Tubuh, Ideologi dan Peradaban



Peradaban adalah bagaimana kita meletakkan “tubuh” dalam dialektika relasi-relasi yang saling merekatkan dan mempertautkan kita dengan “yang lain”, entah itu metafisika, cultural, social atau apa pun. “Tubuh” dalam dimensi ruang dan waktu, merupakan “pintu masuk” untuk dialog-dialog dengan kesejarahan keberadaan kita sebagai manusia. Tubuh adalah “catatan-catatan” tentang bagaimana kehidupan menyelenggarakan keberadaan dan keadabannya. 

Dengan demikian, tidak mengherankan bila setiap zaman menjadikan tubuh sebagai”penanda-penanda” signifikan bagi kelangsungan eksistensi sebuah zaman dan peradaban. Ini erat berkaitan dengan bagaimana kita menjadikan “tubuh” sebagai “pintu masuk” untuk  membaca bagaimana dalam setiap zaman dan peradaban, tubuh senantiasa dijadikan “letupan bahasa” untuk diperlakukan sebagai basis “penanda” zaman atau kebudayaan tersebut.

Di sinilah “tubuh” menjadi sebuah ideology yang terus-menerus muncul dalam berbagai macam perlakuan dan cara memandangnya. Di sana, orang-orang tiba-tiba “menemukan” keterpukauan dari kebertubuhan kita. Sama seperti ketika sekelompok pelaut yang dipimpin Christofer Colombus” mendarat dan menemukan suatu pulau yang dinamakan “Walting Island” digugusan kepulauan Bahama tahun 1492. Selama kurun waktu sebelumnya, di mana “tubuh” belum “ditemukan”, kita merupakan satu kesatuan wujud dengan alam. Kesadaran akan keterpisahan sama sekali tak bergaung di sana. Kita adalah alam itu sendiri. Menjadi kesemestaan itu sendiri. Di sini, tak ada yang disebut lingkungan alam sekitar, karena denyutnya mengalir dalam diri kita sendiri.

Namun zaman terus bergerak. Tiba-tiba “tubuh” di sorot dengan cahaya lampu “kesadaran”. “Tubuh” kemudian “ditemukan” dan peradaban pun di mulai. Di sepanjang sungai Nil, di mana peradaban awal  mulai menjejakkan dirinya, “tubuh” kemudian perlahan dilekatkan pada sebuah ideology. Dengan demikian, inilah awal di mana “tubuh” kemudian diperlakukan sebagai “penanda” yang selanjutnya ditaklukkan untuk sesuatu yang kekuatan yang lebih besar. Upacara-upacara sakral yang menandai munculnya peradaban di sana kemudian menjadikan “tubuh” sebagai media ritus pengorbanan. Kekuatan alam yang tak dapat dikendalikan oleh manusia, harus dibujuk dan didamaikan dengan menjadikan “tubuh” sebagai media persembahan. “Tubuh pun” memperoleh ruang-ruang sakralnya di sana.

Di zaman setelahnya, “tubuh” kemudian jatuh ke dalam “penanda” yang baru. Zaman viktoria merupakan zaman yang demikian lugas memperlihatkan bagaimana “tubuh” kemudian jatuh ke dalam ruang demikian dicurigai. Pada zaman ini, “tubuh” adalah perpanjang-tanganan “setan”. Dengan begitu harus ditaklukkan dan didisiplinkan sedemikian rupa. Di sana, “tubuh” adalah penanda yang sangat dekat  dengan “dosa”. “tubuh” adalah “ular” yang terus membisiki kita akan sebuah dosa dari akar masa lalu. Inilah zaman di mana “tubuh” disembunyikan sedemikian rapi dalam “ruang-ruang” ancaman dan ketakutan.

Lahirnya zaman modern, merupakan pembalikan dari perlakuan terhadap kebertubuhan kita. Gagasan pembebasan “tubuh” merupakan ideology yang datang mengiringinya. “tubuh” pun hadir di ruang-ruang public. Bergerak menjadi otonom di sana. Namun sebenarnya, pembebasan tersebut hanya merupakan ilusi semata. Karena justru pada zaman inilah “tubuh” menjadi medan perebutan kekuatan-kekuatan di luar dirinya. Dalam ilusi kemerdekaan “tubuh” ini, kita justru terperangkap dalam penjara yang lebih dahsyat. Kita sama sekali telah kehilangan “tubuh” di sana. “Tubuh” hanya penanda dari berkuasanya penanda-penanda ideology lain yang biasa kita sebut konsumerisme. Di sini, “tubuh” tak bedanya dengan billboard iklan yang terpajang di tepi-tepi jalan. Kita hanya lampu neon yang berkedap-kedip tanpa tahu lagi bagaimana sebuah kekuatan yang demikian besar itu terus saja memperlakukan “tubuh” sebagai “ladang garapannya”. Pada zaman ini, penaklukan terhadap “tubuh” telah demikian sempurna.***    
Diberdayakan oleh Blogger.