Sisa Racun di Cawan Sokrates



Sekitar pertengahan tahun 1997. Saya beserta beberapa kawan menyelenggarakan sebuah seminar kecil dengan tema “kebebasan dan penegakan hukum”. Tak ada yang aneh dan “membangkang” dari acara tukar pikir tersebut, kecuali disaat itu kita memang sedang berada dalam sebuah orde kekuasaan yang demikian “curiga” terhadap apa pun yang  bernama “ide dan pemikiran”. Pada tahun-tahun itu, kekuasaan yang berjuluk Orde Baru itu, memang tengah mengalami pengeroposan kekuasaan justru disebabkan oleh ketakutan-ketakutannya sendiri. Segala sesuatu yang dianggap di luar koridor “tertib dan stabilitas” menjadi bahan “kecurigaan oleh penguasa. Barangkali, penggambaran ini agak berlebihan. Namun, suasana kreatifitas dan intelektual yang terbangun kala itu, sedikit banyak memang demikian muram. 

Maka sejak pagi hari sebelum acara tersebut di mulai, saya dan kawan-kawan telah merasakan adanya atmosfer ketegangan yang menguap. Beberapa orang yang dari penampilannya kita sudah mengenalinya sebagai aparat intel, berseliweran hilir mudik. Wajah mereka yang khas dan tak bersahabat menjadikan situasi menjadi semakin tak nyaman. Dan semua kekhawatiran saya dan kawan-kawan, akhirnya menemui jawaban. Baru saja acara tersebut dibuka, dan pembicara baru memulai, keuasaan pun atas nama hukum dan undang-undang langsung menghentikannya. Kami berusaha mendebat. Memberikan penjelasan semampu kami. Mencoba membuka ruang dialog untuk sekadar mengkonfirmasi tegaknya sebuah akal sehat. Namun, agaknya kecurigaan dan ketakutan pada bayangan sendiri dari kekuasaan saat itu telah menjadi “harga mati”. Acara kami tetap dihentikan. Dibubarkan atas nama “hukum dan undang-undang”.

Agaknya, sejarah ketakutan dan kecurigaan akan sebuah ide dan pemikiran, merupakan sejarah buram yang jauh membentang ke abad-abad masa lalu. Hilangnya “akal sehat” dan berkuasanya intoleransi menjadikan sejarah senantiasa disesaki oleh peristiwa maupun orang-orang yang demikian gampang memberangus sebuah ide, entah dengan atas nama kekuasaan, agama, ideology, etnis atau apa pun.

Di Eropa pada abad pertengahan. Horor seperti itu demikian mencekam. Orang bisa saja mendadak menemui tiang pancung hanya karena gereja menvonisnya sebagai penganut pemikiran bid’ah. Telunjuk kekuasaan yang diwakili oleh kerajaan dan gereja demikian menakutkan saat itu. Inilah peradaban di mana manusia hanya diwajibkan untuk patuh dan terlarang mempergunakan akal sehatnya. Sebuah zaman yang banyak meninggalkan getar memilukan.

Begitu pula yang terjadi di peradaban Timur Tengah. Di mana atas nama kekuasaan yang berbalut agama, orang-orang yang menyampaikan pemikiran kritisnya bisa saja menemui mautnya di tiang gantungan. Sejarah tentang itu memang senantiasa dilumuri oleh jeritan perih yang jauh terbenam dalam gegap gempita kekuasaan dan klaim mereka tentang kebenaran. Dalam tradisi seperti ini, kita hanya bisa menyaksikan bahwa kekuasaan sama dan sebangun dengan kebenaran. Ada pun yang berada di luar hal tersebut adalah “sesat”.

Memang sejarah demikian rajin mencatat “kesesatan” yang berarti “musuh” tersebut. Orang-orang menyebutnya; bid’ah, kafir, tukang santet, komunis, ateis, sekuler, liberal, teroris, fundamentalis dan lain-lain. Di sana orang-orang dikategorikan dan dimasukkan dalam kotak isme dengan perasaan marah. Dan ketika kekuasaan ada di tangan salah satu kelompok, maka alamat kelompok lain yang dianggap “musuh” akan memperoleh hukuman atas “kesesatannya”. Sejarah memang demikian rajin mencatat kepiluan-kepiluan semacam itu. Inilah sisa racun dari cawan Sokrates, ketika karena pikiran dan ide-idenya yang dianggap bid’ah , filsuf Yunani ini dihukum mereguk racun dari cawan di dalam sel tempatnya di penjara. Peristiwa itulah yang menjadi tonggak awal di mana pemikiran dan ide bisa demikian menakutkan bagi kekuasaan atau sekelompok orang yang menganggap dirinya berkuasa atas “kebenaran”. 

Namun zaman terus bergerak. Pemikiran dan ide tetap tumbuh dan juga mati. Di berangus bagaimana pun, ide itu seperti sebuah virus yang terus saja membelah. Barangkali, kekuasaan bisa saja membunuh seseorang, tapi tak akan mampu menghentikan pemikiran yang telah membelah dirinya di hati orang lain. Karena bagaimana pun, ide dan pemikiran adalah fitrah manusia yang paling mendasar. Pemikiran dan ide adalah eksistensi kemanusiaan itu sendiri. Dan ketika fitrah itu coba diberangus, maka ia akan semakin tegak dan akan makin nampak cemerlang.***      
Diberdayakan oleh Blogger.