Ajaibnya Timur Tengah


Di sebuah belahan dunia dengan nama Timur Tengah, orang-orang seperti memandang sejarah yang  bangkit kembali. Sebuah pertaruhan kemanusiaan yang terlalu “genit” untuk senantiasa di bicarakan di pojok-pojok warung kopi.  Tapi itulah Timur Tengah dengan segala kegagapannya dalam memadang “identitas” diri sepenuhnya. Inilah peragaan paling riuh di mana sejarah berkali-kali dibunuh dan kemudian dibangkitkan kembali dalam teriakan-teriakan kehilangan.

Berbicara tentang Timur Tengah, seperti berbicara dalam sebuah ruangan kosong yang selalu memantulkan gema suara kita sendiri. Tak ada yang baru di sana, kecuali kemanusiaan yang terus menerus  mengelupas dan berganti kulit dalam rintih kepahitan di gurung-gurung tandus. Timur Tengah adalah wajah yang belum juga menyelesaikan pertengkarannya dengan diri sendiri. Sebuah wajah yang dibentuk dengan “separuh langit separuh bumi” dan tak mampu terdamaikan itu.

Barangkali inilah yang bisa menjelaskan mengapa akhir-akhir ini Timur Tengah kembali menemui “takdir” dari wajahnya tak pernah selesai itu. Cerita panjang tentang “darah yang mengalir” seperti cerita tentang terbit dan terbenamnya matahari di padang sahara tersebut. Gempa “identitas” diri di tengah sebuah lintasan ideologi yang membelit serta tarikan masa silam yang menganga dalam mimpi-mimpi yang juga tak pernah selesai.

Memang, dalam ruang kisah seperti itu, Timur Tengah seperti senantiasa memasang banyak “kecurigaan” dalam menerjemahkan keberadaan dirinya. Di sana, orang-orang mau tak mau, hanya mengenal “hitam dan putih”. Riwayat yang terlampir dalam kisah keberadaannya yang telah demikian tua itu, adalah “pertarungan demi pertarungan”. Di Timur Tengah, riwayat tempat ini seperti semacam “wahana permainan” berbagai  ortodoksi masa silam, bercampur dengan ideology modern yang dimanipulasi oleh dunia barat sebagai kedok untuk menguasai semata”.

Dunia, bagaimana pun senantiasa melongok ke wilayah yang satu ini. Sumber-sumber energy minyak dunia tersebar di sana. Para aristokrat kemudian berpesta dalam petrodollar seraya mengagungkan masa silamnya di “langit” Inilah wilayah dengan keajaiban yang sempurna. Di mana paradoks dan ironi bergentayangan di jalan-jalan negeri yang “makmur” namun tak punya “jati diri” yang kuat. Di sana, orang tidak “marah” karena kemiskinan namun lebih pada hilangnya keteladanan serta mungkin “kebosanan” yang memuakkan.

Namun inilah ajaibnya Timur Tengah. Di mana dendam dan kemapanan hidup bersekutu untuk mengobarkan pergolakan. Orang-orang turun ke jalan meneriakkan sesuatu yang tak juga mereka pahami sepenuhnya. Rentetan senjata menyalak dan jeritan kematian di jalan-jalan  adalah sebuah pernyataan bahwa di sana, di  Timur Tengah saat ini menjadi sebuah “laboratorium” dari “tangan-tangan besar”  dari belahan dunia barat.

Di Timur Tengah, sejarah memang berulangkali dibunuh dan kemudian bangkit lagi. Riwayat kemanusiaan menjadi semacam “dongeng” yang hanya muncul pada ritual-riual keagamaan. Orang-orang ingin bertemu pada “akar” kesejatiaannya di sana. Seperti lirih panjang kerinduan dari sebuah riwayat yang penuh “darah dan air mata”. Di sinilah, di wilayah inilah, kemanusiaan memang senantiasa dipertaruhkan atas nama “langit dan bumi”. Tempat di mana Tuhan berkenan “bersuara”***
Diberdayakan oleh Blogger.