Limbah Politik Kita



Tak ada yang menampik bila negeri ini telah dewasa. Sejak diproklamirkan tahun 1945, bangsa ini telah berumur kurang lebih tujuh puluh enam tahun. Namun realitas politik bangsa ini, agaknya semakin hari semakin  terlihat semrawut dan membingungkan. Kesan ini setidaknya telah demikian jauh tertanan dalam benak mayoritas rakyat kita. Dari berbagai hasil survei yang dirilis oleh beberapa lembaga survei  sepertinya memang mempertegas bahwa tingkat kepercayaan rakyat terhadap dunia politik beserta instrumennya seperti partai politik dan politisi kita semakin terpuruk.

Semua ini memang cukup mencemaskan,  mengingat bahwa salah satu pilar yang menjadikan demokrasi tegak dan mampu berjalan dengan baik adalah adanya basis kekuatan partai politik yang dipercaya rakyat untuk memperjuangkan aspirasi dan kepentingan mereka. Bila partai politik kemudian perlahan keropos dan dilanda ketidakpercayaan, maka substansi demokrasi dengan sedirinya juga akan runtuh. Partai politik kemudian hanya menjadi etalase demokrasi semata. Partai politik pada kondisi seperti ini mungkin saja masih ada. Namun tak memiliki lagi jiwa sejatinya sebagai wadah rakyat membawa kepentingannya. Partai poltik pada situasi ini, bisa dikatakan telah berubah menjadi “zombie”.

Kondisi seperti inilah yang agaknya semakin mengejala  dalam iklim demokrasi yang digulirkan sejak reformasi 1998 lalu. Dalam keseharian, partai politik beserta para politisi semakin terlihat berjarak dengan rakyat.  Seakan segala hiruk pikuk yang bersileweran dalam jagat politik menjadi sebuah kutub tersendiri dan jauh dari realitas permasalahan rakyat sehari-hari. Semua itu menjadi diperparah karena masyarakat pun kemudian menjadi terlihat semakin tidak lagi menaruh kepedulian, bahkan cenderung menjadi sangat sinis terdapat aroma yang berasal dari ruang politik.

Lalu pertanyaan yang mungkin muncul adalah apa yang salah dari  arah politik kebangsaan kita? Bagaimana cara kita untuk memulai kembali menumbuhkan kepercayaan masyarakat terhadap politik beserta segala penik instrumennya? Mengingat bahwa bila kita sepakat ingin membangun sebuah negara kebangsaan modern dengan sistem demokrasi, maka pilar utamanya adalah partai politik dan politisi sebagai penggerak utamanya.

Dalam sejarah perkembangan politik negara kebangsaan Indonesia, ada satu hal yang tidak bisa dilepaskan, apalagi dihilangkan yakni bagaimana para founding fathers  kita meletakkan nilai-nilai perjuangan serta idealismenya dalam setiap sepak terjang politiknya. Bangunan dari tradisi perjuangan politik mereka memang senantiasa bersumber dari “mata air” hati nurani dan nilai-nilai pengabdian dalam arti yang sebenarnya. Barangkali inilah yang menjadikan medan perjuangan politik para bapak bangsa kita itu, memiliki jejak romantisme yang sangat kuat. Keteladanan dalam kesederhanaan, kejujuran serta  pengabdian yang dipadu dengan kecerdasan dan sikap tanpa pamrih merupakan bagian karakter yang mewarnai prilaku politik mereka. Nilai-nilai dan prilaku inilah yang saat ini terasa semakin menjauh dari kebanyakan politisi kita saat ini
.
Politik Transaksional

Menyeruaknya beragam sinisme serta ketidakpercayaan masyarakat terhadap partai politik serta para politisi justru disaat negara kita memperoleh pengakuan dunia internasioanal sebagai salah satu negara demokrasi justru dengan sadar dihancurkan sendiri oleh para politisi yang sejatinya merupakan garda

Perilaku politisi kita saat ini memang telah jauh bergeser dari semangat awal perjuangan para pendiri bangsa ketika memulai kiprah politik perjuangannya. Kini, pragmatisme serta model transaksional terasa sangat mendominasi ruang dinamika politik kita. Model-model pencapaian kekuasaan dengan mengandalkan money politic, jual beli suara dan kesepakatan yang bercorak “dagang sapi” telah jauh menyentuh ruang politik kita. Tidak mengherankan bila dikatakan bahwa demokrasi yang sedang kita lakoni dalam system benegara ini adalah “demokrasi berbiaya tinggi”.

Dengan demikian, tidak mengherankan bila semua lini politik kekuasaan menjadi demikian serakah dan senantiasa semakin mempersubur iklim politik yang berjiwa korup. Politik transaksional memang senantiasa mengandaikan corak perilaku  yang menjadikan kepentingan sesaat serta menguntungkan kelompok atau pribadi sebagai basis kecenderungan tindakannya. Dalam politik dengan model begini, seluruh persentuhan politik public menjadi sebuah komoditas yang bisa diperdagangkan. Ideologi yang dulu menjadi basis perjuangan dari setiap partai politik dan politisi dalam bergerak, saat ini menjadi sesuatu yang usang dan asing dalam diri para politisi. Bahkan dalam kadar tertentu, pada system politik yang bercorak transaksional seperti ini, “ideology” pun bisa dikomuditaskan.

Gambaran realitas politik inilah yang semakin menjerembabkan rasa sinis dan pesimisme masyarakat sampai pada tingkat yang paling dasar. Bisa dikatakan, hampir semua produk kebijakan politik yang keluar dari para politisi kita tidak lagi mendapat kepercayaan. Dengan runtuhnya kepercayaan seperti ini, maka kekhawatiran akan munculnya ruang apatisme masyarakat akan terbuka lebar. Bila ini terjadi, kerugian bukan terletak pada para politisi itu sendiri, namun justru masyarakatlah yang akan tertimpa dampaknya sendiri. Karena bagaimana pun, para politisi akan semakin tak terawasi lagi dan hilangnya  control public terhadap prilaku para politisi ini semakin membuat  mereka bebas berbuat apa saja menurut kepentingan diri dan kelompoknya.

Politik Bermuka Banyak

Ada yang harus disadari bahwa politik memang senantiasa menggambarkan banyak wajah. Ini dapat dimengerti karena jantung politik adalah bagaimana memperoleh kekuasaan. Sejatinya, dengan kekuasaan itulah, para politisi bisa memproduksi berbagai kebijakan serta mendorong berbagai program dengan tujuan kesejahteraan segenap rakyat. Namun,padah wajahnya lain, politik juga bisa menampilkan wajahnya yang lain. Ini karena kekuasaan memang demikian menggiurkan. Dan kekuasaan yang demikian kuat dan besar berkecenderungan untuk korup.

Dengan demikian, politik memang senantiasa berada dalam suasana yang terjal dan licin buat dilalui. Setiap prilaku yang mengorientasikan pada kekuasaan juga senantiasa memiliki produk samping berupa limbah politik. Dalam kondisi yang sehat, limbah politik  yang berupa korupsi, penyalagunaan kekuasaan dan politik transaksional masih mampu dieliminasi dengan bekerjanya system hukum, kekuatan moral dan etik social. Namun dalam kondisi politik yang mengalami pengeroposan moral serta  berjalan dalam system hukum yang rapuh, maka “virus” politik dengan segala limbah kotornya akan semakin menyebar sampai pada sendi-sendi negara kebangsaan kita. Dan penyebaran limbah kotor politik inilah yang harus kita lawan dengan senantiasa membuka ruang pencerdasan politik pada masyarakat. Memberi kepercayaan pada para politisi untuk mengurus ruang-ruang kebijakan public  hendaknya dimbangin dengan kecerdasan masyarakat untuk mampu memilih partai politik dan para politisi yang memang benar-benar memperjuangkan kepentingan mereka. Karena  kesalahan yang senantiasa berulang-ulang ketika mempercayakan kepentingan politik kita kepada mereka kemudian dikhianati, akan semakin membuktikan bahwa sebenarnya kitalah yang memproduk dan memelihara para politisi semacam itu. Dan ini, bisa jadi akan mempertegas bahwa kita memang layak diperlakukan seperti itu. Dibohongi dan terus dibohongi***

*Artikel ini pernah dimuat di Harian Fajar Makassar 
Diberdayakan oleh Blogger.