Turbulensi Zaman, Lady Gaga dan Kita


Ada apa dengan Lady Gaga? Seorang penyanyi dari belahan benua lain,  dengan penampilan yang cenderung “norak” itu demikian mengguncang jagat batin kita sebagai sebuah bangsa? Rencana kedatangannya yang diperkirakan hanya kurang lebih 2 jam manggung itu demikian membuat kita “histeria” dan panik. Pro dan kontra tiba-tiba membelah kita dalam dua kutub antara menolak dan menerima. Di sana, kita pun saling “tarik urat leher”, mencaci dan mengancam. Menjadikan hari-hari kita sebagai ruang hujatan dan mengibarkan “bendera perang” kesegenap penjuru negeri.

Ada apa dengan Lady Gaga? Seorang penyanyi yang berjingkrak-jingkrak di atas panggung seolah cacing kepanasan itu demikian menyulut kita dalam “api pertengkaran”? Sekelompok orang demikian membenci dia. Menjadikannya icon pornografi serta perwujudan langsung dari Dajjal yang akan menghancurkan moralitas bangsa kita. Penyanyi yang konon kabarnya sangat membosankan dalam kesehariannya ini, dianggap sebagai pemuja setan. Dan disetiap aksi panggungnya, secara tak langsung ia menjadikannya sebuah ritus pemujaan terhadap setan.

Terus terang, saya tak mengetahui sejauh mana penyanyi yang berjuluk “lady Monster” ini memang telah menjadi “pemuja setan”. Namun perdebatan, caci maki serta berbagai ancaman timbul sebagai akibatnya, demikian memperjelas pada kita bahwa pada taraf tertentu kita sebenarnya  meletakkan Lady Gaga dalam bingkai “ketakutan dan kecemasan” itu kepada diri kita sendiri

Penolakan kita terhadapnya hanya memperjelas sejenis “ketakutan” serta sifat “inferioritas” kita terhadap sesuatu yang kita anggap berada di luar frame cara menerjemahkan eksistensi dan penghayatan ruang-ruang batin religiusitas kita. Sejarah keterpinggiran serta macetnya transformasi batin kita karena demikian lama terperangkap dalam “arus penjajahan”, baik oleh asing mau pun oleh sesama bangsa sendiri, menjadikan batin dan budaya kita cenderung “inferior”. Jiwa kita yang demikian lama dipasung hanya bertindak sebagai “penonton” dalam gemerlap pesta peradaban yang konsumsitif ini, kemudian hanya disiapkan untuk memandang dunia di luar penghayatan kita sebagai hal yang menakutkan. Dan karenanya harus dimusuhi.

Pada jiwa seperti inilah, kita kerap menemukan diri yang nyaris bersifat paradoks. Pada satu sisi kita demikian “tak percaya diri” dan takluk membungkuk. Pada sisi yang lain kita juga bisa demikian bersifat “megalomania”, sehingga menganggap bahwa kitalah pemegang sah atas sebuah “kebenaran”. Dengan begitu, kepribadian kita menjadi “retak” dan hanya mampu dibangkitkan hanya oleh “fanatisme” ditu sisi dan “kebencian” di sisi lain.

Lalu mengapa dengan Lady Gaga? Penyanyi yang konon hanya meramu penyanyi-penyanyi dari generasi sebelumnya semisal Freddy Merkury, Madonna dan Janet Jackson itu demikian membumbungkan “energy jihad” kita? Terus terang saya tidak tahu. Yang pasti, penyanyi ini merupakan sebuah produk dari sebuah zaman dan sistem yang mau-tak mau kita terisap pula dalam “lubang tanpa dasar”nya itu. Lady Gaga, dalam perspektif lain, sejatinya juga hanyalah “korban” dari turbulensi zaman ini. Sebuah zaman yang dalam istilah Ki Ronggo Warsito adalah Zaman Edan. Inilah zaman yang menjadikan kita nyaris kehilangan orientasi. “Meledaknya” tehnologi informasi yang menyerbu kita sampai ke ruang tidur sekalipun serta zaman yang demikian terbalik-balik jumpalitan tak tentu arah, menjadikan kita tergagap-gagap. Oleh karenanya kita butuh pegangan baik itu sebagai “kawan” atau “musuh” untuk kita hanyati bersama. Di sana, kita merindukan kembali ke “akar” yang membuat kita merasa ada dan tenang.

Pada zaman seperti inilah Lady Gaga terperangkap dan menjadi “korban”. Inilah kebudayaan pop yang memang telah kehilangan nilai-nilai subtansialnya kecuali hanya bisa bermain-main dalam citra dan pemujaan-pemujaan permukaan semata. Seperti gelembung sabun yang melayamg di udara dan kemudian pecah tak berbekas. Pada zaman inilah kita menyaksikan bagaimana akhir hidup dari superstar pop Michael Jackson atau Wihtney Hudston. Sebuah tragedi dari pencarian “akar diri” yang demikian perih dan memilukan.  Dan untuk itu,  kita selayaknya menaruh rasa kasihan pada Sang “Lady Monster” ini.***
Diberdayakan oleh Blogger.