Melodramatik Hujan


Sejak kapan hujan mampu meletakkan kita dalam riwayat-riwayat melodramatik? Jujur saya tidak tahu akan hal itu. Sejarah tentang hujan, pada dunia yang demikian bercorak positivisme seperti saat ini, kurang lebih hanya “ditandai” sebagai sebuah fenomena alam belaka. “Peta” yang tergambar di sana memang benar-benar sekadar “memerangkap” hujan dalam sebuah kurungan fungsionalistik semata. Pada bingkai seperti ini, kita melepaskannya menjadi hanya sekadar “sifat”. Di sana, hujan tak menunjuk apa-apa dan siapa-siapa, karena ilmu pengetahuan telah telah “mematahkan sayapnya” dalam ranah hubungan kausalitas semata-mata. Tak ada dialektika, apalagi transformasi di sana.

Lalu hujan pun –dalam takaran A. Comte—seperti kehilangan ruang “pengucapannya” sendiri. Positivisme telah menggiringnya dalam “laboratorium” untuk dibedah dalam ruang “hampa udara”. Di sana, “mutilasi” hujan telah dilakukan dengan rigid dan demikian sempurna, sehingga tak ada yang tersisa kecuali hanya menunjuk pada sebuah komponen yang bernama H2O semata. Barangkali, inilah sebuah kisah  tentang bagaimana hujan telah tersungkur menjadi hanya sebuah “ironi” di mana kekuatan “sihir” telah dimusnahkan oleh “bahasa orang sekolahan” itu.

Dalam kurun panjang sejarah tentang penghadiran hujan dalam dialektika serta transformasi relasinya dengan manusia, hujan adalah “sumber kehidupan”. Kehadiran hujan itu sendiri merupakan nucleus yang menandakan kehidupan itu sendiri. Benih-benih hidup dan rangkaian prosesi kehidupan senantiasa terbungkus dalam dialektika tersebut. Tidak mengherankan bila lompatan rantai eksistensi kemanusiaan kita tidak terlepas dari sana. Kebudayaan bercocok tanam dari nenek moyang kita merupakan awal dari persentuhan “spiritual” kita dengan hujan. Inilah masa dimana kita mulai menemukan “kesadaran” itu sendiri dan memutus “rantai” evolusinya Darwin. Sebuah “kesadaran” di mana Prometheus rela mendapat hukuman para Dewa karena telah mencurinya untuk kepentingan manusia seperti yang tertuang dalam mitologi Yunani itu.

Dengan demikian, hujan tidak hanya jatuh sebagai pertanda H2O semata. Bukan pula hanya sekedar rangkaian proses kimiawi alam dalam siklus perubahan musim. Hujan adalah “nyanyian hidup”. Sebuah perayaan atas kemenangan kehidupan di hadapan tanda-tanda kehancuran. Di sini, hujan adalah sejenis senyuman, sebuah kegembiraan atas hidup. Seorang ibu yang merangkul dan merawat benih-benih kehidupan. Dengan bahasa lain, hujan adalah cinta itu sendiri.

Inilah yang bisa menjelaskan mengapa hujan demikian “hidup” dalam ruang-ruang pegucapan  kebudayaan kita dahulu. Menjadi bagian yang tak terpisahkan dari rangkaian aktivitas berkebudayaan serta ritual spiritualitas nenek moyang kita dahulu. Mantra-mantra pemanggil hujan, serta pawang hujan adalah salah satu rantai yang bisa menjelaskan bagaimana pola interaksi dan relasi kita di sana. Semua itu mempertegas bila manusia dan hujan pernah membangun pola “komunikasi” yang demikian karib.  Namun semakin lama, pola itu semakin tergerus oleh jarak yang memperlakukan hujan hanya sebagai gejala alam semata.
 
Tapi agaknya, bagaimana pun, jejak “kehidupan” yang pernah ditorehkan tentang bagaimana dahulu kita membangun pola relasi dengan hujan masih tetap menyisakan ruang untuk menghadirkan dirinya. Pola hubungan itu masih kita rasakan dari pengucapan-pengucapan puitik seorang penyair. Barangkali, karena dalam diri seorang penyairlah, relasi komunikasi itu masih terawat. Pada diri penyairlah, pengalaman dan pertemuan-pertemuan puitik  dengan hujan masih demikian intens. Ini barangkali dikarenakan seorang penyair masih menyisakan “ruang” pada kesadarannya untuk senantiasa berdialektika dan melakukan transformasi dengan dimensi-dimensi hidup dalam arti yang masih murni. Dengan kata lain, lewat penyairlah kita masih merasakan nyanyian kerinduan itu. Lewat penyairlah kita masih menemukan melodramatik hujan dalam pengucapan-pengucapan puitiknya.***
Diberdayakan oleh Blogger.