Republik Tanda Pentung



Bagaimana menjelaskan ketika sekelompok kerumunan orang demikian gampang meledakkan kemarahannya di jalan-jalan. Merusak benda-benda public. Membakar kendaraan bahkan merenggut dengan paksa hak hidup orang lain. Bagaimana menjelaskan ketika segerombolan orang, memekik atas nama kesucian agama, mengibarkan kebencian yang demikian kesumat dan menakutkan bagi kelompok lain. Bagaimana menjelaskan ketika rasa aman pada setiap warga Negara yang menjadi basis terbentuknya sebuah Negara perlahan tergerus oleh “horror” massa yang kalap dalam setiap menyampaikan kepentingannya kepada pihak lain.

Setiap beradaban, barangkali memang senantiasa menghadirkan cerita “horror”nya sendiri. Dunia bukanlah tempat yang melulu dipenuhi “cinta dan bunga”. Sejarah peradaban manusia, bila kita ingin jujur mengisahkannya, lebih disesaki oleh keperihan dan cabikan luka. Dalam setiap peradaban yang menjulang, akan kita temui “genangan darah dan air mata” dari orang-orang yang tersingkir. Baik itu oleh kekuasaan yang menindas, atau kekejaman sekelompok orang yang menganggap “kebenaran” adalah milik mereka semata.

Barangkali, inilah sebentuk kegagalan paling menyakitkan dari tawaran modernitas yang pernah digaungkan sebagai “surga dunia”. Tempat di mana manusia mampu meletakkan kemanusiaannya dalam arti yang sejati. Tempat di mana kebiadaban dan kekejaman tidak lagi tumbuh dalam diri manusia. Sebuah tempat yang hanya berisi “cinta dan bunga”.

Lalu, bagaimana kita menjelaskan “horror” semacam itu? Kengerian seperti ini memang benar-benar hadir dikeseharian kita. Ia bukan lagi semacam sensasi pengalaman yang kita baca pada sebuah novel, atau kita tonton di layar televisi yang peristiwanya jauh di sana. Pengalaman ketakutan teror massa seperti ini benar-benar ada di depan pintu rumah kita. Berteriak. Memaki dalam acungan golok yang memaksa kita menuruti kehendak mereka. Mencocor hidung kita agar sependapat dengan kebenaran yang mereka kibarkan.

Dengan begitu, republic ini kemudian menjadi sebuah republic “tanda pentung”. Orang-orang terlihat garang dan menakutkan. Nyawa dan rasa kemanusiaan menjadi demikian murah dan tak punya harga lagi. Di republic dengan “tanda pentung” ini, kebenaran berbanding lurus dengan kemampuan sekelompok orang mengancam dan menakut-nakuti pihak lain. Inilah republic yang telah kehilangan jiwa ibu yang melahirkannya.Jiwa yang berangkat dari kesadaran untuk hidup dan sejahtera bersama. Sebuah republic yang bila dibiarkan perlahan akan musnah dan hanya ada dalam kisah-kisah sejarah. Di mana anak-anak kita kelak akan membacanya dengan bergidik ngeri. ***
Diberdayakan oleh Blogger.