Negeri Bertabur Luka



Setiap bangsa memiliki luka dalam sejarahnya. Dan bangsa yang kerdil adalah bangsa yang tidak becus mengelola rasa luka itu. Memang, sejarah suatu bangsa  terkadang dilumuri oleh genangan luka yang terus saja menjadi trauma kolektif rakyatnya. Pada suatu saat luka itu berdarah dan menganga kembali. Trauma yang demikian rapi dilipat dan disembunyikan dipojok gelap bawah sadar, tiba-tiba menyeruak kembali dalam wujud yang paling tak terduga; Amuk dan Kalap.

Di negeri ini, sejarah memang kerap seperti sebuah perjalanan di malam hari tanpa suluh penerang di jalan. Gelap sehingga kita hanya bisa meraba-raba. Banyak dari sejarah bangsa ini memang menguap atau menjadi gumaman  tak jelas.Dalam “lubang hitam” sejarah itulah kita hanya bisa merasakan sebuah luka yang terus menganga. Dan dalam luka itulah kita tumbuh sebagai sebuah bangsa. Ada yang berhasil berdamai dengan luka tersebut, namun kebanyakan kita tetap saja membawanya ke mana-mana.

Tapi bangsa yang besar adalah bangsa yang melihat luka yang di kandung dalam sejarahnya dengan jiwa yang tegak.  Perang saudara di Amerika jelas meninggalkan lubang luka yang besar. Begitu pula dengan perang saudara di Spanyol, Afrika Selatan, Somalia dan di negeri-negeri lain. Namun yang membedakan di antara negeri-negeri itu adalah bagaimana jiwa bangsa yang menyelimuti rakyatnya,  mampu melakukan tranformasi psikologis kolektif untuk keluar dari lubang luka tanpa meninggalkan semacam deman dendam kesumat tak berujung.

Kebesaran jiwa sebuah bangsa memang ditentukan dengan seberapa transformasi psikologis kolektif rakyatnya mampu berdamai dengan luka-luka sejarahnya itu. Namun transformasi itu, bagaimana pun tak akan bergerak tanpa seorang pemimpin yang juga berjiwa besar. Seorang pemimpin yang mampu menempatkan dirinya jauh di atas bara konflik yang menghaguskan serta menimbulkan luka panjang itu. Seorang pemimpin yang mampu menjadi suluh penerang dalam kegelapan “lubang hitam” sejarah yang berbau amis darah itu. Pemimpin besar yang hadir dalam pergulatan besar sebuah bangsa. Nelson Mandela di Afrika Selatan, Thomas Jefferson di Amerika adalah contohnya. 

Di negeri ini, kita pun punya sosok pemimpin itu pada Soekarno dan para pendiri bangsa kita  dipermulaan terbentuknya Negeri ini. Namun jejak kebesaran jiwa yang ditinggalkan para pendiri bangsa kita semakin lama semakin tergerus. Ironisnya, setelah itu justru konflik dan luka yang berlubang itu kemudian “dipelihara” untuk melanggengkan kekuasaan. Sudah menjadi pengetahuan jamak kalau kebanyakan konflik yang bermunculan di negeri ini lebih karena sebuah “rekayasa” untuk kepentingan politik meraih kekuasaan semata. Inilah yang menjadikan bangsa kita tak habis-habisnya dirundung “api dalam sekam” konflik  yang sewaktu-waktu dapat meledak hanya oleh percikan kecil api yang disulut.

Namun bagaimana pun, sebuah bangsa adalah sebuah organisme yang juga memiliki “akal sehat” dan kemampuan untuk selalu belajar dari kesalahan. Dan Bagaimana pun bangsa ini akan terus belajar di sana. Rakyat semakin lama semakin bisa belajar untuk mampu berdiri dalam “pikiran dan akal sehat”nya sendiri. Kedewasaan sebuah bangsa lambat atau cepat akan menemui pintu gerbang yang mampu menjadikan rakyat tidak gampang lagi dijadikan “kayu bakar” untuk kepentingan politik kekuasaan semata. Suatu saat, rakyat kita akan mampu berdiri tegak dan mengatakan tidak pada semua pembohohan dan pelecehan kemanusian seperti itu. Di suatu saat, rakyat mampu dengan akal sehat memilih pemimpin yang berjiwa besar dan bervisi besar, sehingga bersama-sama bergerak menjadi sebuah bangsa yang besar.***    
Diberdayakan oleh Blogger.