Ketika Taman Kota Berbicara


Dari mana sebuah taman kota berasal ? Terus terang saya kurang tahu. Namun agaknya,  sejarah taman kota senantiasa menyimpan banyak “pengucapan”. Semacam sebuah tempat yang selalu mengindenfitikasi diri dalam ruang-ruang dalam tradisi “romatisme” yang panjang.  Barangkali, kehadiran sebuah taman di tengah kota, awalnya sekadar “perlawanan” terhadap wajah kota yang semakin lama semakin tak lagi menyisakan ruang untuk “pertemuan-pertemuan” jiwa. Para ahli perkotaan mungkin menyebutnya sebagai “ruang publik”. Sebuah ruang di mana persentuhan kemanusiaan kita masih memiliki “akar” yang murni dengan alam sekitar. Dengan kata lain, sebuah taman memang adalah sebuah “napak tilas” sederhana dengan jiwa kemanusiaan kita dengan segala keterpautan sejatinya dengan semesta ini.

Dalam sebuah kota yang pola hubungan masyarakatnya demikian artificial, taman kota seperti sebuah tempat yang aneh dan terasing. Saya pernah menyaksikan sebuah taman kota yang demikian rapuh seperti ini. Di sana, kehadirannya seperti demikian di paksakan. Memasuki taman ini seperti memasuki sebuah peradaban yang telah runtuh. Kesunyian yang ditimbulkannya, bukanlah kesunyian yang bersifat kontemplatif. Namun sebuah kesunyian yang ditimbulkan oleh semacam “pembusukan” karena jiwa-jiwa kemanusian tak lagi banyak berbicara di sana. Di taman kota seperti ini, keberadaannya memang hanyalah sekedar pemenuhan terhadap “kewajiban” pemerintahan kota untuk menghadirkan ruang hijau kota semata.

Namun bagaimana pun sebuah taman adalah sebuah “pengucapan”. Dalam sebuah taman, cuaca memang senantiasa menghadirkan sejenis keramahan yang menentramkan. Rimbun hijau pohanan, suara denyut angin dan kepak sayap burung dikejauhan adalah rangkaian “penghubung” kita dengan nilai-nilai “purba” kemanusiaan kita. Dalan sebuah taman, kita seperti memperoleh semacam “peneguhan” kembali dengan sebentuk kerinduan yang sederhana. Kerinduan akan sesuatu yang melampaui persoalan tetek bengek keseharian yang kadang demikian menguras kemanusiaan kita. Dalam sebuah taman, kita seperti “hijrah” sejenak  dari gempuran realitas hidup yang kebanyakan “membunuh” jiwa dan melemparkan kita menjadi hanya sederet statistic dalam sebuah kota yang hanya memandang suatu hubungan hanya berdasar “kepentingan dan keuntungan”.

Sebuah taman memang banyak memberi kita “dunia” yang dapat menyambungkan kita dengan keutuhan kemanusiaan kita. Dalam istilah Nietzsche, filsuf Martil dari Jerman itu, Sebuah taman “dataran tinggi”, tempat kita mampu bernapas dalam kemurnian kemanusiaan kita. Tempat di mana kita mampu mengambil jarak dengan realitas dan kemudian membedakan yang mana kepalsuan dan mana kemurnian hidup. Di sinilah tempat di mana kita bisa menyambungkan kembali “ari-ari” kemanusiaan kita dan kembali “ke rahim” hidup yang masih murni.

Barangkali, memang taman senantiasa ingin berbicara dengan kita. Namun tak semua kota mengharapkan kehadirannya. Dia kerap dikalahkan oleh “gegap gempita”nya Mall serta aneka “duplikasi taman” yang sebenarnya hanyalah bentuk lain dari “mantra konsumerisme”. Taman yang telah “dibajak” oleh investor untuk menghipnotis selera rendah kita. Tak setiap kota memang mengharapkan kehadiran sebuah taman yang selalu dianggap “aneh” itu. Karena, dalam “otak” kota yang hanya melihat setiap lahan adalah “uang”, maka kehadiran sebuah taman adalah “cabul” karena tak “menguntungkan” sama sekali.***
Diberdayakan oleh Blogger.