Membincangkan Kembali Indonesia



Di suatu tempat terpencil di pojok  timur pulau Kalimantan, saya pernah mengalami semacam “kelahiran kembali” sebagai orang Indonesia. Peristiwa ini sebenarnya terbilang sederhana. Ketika melakukan tugas peliputan majalah di sebuah desa adat, saya sempat berbincang kecil dengan seorang perempuan tua yang  saat itu tengah menyiapkan sebuah pesta adat. Garis-garis wajah ketuaannya nyaris terlihat melapuk. Lengannya selalu gemetar ketika digerakkan dengan kelambanan yang hampir membuat kita putus asa melihatnya. Namun cahaya pada matanya itulah yang sangat mempesona. Dalam cahaya itu, saya seperti menemukan “passion” yang tak pernah padam.

Kami berbincang kecil di sana. Tepatnya barangkali, sayalah yang berbincang dengan diri sendiri, karena perempuan tua itu sebenarnya lebih banyak tersenyum dan menjawab pertanyaanku dengan tatapan. Dia hanya menggeleng kecil ketika saya bertanya berapa usianya. Sedari kecil, perempuan tua itu tak pernah ke mana-mana selain di desanya. Dia hanya mengatakan bahwa ketika kecil, hutan tempat masyarakat desanya menggantungkan hidup, masih demikian "semarak". Dia juga hanya tahu bahwa ketika kecil, alam masih demikian “tersenyum” ketika di sapa.

Namun yang menarik dari percakapan kami adalah ketika saya menanyakan sesuatu yang sempat membuatnya kaget. Saat itu saya menanyakan, apakah dia "mengenal" Indonesia. Tatapan mata perempuan tua itu terlihat semakin menajam. Tapi juga saya menangkap ada nuansa keheranan dari pertanyaan saya itu. Dia menjawab pelan, seperti berguman bila dia tak mengetahui sepenuhnya siapa dan apa Indonesia itu. Yang dia rasakan adalah ketika orang menyebut kata Indonesia, di sana ada sebuah getaran kecil. Mungkin perempuan tua itu ingin menyebut getaran itu adalah sebuah “harapan”. Semacam mimpi yang selalu mendatanginya untuk memberinya “harapan” akan kehidupan yang lebih baik. Dan yang lebih mempesona lagi adalah karena perempuan tua itu demikian percaya dengan “harapan” tersebut. Katanya, di suatu hari kelak, Indonesia akan menemui dia dan menggenapkan harapannya tersebut. Kalau pun tidak, Indonesia pasti akan menemui anak-cucunya kelak.

Terus terang, percakapan kecil dengan perempuan tua ini tak seluruhnya dapat kusimak dengan benar. Tapi yang pasti, saya seperti mengalami “detak”  yang cukup mengharukan. Sepertinya  pertemuan ini merupakan “tamparan” langsung bagaimana melihat keindonesiaan saya dalam sebuah keseharian. Tentang bagaimana  kita mengindonesia, dan sekaligus Indonesia menjadi diri kita. Percakapan kecil ini seperti memberi saya “makanan bergizi” tentang sebuah nilai keindonesiaan dalam arti yang paling fundamental. Ini semacam “rendezvous” bagaimana para founding fathers kita mengalami peristiwa keindonesiaan itu.

Bahwa barangkali kita tak mengenal dan mengerti sepenuhnya nilai-nilai yang tumbuh dalam keindonesiaan kita. Bahkan pada periode tertentu, kita kerap merasakan semacam “kehilangan” Indonesia. Dalam keseharian, relasi-relasi yang terbangun diantara kita kerap “ditampar” oleh semangat saling “memakan” sesama anak bangsa. Ketidak pedulian serta sikap mementingkan diri sendri menjadi santapan keseharian kita. “Homo homonym lupus”, serigala memangsa serigala, demikian kata filsuf Thomas Hobbes. Dan itu membuat kita kadang kehilangan “harapan”.

Tapi perempuan tua di pojok timur pulau Kalimantan itu tetap menyimpan sebuah “harapan”. Menyimpan getaran Indonesia di dalam mimpi-mimpinya. Mengalirkannya lewat keseharian yang demikian bersahaja namun menghujam pada jantung nilai kebangsaan yang sejati. Memang perempuan tua itu tak mengenal Indonesia sepenuhnya. Kata itu pasti sangat jarang atau bahkan nyaris tak pernah keluar dari mulutnya yang sudah sangat rapuh itu. Namun getaran keindonesiaan dalam dirinya demikian dahsyat. Menjadikan Indonesia bagian dari kita dan kita bagian dari Indonesia.***
Diberdayakan oleh Blogger.