Ketika Kebebasan Dianggap Monster



Dari mana datangnya tradisi kebebasan berpikir? Terus terang saya kurang tahu. Namun ketika di suatu tempat, kebebasan berpikir dalam mengemukakan ide dan pendapat menjadi sesuatu yang demikian “mewah ”, di sanalah kita merasakan sebuah dunia menjadi demikian tersekat dan menjelma kurungan “dalam tempurung”. Dalam iklim di mana atmosfer kebebasan mengemukakan ide dan pendapat yang terpasung, kita senantiasa menemukan suasana ketegangan dan kemarahan. Di sana, sepertinya kita selalu demikian waspada dan penuh dengan sikap saling mencurigai. Prasangka memang terpupuk subur dalam situasi seperti ini. 

Namun ironisnya, kebanyakan dari kita justru merasa alergi bahkan cenderung bergidik ngeri terhadap ruang-ruang kebebasan berpikir dan mengemukakan pendapat. Kebanyakan dari kita bahkan berkecenderungan untuk lari dari kemungkinan-kemungkinan kebebasan tersebut. Erich Fromm, seorang penulis besar, pernah membuat kajian mendalam tentang kecenderungan seperti ini. Dalam karya monumentalnya, “Escape From Freedom”, dia meletakkan basis analisa psikologis yang menjelaskan bagaimana manusia modern mengalami suasana psikologis yang demikian paradox. Pada satu sisi, peradaban modern membawa manusia pada tatanan berpikir mandiri dan rasional. Di sana otonomi individu demikian dihargai. “Manusia bebas merealisasikan dirinya, yakni mengungkapkan potensi intelektual, indrawi dan emosionalnya”. Namun pada sisi lain, “kendati kebebasan itu membawa kemandirian dan sikap rasional, ia membuat manusia terisolasi dank arena itu cemas dan tidak berdaya. Dalam ketidak berdayaan inilah manusia mempunyai dua pilihan; melarikan diri dari beban kebebasan ini dan masuk kepada ketergantungan dan ketundukan baru, atau maju terus kepada perwujudan kebebasan positif secara penuh”


Dalam situasi seperti inilah, kita kerap tidak mampu menahan beban kecemasan dan rasa tak berdaya tersebut. Dengan begitu, beban itu kita hilangkan dengan menerima sebuah isme dengan cara dogmatis. Dan ketika kita berada dalam lingkaran tersebut maka dengan sendirinya kita tak lagi mau terbuka dengan perbedaan yang lain. Karena bagaimana pun kebebasan senantiasa membawa potensi munculnya perbedaan. Sedang “rasa aman dalam psikologis dogmatis adalah keseragaman”. Inilah yang menjadikan kebebasan dan kemandirian dalam berpikir seakan mengancam “rasa aman psikologis” itu. Dan perbedaan pun kemudian menjadi seperti “monster” yang demikian dibenci dan ditakuti. Bahkan kebencian dan ketakutan itu menjadikan kita mampu “menghalalkan segala cara” untuk melenyapkannya.

Barangkali, sejarah hilangnya kebebasan dan berkuasanya tiranisme dogmatis yang alergi terhadap perbedaan beserta sifat kekerasan yang senantiasa menyertainya, memang telah jauh tertanam dalam ruang sejarah eksistensi manusia. Bahkan dalam riwayat para Nabi pun kita telah menemui hal tersebut. Bagaimana kita membaca riwayat Nabi Musa AS, Nabi Isa AS bahkan Nabi Muhammad SAW harus menghadapi suasana pemusuhan dan ancaman ketika menegakkan risalahNya. Dalam semua riwayat tersebut, kebebasan merupakan sebuah “monster”.

Yang diperlukan, barangkali adalah bagaimana senantiasa membuka ruang dialog serta menjadikan kekerasan sebagai musuh bersama. Hal yang positif dari tradisi kebebasan berpikir dan berpendapat adalah selalu membuka ruang dialog dan ruang perdebatan seperti itu, apa pun jenis pijakan pemikiran serta referensi  pemikiran atau isme yang mereka anut. Karena bagaimana pun kebebasan bukan milik salah satu pemikiran semata. Kebebasan adalah hak fitrah manusia yang diperlengkapi akal sehat. Bahkan manusia yang paling alergi terhadap kebebasan itu akan membutuhkan kebebasan ketika ia ingin menyuarakan ide dan pemikirannya.***
Diberdayakan oleh Blogger.