Dongeng Seekor Ular dalam Bahasa Kita



Sebuah riwayat yang menceritakan kejatuhan manusia awal dari gemerlap surga; Nabi Adam, senantiasa merekatkan kita pada bahasa. Korelasi ini dapat diterang-bentangkan dengan mengambil pijakan bahwa bahasa adalah sebuah “kesadaran”. Tubuh kesadaran tersebut mewujudkan bahasa sebagai “rumah” dari terbitnya ruang-ruang cahaya dalam dimensi akal pikiran manusia. Inilah yang barangkali dapat diceritakan ketika penciptaan Nabi Adam di mulai dengan mengenalkannya “kata-kata”. Yakni dengan  menjadikan sebuah “big bang” yang kemudian memberinya semacam “otonomi” bagi pilihan-pilihan yang ada.

Lalu di sanalah awal bagaimana bahasa menyimpan demikian banyak riwayat dan pilihan-pilihan dari apa yang diciptakan dalam dunia realitasnya. Kesadaran yang bermanifestasi dalam bahasa membentuk banyak “lubang hitam” di sana. Bahasa adalah sebuah konstruksi taman inda berbunga namun di dalamnya juga di huni seekor ular. Inilah ular yang kemudian membujuk Adam untuk memakan buah khuldi. Buah dari berbagai pilihan-pilihan dari terbitnya kesadaran tersebut. Dari dikenalkannya kata-kata.

Kita memang “disadarkan” sekaligus “diusir” dari rasa nyaman surgawi dari diperkenalkannya kata-kata tersebut. Namun ini bukanlah semacam “kutukan” apalagi “hukuman”. Ini adalah manifestasi sebuah akar “kesadaran” yang tersimpan dalam bahasa. Dalam konteks tinjauan yang lebih jauh,karena kesadaran itulah, kita sebenarnya telah menjadi “akil baliq” dan telah siap menjadi Khalifah di muka bumi.

Namun bagaimana pun, ada seekor ular dalam bahasa kita. Inilah yang menjadi semacam “lubang hitam” yang terus saja mengisap “kesadaran-kesadaran” yang ada di sekitarnya. Inilah yang menjadikan kehidupan di bumi bukan sebuah surga. Sejarah dan riwayat penghancuran kehidupan di bumi menceritakan semua itu. Segala macam konflik dan medan perang senantiasa di awali oleh seekor ular yang mengisap ruang-ruang kesadaran kita. Akal sehat yang tumbuh dalam bahasa menjadi rontok di isap dalam pusaran “caci maki kebencian”. Di sana, kita tak tahu lagi, apakah kita telah menjadi “Ular”, “Adam”, atau “Hawa”.

Barangkali, cetak biru kehidupan senantiasa memang menyodorkan “huru-hara” bahasa ini. Orang-orang tua bijak kita dahulu telah menyadarinya dengan mengatakan; “mulutmu adalah harimaumu, suatu saat akan menggerkah kamu”. Barangkali, riwayat “big bang” kesadaran yang muncul dari bahasa ini merupakan bagian dari cetak biru Sang Khalik dalam merancang kemanusiaan kita. Inilah yang menjadikan manusia berbeda dengan makhluk-makhluk lain. Karena pilihan-pilihan yang termanifestasi dalam kesadaran itulah yang menjadikan kita mampu bukan saja “berevolusi”, tetapi jau melampaui itu, kita mampu “bertransformasi”. 

Dalam bahasa itulah kita bisa menemui diri kita sendiri dan sekaligus “menemui” Tuhan kita. Dengan kesadaran yang menubuh dalam bahasa, kita mampu menjadi malaikat sekaligus setan. Kerena bahasa dalam karakternya yang paling asali adalah cermin di mana kita saling berhadap-hadapan dengan berbagai ruang dimensi dan waktu itu. Kerana bahasalah bisa mempertautkan kita pada seluruh riwayat kemanusiaan kita. Bahasalah yang bisa mendekatkan sekaligus bisa menjauhkan kita dengan “langit”. Dan ketika ular dalam bahasa kita yang berkuasa, maka riwayat kejatuhan-kejatuhan masih akan kita saksikan. Namun, sekali lagi ini bukan “kutukan” atau “hukuman”. Ini adalah peristiwa “akil baliq” kita agar mampu menjadi lebih dewasa dan sadar sebagai Khalifah di muka bumi.***    
Diberdayakan oleh Blogger.