Sumpah


Sejarah kerapkali membikin kita tercenung. Seperti ketika seorang patih dari sebuah kerajaan Majapahit, Gajah Mada, mengangkat sumpah. Apa yang mengerakkan petinggi kerajaan itu melakukan sumpah? Dan mengapa pula sejarah kemudian mengabadikannya? Jujur saja, saya tidak tahu. Namun barangkali, sedikit banyak kita bisa menangkap sebuah tekad di sana. Sebentuk “janji” yang bukan diperuntukkan bagi orang lain, tetapi lebih pada diri sendiri.

Lalu Gajah Mada pun kemudian bersumpah; Ia tak akan memakan buah Palapa sebelum Lalu Gajah Mada pun kemudian bersumpah; Ia tak akan memakan buah Palapa sebelum mampu mempersatukan bumi Nusantara ini dalam panji besar kerajaan Majapahit. Mungkin, tak ada yang terlalu ganjil pada isi sumpah ini, selain buah Palapa yang di janjikan untuk tidak dimakannya. Tapi anehnya, sejarah mencatatnya dengan demikian rapi. Dan kini, dengan bentang masa yang demikian panjang sejak sumpah itu diucapkan, kita masih saja mengingatnya.

Sejatinya, sumpah adalah semacam peneguhan diri. Sebentuk peletakan semua semesta diri dihadapan kemungkinan-kemungkinan masa depan yang bakal hadir didepan kita. Sumpah, pada titiknya yang lebih lembut adalah semacam “nubuat’ untuk diri sendiri. Ia selalu berangkat dari sebentuk cita-rasa yang sangat agung untuk memberi “kekuatan” pada sebuah komitmen dan ketulusan. Pada pintu yang lain, sumpah juga bisa membingkai suatu proses “dialog”, karena apa akhirnya, ia muncul sebagai gerak batin untuk melakukan “perikatan suci” dengan nilai-nilai yang teryakini sebagai tonggak kesejatian dan kehormatan seorang manusia.

Ketika mengangkat sumpah, kita sebenarnya dengan sadar membuka segenap ruang nilai kemanusiaan untuk “diintervensi” oleh sebuah kekuatan luar, baik yang bersifat manusiawi, maupun yang bercorak adikodrati. Dalam proses “perikatan” itulah kita mengundang “campur tangan” Tuhan untuk menjadi saksi sejati kita. Dengan kata lain, sumpah, pada tataran yang lebih ekstrim adalah sejenis “doa” yang dampaknya lebih pada keinginan kita untuk memberi keyakinan pada diri dan orang lain untuk tunduk dan percaya dengan nilai kemanusiaan kita yang luhur.

Barangkali bisa kita katakan bahwa setiap kebudayaan senantiasa menyediakan ruang untuk jenis “perikatan suci” ini. Bahkan dalam beberapa kebudayaan tertentu, sumpah bisa jadi merupakan bagian yang melekat dalam prilaku masyarakat yang memilikinya. Di sini, dalam bentuk dan pola yang bervariasi, sumpah telah menjadi “acuan” budaya untuk mengukur sampai sejauhmana interaksi masyarakat dalam kebudayaan tersebut menegakkan sebuah integritas seseorang dan meletakkannya dalam nilai-nilai kepercayaannya.

Dalam konteks seperti itulah, Patih Gajah Mada bersumpah. Melakukan sebuah “perikatan suci” dengan kekuatan di luar dirinya untuk melakukan sesuatu impian dan bergerak dalam impian tersebut. Kita tak tahu di hadapan siapa Patih ini melakukan sumpahnya. Kita juga tak tahu,bagaimana proses mengangkatan sumpah itu dilakukan. Namun yang kita tahu, sejarah kemudian menceritakan, bagaimana sumpah tersebut bergerak dan membentuk wujudnya. Di sana, kita bisa merasakan gemuruh semangat itu menyebar, menggelombang dan menghinggapi setiap jenggal tanah Nusantara. Dan yang mempesonakan di sana, kita yang hidup di zaman millennium ke tiga ini, masih juga dibuat tercenung-cenung ketika mencoba membayangkannya.

Lalu, bagaimana kita menarik tali sejarah dalam konstalasi kekinian dari gaya hidup kita pada peradaban yang kata orang telah masuk ke zaman pasca modern ini? Saya kurang tahu. Namun, sedikit banyak, kita bisa membicarakannya kembali, ketika pada akhir-akhir ini, kita banyak di suguhi “parade” sumpah dari para petinggi negeri ini. Setidak-tidaknya kita bisa mendengar deretan panjang dan bersahut-sahutannya kata sumpah di ucapkan. Tiba-tiba, republik ini seperti memasuki sebuah musim baru yang bernama musim; sumpah. Terus terang, saya kurang tahu, kepada siapa para petinggi negeri ini menghadirkan sumpahnya. Kalaupun itu dilakukan untuk menyakinkan orang banyak, apa memang di perlukan sebuah sumpah untuk itu?

Barangkali bahwa sumpah seperti itu tidaklah untuk sebuah “perikatan suci” atau semacamnya. Bahwa, di balik setiap “sumpah” yang bertebaran di atmosfir budaya akhir-akhir ini, tidak lebih hanya sekedar keraguan para petinggi negeri ini untuk bisa “meyakinkan” orang lain. Sistem nilai kita menjadi centang-perenang dalam hirup-pikuk yang tak lagi mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Kita kemudian berlomba-lomba mengangkat sumpah ketika kita merasa telah terpojok. Di sana, kita menganggap bahwa masyarakat pasti telah mempercyai kita setelah sumpah itu diucapkan.

Terus-terang, saya kurang tahu, apakah dengan mengangkat sumpah –dalam sebuah zaman dengan nilai-nilai moralitas serta integritas yang telah runtuh seperti saat ini- segalanya menjadi terang-benerang? Apakah sumpah seperti yang banyak dipertontonkan dengan berbagai macan modelnya itu, telah mampu memberikan kita batas demarkasi yang jelas antara kejujuran dan kepalsuan? Entahlah. Yang kita tahu bahwa nilai-nilai sakral yang menjadi roh dari sebuah sumpah pada zaman ini telah terdegradasi sedemikian rupa. Sumpah, dengan begitu, bisa jadi hanya sebuah upaya untuk menyembunyikan keculasan kita terhadap nilai-nilai luhur yang kita telah hancurkan.

Sejarah memang banyak memberi kita bahan renungan. Dan juga “tamparan” atas semua perilaku kita saat ini. Sumpah Gajah Mada adalah salah satunya. Dengan demikian, ketika para petinggi negeri ini begitu asyik-masyuk mengangkat sumpah, saya tiba-tiba merindukan sebuah sumpah yang punya daya gugah dan mengetarkan seperti sumpah Gajah Mada itu.***


Makassar, 2009
Diberdayakan oleh Blogger.