Bola, Histeria, Katarsis dan Multikulturalisme


Dalam minggu-minggu terakhir ini, bisa dikatakan bila hampir seluruh energi perhatian serta gerak emosional kita bakal tersedot oleh pesta perayaan sepak bola “Piala Eropa tahun 2012” di Polandia dan Ukraina. Pada kotak persegi panjang  yang disebut lapangan tersebut, mata dunia seperti tersihir di sana. Daya pukau yang disajikan oleh 22 orang laki-laki yang berlarian serta memainkan si “kulit bundar” seakan-akan mampu mengaduk-ngaduk seluruh emosional kita. Di sana, kita benar-benar menjadi histeria, berteriak-teriak, memaki, namun juga berpelukan. Dengan bahasa lain, inilah “dunia” di mana kita benar-benar menemui diri dan orang lain dalam tarikan “gravitasi” yang bergerak demikian cepat. Luar biasanya, daya “tarik-menarik” sekaligus “tolak-menolak” ini tersedot dalam sebuah kotak yang dinamakan lapangan tersebut.

Terus terang, saya tak memahami secara penuh mengapa dunia demikian “mencintai” permainan sepak bola ini. Saya juga tak tahu, sejak kapan fenomena “histeria” massal menjadi salah satu bagian yang hadir dalam seluruh atmosfir permainan ini. Namun yang pasti, kecintaan serta histeria yang mengiringinya bukanlah lahir dari “sulapan” peradaban dan budaya semata. Fenomena ini bagaimana pun adalah sebuah pembacaan terhadap realitas eksistensi kemanusiaan kita yang jauh mengakar pada nilai-nilai yang dianut bersama. Sebuah nilai di mana eksistensi kemanusiaan kita memang berasal dari “wadah” yang sama.

Sigmun Freud, seorang psikoanalisis ternama itu bisa sedikit menjelaskan tentang bagaimana histeria yang merupakan “letupan” bawah sadar kita itu mampu menegakkan sebuah “dunia” yang sebenarnya enggan kita tampilkan dalam realitas keseharian. Dalam psikoanalisa Freud, psikis manusia itu terbelah dalam sekat yang dinamankannya ego, super ego dan id. Dalam lapisan-lapisan psikis inilah manusia “berdealektik” dengan diri dan lingkungannya. Pada realitas keseharian, manusia telah berhasil membangun sebuah “dunia buatan”. Dengan menekan naluri-naluri primitifnya ke alam bawah dasar serta melakukan mekanisme psikologis yang disebut sublimasi itu, manusia membangun “dunia realitasnya”.

Namun bagaimana pun, naluri dasar yang ditekan jauh tersebut sekali waktu akan bisa “meletup” bila sebuah kondisi memberi ruang untuk kemunculannya kembali. Salah satu letupannya adalah histeria tersebut. Semacam trance yang menjadikan psikis manusia mampu melakukan “penjalanan pulang-balik” diantara dimensi ego, super ego dan id tersebut. Atau dalam istilah Jean Baudrillard, filsuf Prancis mutakhir ini, adalah sebuah gerak “retroaktif”.

Dalam bingkai inilah kita bisa sedikit menjelaskan bagaimana sebuah permainan sepak bola yang dalam logika kita cenderung “aneh” dan “lucu” itu mampu menjadikan sebagian besar kita berada dalam kondisi histeria bersama?  Di sebut “aneh” dan “lucu” karena bagaimana mungkin manusia yang mengklain dirinya sangat rasional itu bisa tersihir oleh 22 laki-laki yang berlarian di lapangan mengejar sebuah benda yang bernama bola? Bagaimana mungkin kita mampu berjingkrak-jingkrak, berpelukan dan berteriak kesetanan oleh ulah 22 laki-laki tersebut?.

Karena dalam sedotan kondisi itulah kita mampu melakukan semacam “perjalanan pulang-balik” naluri-naluri dasariah kemanusiaan kita, yang apa bila dilakukan “di luar dunia” itu pastilah kita di cap “abnormal”. Inilah sebuah dunia “pelepasan” kemurnian kemanusiaan kita yang dalam tradisi Yunani kerap dinamakan “katarsis”.  Pada situasi inilah, kita mampu menemui saling bertemu dalam “warna-warni” perbedaan namun ditarik dalam sebuah gelombang yang sama.  Bagaimana tidak, dalam permainan sepak bola inilah, segala jenis perbedaan dan promordialitas manusia demikian ditegakkan. Dan pada permainan inilah sekat “kami dan mereka” demikian menganga.

Namun justru pada dalam permainan ini pulalah, perbedaan itu demikian dirayakan dengan nilai-nilai yang sama. Dalam sedotan histeria dan perbedaan itulah kita seakan merayakan kebersamaan itu. Sebuah permainan yang “lucu”, “aneh” namun demikian menggetarkan. Di sana multikulturalisme bertemu dan dirayakan dengan begitu gempita***
Diberdayakan oleh Blogger.