Wilayah Pengucapan Penyair


Barangkali, tak ada yang lebih jatuh cinta pada kata selain penyair,kata Maritain. Kata, bagi seorang penyair adalah pengucapan yang pergunakan dalam berkomunikasi dengan orang lain. Tapi ia tidak berhenti hanya sekadar alat komunikasi belaka. Kata adalah juga "pendukung imajinasi" yang ingin digambarkan penyair lewat puisinya. Inilhlah yang oleh Saini KM, digambarkan sebagai "menyampaikan sesuatu dengan cara tertentu". Karena bila tidak, kata-kata yang bermunculan tidak lebih sekader kata yang biasa kita sehari-hari. Dengan demikian, perjuangan paling berat dari seorang penyair adalah, bagaimana ia menaklukkan kelaziman kata sehari-hari itu. Ia senantiasa bergelut disana, sebagai bagian dari rangkaian panjang proses kreatifnya.

Kata-kata inilah yang menjadi wilayah pengucapan seorang penyair.Setiap penyair tumbuh berkembang dalam pertaruhan menemukan "gaya pengucapannya" masing-masing. Tidak mengherankan, bila kita menyimak puisi-puisi semacam Rendra, Sapardi Joko Damono, Subagio Sastrowardoyo, kita akan menemukan kekhasan mereka masing-masing.Wilayah pengucapan ini menjadikan setiap puisi yang dilahirkannya, seperti terangkai dalam satu benang merah kesinanbungan.

Satu pokok yang juga penting dalam membincangkan wilayah pengucapan penyair adalah bagaimana kata-kata yang dilahirkan mampu "mendukung imaji" penyair dan mengkomunikasikannya kepada pembacanya. "Mendukung Imaji" disini bisa kita terangkan sebagai kemampuan seorang penyair dalam "membahasakan" pengalaman puitiknya dalam bentuk kata-kata. Pada umumnya, penyair tahu bahwa "pengalaman puitik" sangatlah sukar untuk dituangkan kedalam kata-kata yang kaku dan rigid. Tantangan terberat seorang penyair ada disana. Dan untuk itu, diperlukan kecintaan yang besar pada kata-kata serta kemampuan besar "mendaur ulang" kata-kata lazim sehari-hari menjadi sesuatu yang bisa "mendukung imaji" dari pengalaman puitiknya.

Namun, disini kita perlu sedikit "mengencangkan ikat pinggang" pemahaman. Karena, terkadang, kita bisa terjebak pada "cara penyampaian dengan cara unik" dengan pengertian yang keliru. Banyak dari kita menganggap bahwa puisi yang baik adalah puisi yang "dibahasakan" dengan berbelit-belit dan cenderung "gelap". Kita menganggap puisi adalah sesuatu yang harus kita jejali dengan informasi dan cenderung kita sembunyikan dalam balutan "teka-teki". Bahaya obskurantisme seperti ini, banyak melahirkan "puisi-puisi gelap" dan sengaja digelap-gelapkan.Padahal, puisi merupakan citraan imaji seorang penyair yang didapatnya dari sebuah "pengalaman puitik". Sebuah pengalaman "membius" yang diperoleh lewat pergulatan kepekaan manusia yang tak henti-hentinya berusaha menangkap sisi-sisi kehidupan.

Akhirnya, membincangkan wilayah pengucapan penyair, seperti melihat tumbuh kembangnya puisi itu sendiri. Setiap puisi yang di publikasikan, dengan sendirinya tidak lagi merupakan milik penyairnya sendiri. Ia telah menjadi dirinya sendiri dengan segala kemungkinan "hidupnya" sendiri. Dengan demikian, wilayah pengucapan penyair adalah setiap kemungkinan yang bisa diraih oleh seorang penyair dengan memakai "bahasa" sebagai wilayah pergulatannya. Selalu berangkat dari "kegelisahan puitik" inilah seorang penyair "berkeringat" untuk lahirnya sebuah puisi. Sebuah wilayah yang oleh Chairil Anwar sebagai "hanya untuk para penyair..".****



Makassar, 2009
Diberdayakan oleh Blogger.