kita pun diam-diam mengingat sebuah generasi yang pernah demikian karib dalam ruang benak kita; generasi 45.

Saya kurang tahu bagaimana penamaan ini kemudian muncul. Barangkali ia muncul dari ruang-ruang lain ketika seorang HB. Jasin, seorang kritikus sastra mulai membuat kategori sastrawan-penulis berdasarkan kiprah kreatifitas mereka dalam sebuah peristiwa besar yang kemudian merubah tatanan masyarakat kita dengan nama angkatan 45, angkatan 66 dan lain-lain. Yang saya tahu, generasi yang memang ada dikurun masa itu selalu saja membuat kita bergetar.

Memang, ada yang senantisa kita patut kenangkan dari generasi yang hidup pada masa-masa itu. Masa di mana gairah demikian dekat dengan sebentuk romantic-idealism.  Masa di saat kita mampu merasakan getaran hidup yang paling murni. Di tengah suasana kolonialisme dan perang yang berkobar, terkadang kemanusiaan terlihat demikian cemerlang. Dan Soekarno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka, Agus Salim serta generasi yang tumbuh pada kurun itu, seperti taburan bintang pada langit zaman yang berpijar di malam hari. Menginpirasi serta  mampu menggerakkan energy kemanusiaan kita yang paling murni.

Itulah yang menjadikan setiap generasi yang besar mampu melampaui waktu dan zamannya. Sebuagenerasi yang tidak lahir dari dehidrasi-intelektualitas zaman yang menjadikan mereka ringkih dan demikian rentan dengan jiwa-jiwa kosong dan tak berorientasi.

Generasi dalam sebuah sejarah memang kerap mencerminkan realitas zamannya.Segala gegap gempita yang menapasi zaman itu, merupakan jejak sejarah yang dibangun oleh generasi di dalamnya. Inilah yang kerap banyak mencemaskan kita ketika meletakkan generasi zaman ini berhadapan dengan generasi para peletak bangunan Negara kebangsaan kita. Sebuah zaman posmodern yang demikian berderap dalam ruang-ruang yang bergejolak. Zaman yang “pertempuran”nya tidak lagi di medan palagan, namun beralih diruang-ruang intelektual yang melepaskan sekat-sekat Negara dan bangsa.

Lalu di mana kita harus meletakkan generasi kita dalam medan “pertempuran” tersebut? Tiba-tiba saya teringat sebuat kalimat yang pernah diucapkan seorang filsuf; “kita lahir di zaman besar, namun memiliki generasi yang kerdil”. Semoga kata-kata filsuf itu tidak ditujukan bagi generasi kita.***

Makassar 2012




Diberdayakan oleh Blogger.