Penyair, Pembaca dan Puisi


Barangkali, dalam tradisi penulisan puisi, kita sudah demikian karib dengan apa yang dimaksud sebagai “proses kreatif”. Biasanya, istilah ini kita sangkutkan dengan bagaimana proses seorang penyair dalam melahirkan karya-karyanya. Beragam tulisan dan literature telah dipublikasikan berkaitan dengan proses tersebut. Dalam perspektif perkembangan kesusastraan, agaknya tradisi penulisan “proses kreatif” seorang penyair dalam melahirkan karyanya, memang sangat membantu memberi “darah segar” dalam memandang sebuah karya puisi. Ini juga bisa dijadikan semacam “jembatan interpretasi”  yang menyambungkan antara wilayah puisi sebagai karya sesorang penyair dan pembacanya secara langsung.

Jauh sebelum para penyair terlibat langsung dalam tradisi menuliskan kembali “proses kreatif”nya dimulai, kebanyakan penafsiran serta ulasan sebuah karya puisi menjadi “hak prerogatif” para kritikus. Pada saat itu, “kekuasaan” seorang kritikus demikian mutlak dalam menilai serta menafsirkan. Ketergantungan seorang penyair terhadap para kritikus demikian besar di sana. Di tangan seorang kritikuslah ditentukan “sukses atau tidak”nya seorang penyair dalam perjalanan kepenyairannya.

Dalam konstalasi inilah, kita melihat bagaimana nama besar seorang kritikus bisa lebih besar dan menentukan di banding penyair sendiri. Sejarah perkembangan kesusastraan kita tidak bisa mengelak dari kecenderungan ini. H.B Jassin adalah sebuah contoh bagaimana seorang kritikus mampu demikian menjulang dan menentukan “hitam-putih”nya perjalanan kesusastraan kita. Tidak tanggung-tanggung, pada zamannya, H.B Jassin bahkan didaulat sebagai “Paus Sastra Indonesia”.

Pada kerkembangan selanjutnya, gerakan-gerakan pemikiran tentang kesusastraan, semakin lama semakin jauh merambah sampai ke kaki-langit hakekat sebuah karya sastra. Munculnya pemikiran-pemikiran strukturalis dan pasca strukturalis dalam dunia linguistik, menjadikan seluruh paradigma kita tentang sebuah karya sastra, khususnya puisi, seperti mengalami pembongkaran besar-besaran.

Dalam tafsiran baru filsafat tersebut, tiba-tiba kita diperhadapkan pada sebuah pemahaman bahwa sebuah “teks” yang membangun rangkaian sebuah karya puisi, merupakan wilayah yang sangat “otonom”. Dengan demikian, dalam kadar tertentu bisa dikatakan bahwa sebuah puisi menjadi “terlepas” dengan penyair yang selama ini dipercaya paling mampu menjelaskan makna yang terkandung dalam sebuah teks puisi. Bahkan dalam bahasa yang paling radikal, beberapa pemikir mengambil semacam kesimpulan bahwa pemahaman ini memproklamirkan “kematian para penyair”.

Sebuah puisi dalam hal ini mendadak menjadi “yatim piatu”. Ada pun yang menjadikannya masih mempunyai  “eksistensi” adalah karena sebuah puisi memiliki “akar” dalam otonominya sendiri. “Pertemuannya” dengan penyair bisa dikatakan hanyalah sebuah “perlintasan” yang hanya berfungsi sebagai  “pembuka pintu”. Dalam bahasa Paul Ricoeur, dalam bukunya “Teori Interpretasi”, “penulis hanya bertindak sebagai penemu”.

Kesimpulan Ini memang berangkat dari pemahaman bahwa  “puisi” telah ada dan senantiasa “meminta” untuk diungkapkan. Seorang penyairlah yang kemudian menjadi “medium” dari pengungkapan yang muncul dari tercerahkannya penyair tersebut.

Karena penyair hanyalah “medium”, maka dengan sendirinya karya puisi tetaplah memiliki sifat otonomi yang tak terbantahkan. Di sini, puisi adalah sebuah “dunia realitas” yang  senantiasa bergerak menghadirkan dirinya sendiri. Sebuah karya puisi akan terus bergerak jauh melampaui dimensi ruang dan waktu yang menjadi keterbatasan seorang penyair. Puisi senantiasa “hadir” untuk kemudian ditemukan kembali. Dari masa ke masa. Dari zaman ke zaman.

Lalu di mana kedudukan para pembaca puisi? Dalam konteks pemikiran inilah, maka para pembaca puisi merayakan “kebebasan” mereka dalam ruang yang sangat terbentang luas. Setelah dilepas dari otonomi kekuasaan penyair dan kritikusnya, “puisi” pun menjadi “dunia realitas” yang bisa ditemukan oleh siapa saja, termasuk para pembaca puisi itu sendiri. Pertemuan sebuah karya puisi dengan pembacanya merupakan “penemuan” itu sendiri, sama ketika seorang penyair “menemukan” sebuah puisi dalam perjalanan “proses kreatif”nya. Inilah yang menempatkan seorang pembaca, dalam kadar tertentu, adalah juga seorang “penyair”. Seorang pembaca, ketika berhadapan dengan sebuah karya puisi juga mengalami “proses kreatif” tersebut. Bahkan, menurut Paul Ricoeur, bisa saja terjadi bahwa pembaca kemudian jauh lebih mampu “memaknai dan menginterpretasikan” sebuah puisi dibanding dengan penyairnya sendiri.***

Diberdayakan oleh Blogger.