Buruh


Ada yang mengatakan bahwa buruh adalah sebuah cerita tentang pencarian keadilan demi mimpi hidup yang lebih layak. Dan di sebuah negeri yang tak peduli dengan “passion keadilan” itu, buruh kerap dicurigai dan dipandang dengan mimik wajah merengut. Memang sejarah kaum buruh merupakan sejarah yang tak henti-hentinya memperdengarkan lagu kepedihan dan penindasan. Novel-novel Dickens yang lahir sezaman dengan meledaknya revolusi industry abad 19 di daratan Eropa, dengan gamblang menceritakan suasana muram dan kelam itu. Di sana, para buruh tak bedanya serupa binatang pekerja yang telah menandatangani “kontrak hidup” hanya buat diisap tenaga bahkan jiwanya. Tak ada hidup di sana selain penderitaan yang muram dan berkepanjangan. Seakan-akan itu adalah “takdir” yang harus dijalani sepanjang hayat.

Memang buruh adalah sebuah cerita panjang tentang pencarian keadilan. Sebuah cerita yang muncul dari akar system yang mulanya bercita-cita mengangkat harkat kesejahteraan manusia di bumi. Penemuan “mesin produksi” massal yang memicu lahirnya industrialisasi dan kapitalisme, kemudian memisahkan ruang kelekatan kemanusiaan kita menjadi sebuah kategori; buruh disatu kutub, dan majikan di kutub yang lain. Namun, agaknya system ternyata hanya sebuah permainan wacana diruang-ruang intelektual semata.

Lalu sejarah bagi buruh seperti malam-malam tak berbintang. Suram dan demikian lirih. Sampai seorang cendekiawan brewok yang selalu tenggelam dalam tumpukan buku di sebuah perpustakaan “meradang” marah melihat ketidak-adilan ini. Pria brewok yang nyaris tak tersentuh pencukur  jenggot ini kemudian melahirkan demikain banyak “bom” pemikiran dan meledakkannya di tepi-tepi jalan di daratan Eropa. Karl Max, kemudian menjadi semacam “nabi” baru di kalangan buruh-buruh yang tertindas ini.

Tapi memang sejarah senantiasa menempatkan “buruh” dalam ruang romatisme sebuah perjuangan, namun selalu berada pada pihak yang lemah dan kalah. Sejarah sepertinya memang agak “kejam” pada orang-orang yang tertindas. Sejarah selalu menjadi milik para pemenang. Barangkali inilah “hukum besi” sejarah. Inilah yang juga terjadi pada kaum perempuan, minoritas dan kaum yang termarginalkan  ketika harus berhadapan dengan kekuatan besar yang mempunyai cengkraman hegemonik.

Cerita klasik perjuangan kaum buruh mencari keadilan demi kesejahreaan hidup yang layak, memang senantiasa terus berulang. Dan setiap 1 Mei, kaum buruh kembali turun ke jalan untuk meneriakkan ketidak-adilan system dalam memperlakukan mereka. Di sana, kita mungkin merasakan ada yang tersumbat dalam suara serak mereka. Suara yang jauh membentang dari abad-abad masa lalu dan kemudian terus bergaung hingga masa depan yang tak tahu ujungnya di mana. Inilah suara yang dahulu tergetar jauh ketika Nabi Muhammad SAW mengatakan; “bayarlah orang yang bekerja padamu, sebelum keringat mereka kering”.***



Diberdayakan oleh Blogger.